Di Antara Vila, Nyoman Suanda Tetap Menanam
Di tengah deretan vila dan bangunan yang terus tumbuh di kawasan Seminyak, hamparan padi masih bertahan di sebagian kecil lahan yang tersisa. Di sana, I Nyoman Suanda (71) tetap turun ke sawah, mengolah tanah, menanam, hingga memanen sendiri. Di saat banyak lahan pertanian berubah fungsi, ia memilih tetap menjaga sawahnya tetap hidup.
Di Antara Vila, Nyoman Suanda Tetap Menanam
Wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, memiliki potret pertanian yang berbeda. Di tengah pesatnya pertumbuhan perumahan, vila, dan kawasan penunjang pariwisata, hamparan padi perlahan semakin terdesak oleh pembangunan.
Meski demikian, masih ada petani yang memilih tetap setia mengolah tanah warisan. Salah satunya I Nyoman Suanda, 71, petani asal Banjar Campuhan yang hingga kini masih menggarap areal pertaniannya di Subak Seminyak.
Dari total kepemilikan 38 are, sekitar 33 are masih ditanami padi. Di usia yang tak lagi muda, Suanda masih turun langsung mengurus hampir seluruh proses budidaya.
Mulai dari membajak menggunakan traktor, menanam, hingga memanen hasil dilakukan dengan tenaganya sendiri. Rutinitas tersebut tetap dijalaninya di tengah areal pertanian yang perlahan menyempit diapit bangunan-bangunan baru.
Bagi Suanda, tanah garapan itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ada perjalanan hidup panjang yang telah melekat selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari kesehariannya.
Keteguhan yang dijalaninya juga memperlihatkan bahwa pertanian di kawasan perkotaan masih memiliki peluang untuk terus tumbuh.
Belum lama ini, tim penyuluh pertanian BPP Kuta Utara yang dikomandoi Koordinator BPP Kecamatan Kuta Utara, Ketut Alit Sabda Utama, SP., melakukan ubinan di areal yang dikelola Suanda.
Hasilnya cukup menggembirakan. Berat ubinan mencapai 4,73 kilogram dengan estimasi produksi sekitar 7.568 kilogram atau 7,568 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
Jika dikonversi menjadi Gabah Kering Giling (GKG), hasil panen diperkirakan mencapai sekitar 6.508 kilogram atau 6,508 ton per hektare.
Penyuluh pertanian wilayah binaan, NBG Surya Darma Triadiputra, S.P., menilai sosok I Nyoman Suanda mencerminkan ketekunan petani yang tetap menjaga aktivitas budidaya di tengah derasnya alih fungsi lahan di kawasan Kuta Utara.
Menurutnya, meski area pertanian di sekitar Subak Seminyak semakin terhimpit pembangunan, para petani masih menunjukkan dedikasi dalam mempertahankan usaha taninya.
“Pak Suanda menjadi contoh keteladanan petani yang luar biasa. Di usia 71 tahun beliau masih mengerjakan sendiri aktivitas budidayanya, mulai dari tanam hingga panen. Ini menunjukkan bahwa bertani bukan soal usia, tetapi tentang ketekunan dan kecintaan terhadap pekerjaan yang dijalani,” ujarnya.
Surya menambahkan, capaian ubinan varietas Ciherang sebesar 7,568 ton GKP per hektare membuktikan areal pertanian yang tersisa di kawasan perkotaan masih mampu menghasilkan panen yang baik apabila dikelola secara optimal.
Sementara itu, Ketut Alit Sabda Utama menyebut hasil tersebut memperlihatkan potensi pertanian di Kuta Utara masih cukup menjanjikan.
"Petani yang tetap menggarap lahannya di tengah tekanan alih fungsi seperti ini perlu mendapat dukungan bersama agar keberadaan pertanian tetap terjaga," katanya.
Di sela deretan vila yang terus bertambah, langkah Suanda mungkin tidak lagi secepat dulu. Namun keteguhannya menjaga tanah garapan belum ikut menua. Sebab selama masih ada tangan yang menanam, harapan di hamparan padi akan terus tumbuh.
Koresponden: Alit-Surya BPP Kuta utara - Badung
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1