KUAT Subak Guama Unjuk Taring, Pembina Pusat Salut
KUAT Subak Guama kembali menunjukkan kelasnya. Koperasi yang tumbuh dari sistem subak itu sukses membangun ekosistem agribisnis terintegrasi, dari penyediaan sarana produksi hingga pengolahan hasil, sehingga menuai apresiasi dari pembina pusat.
KUAT Subak Guama Unjuk Taring, Pembina Pusat Salut
Di tengah rangkaian monitoring dan evaluasi Koperasi Ekonomi Petani (KEP) di sejumlah kabupaten di Bali, mulai Tabanan, Badung, Buleleng hingga Gianyar, Tim Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP menyempatkan singgah ke salah satu ikon kelembagaan petani yang telah lama menjadi rujukan, yakni Koperasi Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT) Subak Guama.
Koperasi yang berdiri sejak 1 April 2002 itu tidak sekadar bertahan, tetapi terus berkembang menjadi model penguatan kelembagaan petani yang mampu membangun sistem agribisnis terintegrasi. Pertumbuhan tersebut juga terlihat dari capaian aset koperasi. Berdasarkan laporan terakhir per 30 November 2025, total aset Koperasi KUAT Subak Guama telah menembus Rp13,1 miliar.
Tim pembina pusat dipimpin Ir. Dwi Hayanti, M.Si., bersama Miranda Vionita, S.Ak., dari Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP. Kunjungan tersebut turut didampingi Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Penyuluhan Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb., beserta jajaran, Katim Kerja Kabupaten Tabanan Ir. I Made Widiada, M.P., Koordinator BPP Marga I Wayan Wiyasa, SP., dan para penyuluh pertanian wilayah binaan setempat.
Di hadapan tim pembina, Manajer KUAT Subak Guama I Wayan Atmajaya, SP., membeberkan perjalanan panjang sekaligus perkembangan berbagai unit usaha yang menjadi tulang punggung koperasi tersebut. Selama lebih dari dua dekade, KUAT Subak Guama terus memperluas perannya, tidak hanya sebagai wadah kelembagaan petani, tetapi juga menjadi pusat layanan agribisnis yang menopang aktivitas usaha tani anggotanya.
Sejak awal berdiri, KUAT Subak Guama mengembangkan sejumlah program unggulan, mulai Integrasi Sistem Padi-Ternak (ISPT) atau Crop Livestock System (CLS), Pengelolaan Tanaman Terpadu (Integrated Crop Management/ICM), layanan penyediaan sarana produksi pertanian, hingga kredit usaha mandiri berbasis simpan pinjam.
Pengembangan usaha juga terus diperluas melalui penangkaran benih padi, pengolahan kompos, Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA), hingga pengolahan beras yang menjadi sumber nilai tambah bagi petani.
Menurut I Wayan Atmajaya, keberadaan koperasi selama lebih dari 20 tahun bukan sekadar menjaga roda organisasi tetap berjalan, melainkan telah memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
"Sejak berdiri pada 1 April 2002 hingga sekarang, KUAT Subak Guama memberikan dampak sangat positif terhadap peningkatan hasil usaha petani sehingga kesejahteraan petani, khususnya di Subak Guama, menjadi lebih baik," ujarnya.
Ia menjelaskan, dari sisi pengembangan usaha, koperasi kini telah mampu memproduksi benih secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri maupun beberapa kabupaten lain di Bali.
Keberadaan koperasi juga mempermudah petani memperoleh berbagai kebutuhan sarana produksi, mulai dari benih, pupuk, pestisida hingga kebutuhan pertanian lainnya dengan sistem pembayaran setelah panen.
Paparan perkembangan usaha dan capaian yang diraih membuat Dwi Hayanti angkat jempol. Baginya, KUAT Subak Guama tidak hanya berhasil membangun kelembagaan petani yang kuat, tetapi juga membuktikan bahwa koperasi mampu tumbuh menjadi pusat layanan agribisnis yang memberi dampak langsung bagi anggotanya.
"KUAT Subak Guama menunjukkan bahwa ketika kelembagaan petani dikelola dengan baik, dampaknya sangat nyata. Tidak hanya mendukung produksi, tetapi juga memperkuat akses petani terhadap benih, sarana produksi, pembiayaan hingga pengembangan usaha. Model seperti ini penting untuk terus diperkuat dan direplikasi," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Penyuluhan Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana, SP., M.Agb., menilai KUAT Subak Guama telah membuktikan bahwa kelembagaan petani tidak cukup hanya hidup, tetapi harus mampu tumbuh dan memberi nilai tambah bagi anggotanya.
"KUAT Subak Guama bukan sekadar wadah petani, tetapi sudah menjelma menjadi penggerak ekonomi pertanian. Penyediaan sarana produksi, penangkaran benih, pengolahan hasil hingga layanan alat dan mesin pertanian berjalan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan," katanya.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan sekaligus penguatan kelembagaan petani agar mampu terus berkembang, adaptif terhadap perubahan, serta menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan petani di daerah. (JikWid/Ratna Dewi)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0