Baru Diuji, Arkansas Sudah Menular ke Petani

Metode Arkansas mulai mencuri perhatian petani di Jembrana. Demplot padi di Subak Tegaljati tak hanya menunjukkan pertumbuhan tanaman yang menjanjikan, tetapi juga mulai memantik petani lain untuk ikut menerapkan pola budidaya tersebut demi mendongkrak produktivitas.

May 21, 2026 - 08:53
May 21, 2026 - 08:55
 0  78
Baru Diuji, Arkansas Sudah Menular ke Petani

Baru Diuji, Arkansas Sudah Menular ke Petani

Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali tancap gas mengawal penerapan Program Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS). Melalui pengawalan demplot padi metode Arkansas di Subak Tegaljati, Kecamatan Negara, Rabu (20/5), inovasi budidaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif dan memantik optimisme petani untuk meningkatkan produktivitas.

Kegiatan tersebut melibatkan Tim Kerja Kabupaten Jembrana, Penyuluh Pertanian se-Kecamatan Negara, Kelsi Provinsi Bali, Kepala BRMP Provinsi Bali beserta jajaran, hingga perwakilan Subak Tegaljati dan pemilik lahan demplot. Sebanyak sembilan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Negara juga melakukan pengawalan dan pengamatan sebagai bagian dari pendampingan intensif di lapangan.

Demplot ini tidak sekadar menjadi lokasi uji coba, tetapi diarahkan sebagai sarana belajar bagi petani untuk melihat langsung penerapan teknologi budidaya yang berpotensi meningkatkan hasil panen.

Saat pengamatan dilakukan pada umur tanaman 15 hari setelah tanam (HST), pertumbuhan padi menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Tinggi tanaman rata-rata tercatat mencapai 23 sentimeter dengan kondisi pertumbuhan yang stabil.

Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Penyuluhan Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb. dalam arahannya kepada penyuluh mengatakan, Peran penyuluh sangat penting dalam mengawal proses penerapan teknologi di tingkat petani. “Pendampingan yang berkelanjutan akan mempercepat penerimaan inovasi sehingga produktivitas dapat meningkat secara optimal”, ujar Arya

Di awal pertumbuhan, petani sempat menghadapi tantangan berupa serangan hama keong sawah ketika tanaman memasuki umur tujuh HST. Namun berkat koordinasi yang cepat antara petani dan penyuluh pertanian, serangan tersebut berhasil mengendalikan sehingga tidak berdampak besar terhadap perkembangan tanaman.

Perkembangan demplot ini ternyata mulai menarik perhatian petani lain di kawasan Subak Tegaljati. Indikasinya mulai terlihat dari munculnya sekitar lima hektar lahan baru yang mulai menerapkan metode Arkansas secara mandiri.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP mengatakan, Demplot ini tidak hanya menguji metode budidaya, tetapi menjadi media belajar bagi petani. “Ketika inovasi mulai diikuti petani lain, berarti teknologi yang diterapkan telah memberikan keyakinan dan manfaat nyata di lapangan", tandas Rai disela melakukan pengamatan dan diskusi dengan para penyuluh pertanian di lokasi demplot.

Antusiasme tersebut dinilai menjadi sinyal positif bahwa inovasi pertanian dapat berkembang lebih cepat ketika petani melihat hasil nyata di lapangan.

Selain observasi tanaman, kegiatan juga diisi dengan diskusi teknis terkait pelaksanaan demplot, strategi pengendalian hama, hingga upaya intensifikasi pertanian untuk mencapai target produksi mencapai 10 ton gabah per hektare.

Sinergi petani, penyuluh, dan pemerintah diharapkan menjadikan demplot Arkansas sebagai model pengembangan pertanian modern yang efektif, berkelanjutan, sekaligus menjadi inspirasi bagi petani lain dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Jembrana. (JikWid/Widnyana)

What's Your Reaction?

Like Like 6
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1