“Irigasi Pulih, Petani Subak Kerdung Sumringah”
“Sempat dua musim tanam lumpuh akibat irigasi jebol. Penyuluh jadi garda terdepan saat krisis higga pemulihan. Petani Subak Kerdung akhirnya bisa tersenyum lagi….”
“Irigasi Pulih, Petani Subak Kerdung Sumringah”
Dua musim tanam berlalu tanpa hasil. Sawah-sawah di Subak Kerdung dan Sesetan, Denpasar Selatan, sempat “mati suri” akibat rusaknya saluran irigasi. Air tak mengalir, petani pun terpaksa menahan diri untuk tidak menanam.
Namun kini, kondisi itu berubah drastis. Hamparan sawah yang sebelumnya kosong mulai menghijau, bahkan sebagian sudah menguning. Tanaman padi yang ditanam awal tahun ini dipastikan siap dipanen dalam dua pekan ke depan.
“Dua musim kami tidak bisa tanam karena air tidak ada. Sekarang sudah bisa lagi, tinggal menunggu panen,” ujar Pekaseh Subak Kerdung, I Nyoman Mudarsana, S.Sos, dengan nada lega.
Kerusakan bendungan dan saluran irigasi sebelumnya memang menjadi pukulan telak bagi petani. Tanpa pasokan air, siklus tanam terhenti total. Tidak hanya berdampak pada produksi, kondisi ini juga memengaruhi pendapatan dan semangat petani.
Titik balik mulai terjadi ketika Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali bersama Dinas Pertanian Kota Denpasar, BWS dan dinas terkait turun tangan. Perbaikan bendungan dan normalisasi jaringan irigasi dilakukan secara bertahap hingga aliran air kembali stabil ke areal persawahan.
Kembalinya air menjadi awal dari kebangkitan. Namun, proses pemulihan tidak berhenti pada infrastruktur semata. Di lapangan, peran penyuluh pertanian menjadi kunci dalam memastikan petani mampu kembali bergerak cepat.
Koordinator BPP Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika, S.P., menegaskan bahwa penyuluh hadir sejak awal persoalan terjadi. Mereka tidak hanya mendampingi saat kondisi normal, tetapi juga aktif saat krisis melanda.
“Kami langsung turun melakukan identifikasi kondisi lapangan, mendata dampak kerusakan, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan bisa segera dilakukan,” jelasnya.
Menurutnya, masa jeda dua musim tanam tidak dibiarkan begitu saja. Penyuluh tetap menjaga komunikasi dengan petani, sekaligus menyiapkan langkah-langkah teknis agar saat air kembali tersedia, petani bisa langsung tanam tanpa kehilangan momentum.
Pendampingan tersebut meliputi penyusunan ulang pola tanam, kesiapan lahan, hingga memastikan ketersediaan sarana produksi seperti benih dan pupuk. Selain itu, penguatan data lapangan juga menjadi perhatian serius, khususnya dalam mendukung target Luas Tambah Tanam (LTT).
“Kami pastikan data yang masuk benar-benar sesuai kondisi riil di lapangan. Ini penting agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berdampak langsung bagi petani,” tambahnya.
Upaya itu kini membuahkan hasil. Subak Kerdung yang memiliki 123 anggota dengan luasan sekitar 123 hektare kembali aktif sepenuhnya. Seluruh areal telah ditanami padi pada awal tahun dan saat ini memasuki fase menjelang panen.
Bagi petani, kembalinya musim tanam bukan sekadar soal produksi, tetapi juga pemulihan harapan. Setelah sempat kehilangan dua musim, mereka kini bisa kembali melihat hasil kerja di sawah.
Kondisi ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara perbaikan infrastruktur dan pendampingan penyuluh mampu mempercepat pemulihan sektor pertanian. Ketika air kembali mengalir dan petani didampingi dengan baik, proses tanam bisa langsung berjalan tanpa hambatan berarti.
Lebih dari itu, pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya respons cepat dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi persoalan di lapangan. Tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memastikan petani tetap siap untuk bangkit.
Kini, dari sawah yang sempat kosong, kembali tumbuh padi yang siap dipanen. Subak Kerdung pun membuktikan, dari krisis sekalipun, pertanian tetap bisa bangkit asal didukung kerja bersama yang solid. (JikWid/Ristiani)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0