Penyuluh Jembrana Jembatani Inovasi Kampus Ke Petani
Peran penyuluh pertanian sebagai penghubung inovasi kembali terlihat di Jembrana. Berkolaborasi dengan Universitas Warmadewa, penyuluh mendampingi petani Subak Mertasari mengolah limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik bernutrisi tinggi untuk mendukung produktivitas lahan yang semakin intensif.
Penyuluh Jembrana Jembatani Inovasi Kampus ke Petani
JEMBRANA – Peran penyuluh pertanian sebagai penghubung inovasi kembali terlihat di lapangan. Selama dua hari, 1–2 Juni 2026, penyuluh pertanian Kabupaten Jembrana berkolaborasi dengan Universitas Warmadewa mendampingi petani Subak Mertasari, Kelurahan Loloan Timur, menguasai teknologi pembuatan pupuk organik berbasis limbah kotoran sapi yang diperkaya nutrisi. Melalui pendampingan teori dan praktik, inovasi yang lahir dari kampus diharapkan dapat diterapkan langsung petani untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dikemas dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Peningkatan Nutrisi Pupuk Organik Berbasis Limbah Kotoran Sapi”. Selain melibatkan petani anggota Subak Mertasari, mahasiswa, dan tim akademisi Universitas Warmadewa, kegiatan ini juga mendapat pendampingan intensif dari dua PPL BPP Jembrana, Rahma Ciptaningrum, SP. dan Evik Andiharta, S.ST. Keduanya berperan menghubungkan inovasi kampus dengan kebutuhan petani di lapangan sehingga teknologi yang diperkenalkan dapat langsung diterapkan.
Tim pengabdi dipimpin Prof. Dr. Ir. Yohanes Parlindungan Situmeang, M.Si. dan Dr. Ir. Ida Bagus Komang Mahardika, M.Si. bersama para penyuluh, mereka menghadirkan transfer teknologi yang dapat langsung diterapkan petani untuk memanfaatkan sumber daya lokal menjadi pupuk organik berkualitas.
Dalam kegiatan tersebut, petani memperoleh materi mengenai teknik pengolahan limbah kotoran sapi, metode pengomposan yang baik, pemanfaatan biochar, penggunaan EM4 dan molase, hingga teknik pengayaan pupuk organik menggunakan pupuk NPK dosis rendah guna meningkatkan kandungan unsur hara.
Tidak berhenti pada penyampaian teori, penyuluh dan tim akademisi juga mengajak petani melakukan praktik langsung. Petani dilatih mencampur bahan baku berupa kotoran sapi, jerami, biochar sekam padi, kapur pertanian, EM4, molase, dan pupuk NPK sesuai standar operasional yang telah disusun tim pengabdi.
Pendampingan diberikan secara menyeluruh, mulai dari proses fermentasi, pengaturan kelembapan, pembalikan kompos, hingga pengenalan indikator mutu pupuk organik yang siap diaplikasikan di lahan. Melalui metode belajar langsung di lapangan, petani diharapkan mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dinilai sangat relevan dengan tantangan pertanian yang dihadapi petani saat ini. Di Subak Mertasari, intensitas tanam terus meningkat. Jika sebelumnya petani menerapkan indeks pertanaman (IP) sekitar 150, kini telah berkembang hingga melampaui IP 200. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan unsur hara yang lebih besar agar produktivitas lahan tetap terjaga.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, penyuluh pertanian, pemerintah, dan petani menjadi penting dalam menghadirkan solusi yang mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik dipandang sebagai salah satu alternatif yang efektif karena bahan bakunya mudah diperoleh di lingkungan sekitar petani.
Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, penggunaan pupuk organik juga mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dengan kondisi tanah yang lebih sehat, produktivitas pertanian dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam jangka panjang.
Kepala Lingkungan Mertasari, Yoga Mahandika, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi dan penyuluh pertanian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat petani.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat karena petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar menjadi pupuk organik berkualitas. Selain lebih hemat, cara ini juga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya pemberdayaan petani dalam menghadapi tantangan pembangunan pertanian ke depan.
Melalui kegiatan ini, penyuluh pertanian kembali menegaskan perannya sebagai penghubung inovasi antara dunia akademik dan petani. Teknologi yang lahir dari kampus tidak hanya menjadi kajian ilmiah, tetapi dapat diterapkan langsung di lapangan untuk menjawab kebutuhan petani. Hasilnya, petani tidak hanya mampu mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik bernutrisi tinggi, tetapi juga semakin memahami pentingnya pertanian berkelanjutan yang menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi dan kelestarian sumber daya alam.
Koresponden: Rahma Ciptaningrum
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0