“Petani Sambangan Cetak 2,5 Ton Benih”
Gerakan kemandirian benih mulai terasa di Sambangan. Dari lahan terbatas, petani mampu menghasilkan benih unggul dengan kualitas terjaga dan pasar yang terus meluas.
“Petani Sambangan Cetak 2,5 Ton Benih”
Upaya mendorong kemandirian benih di tingkat petani terus menunjukkan hasil positif. Salah satunya ditunjukkan oleh Kelompok Tani Sri Galih Tunggal Dewi yang berlokasi di Banjar Dinas Sambangan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Kelompok tani yang berdiri sejak tahun 2015 ini beranggotakan 31 orang petani dan mengelola lahan seluas kurang lebih 20 hektar. Menariknya, dari total luasan tersebut, hanya sekitar 50 are yang dimanfaatkan sebagai lahan khusus penangkaran benih padi.
Meski terbatas, lahan tersebut mampu menghasilkan benih padi unggul sebanyak 2 hingga 2,5 ton dalam setiap musim produksi. Varietas yang dikembangkan meliputi Ciherang, Inpari 32, Inpari 43, IR 64, dan Inpari 24 yang telah dikenal memiliki produktivitas dan kualitas yang baik.
Ketua Kelompok Tani Sri Galih Tunggal Dewi, Gede Intaran, menyampaikan bahwa usaha penangkaran benih ini berawal dari dukungan program pemerintah “1.000 Desa Mandiri Benih”. Bantuan yang diterima pada awal kegiatan menjadi fondasi penting dalam mengembangkan usaha penangkaran benih di tingkat kelompok.
“Awalnya kami bergerak dari program bantuan. Tapi sekarang kami sudah mulai mandiri, bahkan sudah bisa memenuhi kebutuhan benih di tingkat kelompok dan sebagian pasar luar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan penangkaran benih bukan hanya soal produksi, tetapi juga menjadi strategi meningkatkan pendapatan petani.
“Dari lahan yang kecil, nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Petani tidak hanya menjual gabah, tapi sudah masuk ke benih yang punya nilai ekonomi lebih baik. Ini yang kami rasakan manfaatnya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gede Intaran berharap adanya dukungan berkelanjutan, terutama dalam hal akses pasar dan permodalan.
“Kami ingin ke depan bisa memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan skala produksi. Kalau didukung permodalan dan benih sumber yang cukup, kami optimistis Sambangan bisa menjadi sentra benih di Buleleng,” tambahnya.
Dalam proses produksinya, kelompok menerapkan standar penangkaran benih yang ketat dan terkontrol, serta mendapat pendampingan dan pengawasan dari petugas Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Bali guna memastikan mutu benih yang dihasilkan tetap terjaga.
Penyuluh Pertanian Lapangan, Luh Putu Indrayani, SP, mengapresiasi komitmen kelompok dalam menjaga kualitas benih.
“Kelompok ini sudah menunjukkan konsistensi dalam menjaga mutu. Dengan pendampingan berkelanjutan, kami optimistis dapat berkembang menjadi sentra benih unggulan di wilayah Sukasada,” jelasnya.
Saat ini, hasil produksi benih tidak hanya dimanfaatkan oleh anggota kelompok, tetapi juga telah dipasarkan hingga ke luar Kecamatan Sukasada dengan harga berkisar Rp140.000 hingga Rp145.000 per 10 kilogram.
Meskipun masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan akses pasar, permodalan, serta ketersediaan benih sumber, semangat kelompok dalam mengembangkan usaha penangkaran benih tetap tinggi. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya dalam mewujudkan kemandirian benih di tingkat lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
Koresponden: NDN-Indrayani
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0