Mete Buleleng Menjanjikan, Hama dan Hilirisasi Jadi PR

Di balik hamparan kebun mete yang tumbuh di lahan kering Buleleng, tersimpan potensi ekonomi yang cukup besar. Namun, petani masih harus berjibaku menghadapi serangan hama penyakit dan belum optimalnya pengolahan hasil yang menahan peningkatan nilai tambah.

May 28, 2026 - 03:52
May 28, 2026 - 03:55
 0  48
Mete Buleleng Menjanjikan, Hama dan Hilirisasi Jadi PR

Mete Buleleng Menjanjikan, Hama dan Hilirisasi Jadi PR

Hamparan kebun jambu mete di sejumlah wilayah Kabupaten Buleleng menyimpan potensi ekonomi yang cukup menjanjikan. Komoditas perkebunan ini banyak berkembang di Kecamatan Kubutambahan, Kecamatan Tejakula, Kecamatan Busungbiu, hingga Kecamatan Gerokgak. Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Sejumlah persoalan di tingkat budidaya hingga pascapanen masih membayangi.

Di Buleleng, areal pengembangan jambu mete diperkirakan mencapai sekitar 250 hektare yang dikelola sekitar 19 kelompok tani dan subak abian. Komoditas ini menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat, khususnya di wilayah lahan kering yang selama ini cocok untuk pengembangan tanaman mete.

Di tengah potensi tersebut, petani mengaku masih menghadapi permasalahan serius. Kelian Subak Abian Kerta Yadnya Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Komang Kokong, mengatakan kelompoknya yang beranggotakan 28 orang hingga kini masih menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah kepada pengepul.

Hasil panen petani saat ini dijual dengan kisaran harga Rp12 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas dan kondisi pasar. Ketergantungan pada pengepul menyebabkan nilai tambah yang diterima petani belum maksimal.

"Selama ini hasil panen kami masih dijual ke pengepul. Buahnya juga belum bisa diolah lebih lanjut," tutur Komang Kokong saat berbincang dengan media Perhiptani melalui sambungan telepon, Rabu malam (27/5).

Alasan lain yang paling banyak dikeluhkan petani adalah serangan hama dan penyakit yang secara langsung mengganggu produktivitas tanaman. Serangan tersebut bahkan dinilai menjadi ancaman yang lebih terasa karena dapat menekan hasil panen dalam waktu singkat.

Hama dan penyakit yang paling membahayakan tanaman jambu mete di antaranya Kepik Penghisap Pucuk (Helopeltis antonii) serta penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) . Gangguan kedua ini dapat menyerang pucuk muda, bunga hingga buah tanaman mete.

Saat serangan terjadi, pucuk tanaman bisa mengering, bunga rontok, dan buah mengalami kerusakan sehingga produksi turun drastis. Dalam kondisi serangan berat, hasil panen petani dapat mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Di sisi lain, persoalan hilirisasi juga masih menjadi pekerjaan rumah. Selama ini petani belum banyak melakukan pengolahan produk turunan sehingga potensi ekonomi dari jambu mete belum tergarap optimal. Padahal selain biji mete, bagian buah semu juga memiliki peluang diolah menjadi produk bernilai tambah seperti minuman, manisan hingga olahan pangan lainnya.

Penguatan pendampingan budidaya, pengendalian hama penyakit, hingga peningkatan kapasitas pengolahan pascapanen dinilai menjadi langkah penting agar potensi jambu mete di Buleleng tidak hanya menghentikan produksi bahan mentah, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan petani.

Koresponden : Agus Satria BPP Tejakula Buleleng

Editor: Jikwid

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1