Sanur Tak Hanya Wisata, Panen Tembus 12,92 Ton/Ha

Di tengah tekanan alih fungsi lahan, petani Subak Intaran justru mencetak produktivitas tinggi. Peran penyuluh jadi kunci di balik capaian ini.

Apr 10, 2026 - 00:01
 0  5
Sanur Tak Hanya Wisata, Panen Tembus 12,92 Ton/Ha

Sanur Tak Hanya Wisata, Panen Tembus 12,92 Ton/Ha

Di tengah kepungan bangunan dan pesatnya geliat pariwisata Sanur, denyut kehidupan pertanian ternyata belum padam. Bahkan, dari lahan yang kian terjepit, petani justru mampu menunjukkan hasil panen yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Itulah yang terlihat di Subak Intaran Timur dan Subak Intaran Barat, Kecamatan Denpasar Selatan. Pertengahan April ini, hamparan padi menguning menjadi saksi kerja keras petani yang berbuah manis. Melalui ubinan mandiri, produktivitas padi di kawasan ini bahkan menembus angka 12,92 ton per hektare gabah kering panen (GKP).

Di Subak Intaran Timur, Gusi Wayan Sudana tak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Varietas Pandan Wangi yang ia tanam menghasilkan ubinan 8,075 kg. Angka itu setara dengan produktivitas 12,92 ton per hektare. “Astungkara hasilnya bagus. Ini berkat perawatan dan air yang cukup,” ujarnya dengan wajah sumringah.

Tak jauh berbeda, Antonius Eka Saputra juga mencatat hasil menggembirakan. Dengan varietas Ciherang, ia memperoleh 6,666 kg ubinan atau setara 10,64 ton per hektare GKP.

Sementara itu di Subak Intaran Barat, hasil panen juga tak kalah moncer. Gusi Putu Puja mencatat 6,600 kg ubinan (9,6 ton/ha GKP) dari varietas Ciherang. Sedangkan I Made Lacin melalui varietas Pandan Wangi mampu mencapai 7,190 kg atau 11,5 ton per hektare GKP.

Di balik capaian ini, ada peran penyuluh pertanian yang terus setia mendampingi petani di lapangan. Muhammad David Hermawan, S.P., sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) wilayah Sanur Kaja, Sanur, dan Sanur Kauh, menjadi motor penggerak kegiatan ubinan sekaligus pendampingan budidaya.

“Petani di sini sudah semakin paham pentingnya pola tanam yang baik, pemupukan berimbang, dan pengelolaan air subak. Itu yang membuat hasilnya terus meningkat,” jelasnya.

Kegiatan ubinan ini juga melibatkan jajaran penyuluh BPP Denpasar Selatan, penyuluh BBRMP, krama subak, hingga unsur Bhabinkamtibmas. Suasana kebersamaan terlihat kuat, mencerminkan sinergi yang terbangun di tingkat lapangan.

Hal senada disampaikan renkan penyulu, drh. Man Hetik, S.KH. Ia menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses pendampingan yang berkelanjutan. “Penyuluh secara konsisten mendorong petani untuk menerapkan teknologi budidaya yang tepat. Hasilnya kini dapat terlihat secara nyata,” ujarnya.

Pekaseh Subak Intaran Barat, Wayan Danu, turut mengapresiasi hasil panen yang dicapai krama subak. Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari kekompakan petani dalam menjaga pola tanam dan sistem pengairan subak.

“Krama subak tetap disiplin mengikuti awig-awig, terutama dalam pengaturan air dan jadwal tanam. Itu yang membuat hasil panen bisa merata dan meningkat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, keberadaan penyuluh pertanian sangat membantu petani dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. “Pendampingan dari penyuluh sangat kami rasakan manfaatnya, terutama dalam penerapan teknologi budidaya dan pengendalian hama,” imbuhnya.

Menurutnya, ubinan mandiri bukan hanya soal angka produksi. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama antara petani dan penyuluh untuk terus memperbaiki praktik budidaya.

Capaian ini menjadi bukti bahwa pertanian di kawasan perkotaan masih memiliki ruang untuk berkembang. Dengan pendampingan penyuluh yang berkelanjutan dan komitmen petani menjaga pola budidaya, produktivitas padi di Sanur diyakini masih bisa terus ditingkatkan. Subak sebagai warisan budaya Bali pun kembali menunjukkan perannya, tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menopang ketahanan pangan di tengah dinamika kota. (JikWid/Ristiani)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0