Kelapa Pacung Naik Kelas, VCO Jadi Mesin Ekonomi Desa

Kelapa di Desa Pacung tak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Dengan pendampingan penyuluh pertanian, petani mulai didorong masuk ke hilirisasi melalui pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) yang memberi nilai tambah lebih besar.

May 22, 2026 - 06:13
 0  13
Kelapa Pacung Naik Kelas, VCO Jadi Mesin Ekonomi Desa

Kelapa Pacung Naik Kelas, VCO Jadi Mesin Ekonomi Desa

Kelapa yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk buah segar mulai diarahkan naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, kabupaten Buleleng, upaya hilirisasi komoditas kelapa terus dikawal penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tejakula, Buleleng, agar petani tidak hanya bertumpu pada penjualan hasil panen mentah.

Pendampingan dilakukan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Pacung, I Gede Carmaka, SP kepada petani I Nengah Radiana di Banjar Dinas Alasari yang tergabung dalam kelompok tani desa. Pendampingan tidak hanya menyasar teknik budidaya, tetapi juga mengarahkan petani untuk mengembangkan pengolahan hasil agar memiliki nilai tambah.

Hilirisasi kelapa dinilai menjadi salah satu langkah strategis meningkatkan pendapatan petani. Kelapa yang sebelumnya dijual dalam bentuk bahan baku kini dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti santan, arang tempurung, hingga Virgin Coconut Oil (VCO) yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di tingkat lapangan, penyuluh mengambil peran penting dalam mendampingi proses tersebut, mulai dari pengolahan, peningkatan kualitas produk, pengemasan hingga membuka akses pemasaran.

I Gede Carmaka mengatakan, pengembangan VCO di Desa Pacung masih dilakukan secara tradisional dengan melibatkan dua tenaga kerja. Proses pembuatannya menggunakan metode fermentasi alami tanpa pemanasan agar kualitas minyak tetap terjaga.

Proses dimulai dari pemilihan kelapa tua segar yang diparut, kemudian diperas menjadi santan. Santan tersebut selanjutnya didiamkan hingga terpisah secara alami menjadi beberapa lapisan. Minyak murni kemudian dipanen dari lapisan paling atas dan disaring hingga menghasilkan VCO yang jernih.

Produksi yang dihasilkan saat ini mencapai sekitar lima liter per hari. Untuk menghasilkan satu liter VCO dibutuhkan sekitar sepuluh butir kelapa tua.

"VCO yang diproduksi petani kini mulai dikemas dalam ukuran 100 mililiter dan 200 mililiter dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu. Pemasarannya juga tidak hanya dilakukan secara mandiri, tetapi diperkuat melalui kerja sama kemitraan dengan Bali Pure Organic agar produk petani memiliki akses pasar lebih luas," ujar Carmaka.

Menurutnya, pendampingan penyuluh tidak berhenti pada proses produksi. Ke depan, pengembangan komoditas kelapa juga diarahkan menuju sistem agribisnis yang lebih modern melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk hingga perluasan pasar.

Selain menghasilkan VCO, potensi hilirisasi kelapa juga membuka peluang pemanfaatan seluruh bagian tanaman. Daging buah dapat diolah menjadi santan dan minyak, tempurung menjadi arang aktif dan kerajinan, sementara sabut dapat dimanfaatkan menjadi serat, keset, tali hingga media tanam berupa cocopeat.

Katimker Kabupaten Buleleng, Made Sumetriani, M.P. menilai, hilirisasi bukan sekadar mengubah bentuk produk, tetapi juga menjadi upaya mendorong petani memperoleh nilai tambah lebih besar. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, hilirisasi kelapa di Desa Pacung diharapkan mampu memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mewujudkan pertanian yang lebih maju, mandiri, dan modern.

Koresponden: Agus Satria BPP Tejakula Buleleng

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1