“Wardana, Peracik Sukses dari Kandang Kambing dan Kebun Kopi"
Perjalanan menuju Desa Sepang, Buleleng, terasa sepadan ketika bertemu dengan I Wayan Wardana. Di tengah kebun kopi dan kandang kambing Etawa yang dikelolanya, Ketua KTNA Buleleng itu menunjukkan bagaimana inovasi mampu mengubah usaha tani tradisional menjadi model agribisnis terpadu yang menghasilkan prestasi nasional.
“Wardana, Peracik Sukses dari Kandang Kambing dan Kebun Kopi"
Perjalanan menuju Desa Sepang, Kabupaten Buleleng, bukanlah perjalanan yang singkat. Dari Denpasar, kendaraan harus menempuh jarak sekitar 78 kilometer atau sekitar dua setengah jam perjalanan melintasi perbukitan dan hamparan perkebunan yang menghijau.
Di sebuah kawasan sejuk di lereng perbukitan itu, awak media Perhiptani Bali berkesempatan bertemu dengan sosok yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan petani Bali, khususnya bagi keluarga besar Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Dialah I Wayan Wardana, petani inovatif yang berhasil membuktikan bahwa pertanian modern dapat tumbuh dari desa dan menembus panggung nasional.
Pria berusia 59 tahun itu menyambut hangat di kediamannya yang sekaligus menjadi pusat kegiatan usaha tani dan peternakan yang telah dirintis selama puluhan tahun. Di sela aktivitasnya mengelola kebun kopi dan peternakan kambing Etawa, Wardana bercerita panjang mengenai perjalanan hidup yang membentuk dirinya hingga menjadi salah satu tokoh tani yang diperhitungkan di Bali.
"Saya sebenarnya berlatar belakang teknik mesin," ujarnya sambil tersenyum.
Wardana menamatkan pendidikan dasar di SD Sepang pada tahun 1980. Setelah itu melanjutkan ke SMP Negeri Pupuan (1980–1983), kemudian STM Negeri Singaraja (1983–1986). Kecintaannya pada dunia teknik membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Teknik Mesin hingga lulus pada tahun 1991.
Namun jalan hidup berkata lain.
Alih-alih bekerja di sektor industri, setelah lulus kuliah ia justru mengikuti program kewirausahaan yang diselenggarakan Universitas Merdeka Malang. Bekal tersebut membawanya menekuni usaha produksi minyak atsiri di Pekutatan, Jembrana, sejak tahun 1991 hingga 1998.
"Sejak awal saya memang tertarik menjadi wirausaha. Saya ingin menciptakan sesuatu yang bisa memberi manfaat sekaligus nilai ekonomi," kenangnya.
Pulang Kampung, Membangun dari Nol
Tahun 2000 menjadi titik balik kehidupannya. Wardana memutuskan kembali ke kampung halaman di Desa Sepang. Saat itu ia memulai usaha sederhana berupa budidaya kopi dan beternak sapi.
Di tengah aktivitasnya sebagai petani, ia dipercaya menjadi Petani Pemandu Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Kopi. Pengalaman tersebut memperluas wawasan dan jejaringnya di dunia pertanian.
Kesempatan besar datang ketika program Prima Tani dikembangkan di Bali. Saat itulah Wardana mulai mengembangkan usaha integrasi antara perkebunan kopi dan peternakan kambing Etawa.
Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi usaha yang dikenal dengan nama SIKOMPAK Bali Etawa Farm. Tahun ini, nama usaha tersebut bahkan telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
"Saya melihat kopi dan kambing bisa saling mendukung. Kotoran kambing menjadi pupuk untuk kopi, sementara limbah kebun bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak. Dari situ biaya produksi bisa ditekan dan usaha menjadi lebih efisien," jelasnya.
Dari Kandang hingga Cangkir Kopi
Di lahan yang dikelolanya, integrasi usaha tidak hanya menjadi slogan. Semua dirancang dalam satu sistem yang saling menguatkan.
Dari sektor peternakan, kambing Etawa menghasilkan bibit unggul, ternak afkir untuk kebutuhan daging, serta susu segar. Produksi susu rata-rata mencapai satu liter per ekor per hari dengan total produksi harian berkisar lima hingga lima belas liter.
Sementara di sektor perkebunan, Wardana mengembangkan kopi dengan merek SEGIRI Coffee.
Yang membuat produknya berbeda adalah penggunaan teknologi fermentasi berbasis enzim rayap dalam proses pengolahan kopi. Inovasi tersebut menghasilkan karakter rasa yang khas sekaligus meningkatkan nilai tambah produk.
"Kalau petani hanya menjual biji kopi mentah, nilainya terbatas. Karena itu saya mencoba mengolah dari hulu sampai hilir agar nilai ekonominya lebih tinggi," katanya.
Langganan Juara di Ajang Nasional
Aktivitasnya di dunia pertanian tidak hanya berhenti di tingkat usaha. Sejak aktif bergabung dalam organisasi KTNA pada tahun 2002, Wardana menjadi salah satu petani yang kerap mewakili Bali dalam berbagai kegiatan nasional.
Berbagai prestasi berhasil diraih. Di ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan, ia pernah meraih Juara I Asah Terampil di Malang, kemudian kembali mengukir prestasi di Padang, serta memperoleh penghargaan Best Sustainable Product untuk kategori kewirausahaan.
Prestasi demi prestasi tersebut tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga mengharumkan nama Kabupaten Buleleng dan Provinsi Bali di tingkat nasional.
"Bagi saya penghargaan itu bonus. Yang paling penting adalah ilmu yang diperoleh bisa dibagikan kepada petani lain," ujarnya.
Menjadi Guru bagi Petani
Semangat berbagi pengetahuan itulah yang kemudian mendorongnya membangun pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S).
Sejak tahun 2010 hingga sekarang, Wardana memimpin P4S Sumber Rejeki, yang fokus pada pelatihan integrasi peternakan kambing dengan perkebunan kopi.
Ratusan petani, peternak, mahasiswa, hingga penyuluh pertanian telah belajar di tempat tersebut. Dedikasinya dalam pengembangan sumber daya manusia pertanian mengantarkannya meraih penghargaan sebagai P4S terbaik pada tahun 2021.
Saat ini, selain menjabat Ketua KTNA Kabupaten Buleleng periode 2023–2028, ia juga dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Ternak sejak tahun 2012 dan Ketua PPSI periode 2023–2028.
Meski memiliki banyak jabatan, Wardana tetap terlihat nyaman berada di kandang kambing maupun kebun kopi miliknya.
"Saya tetap petani. Jabatan itu amanah, tetapi kebun dan kandang adalah tempat saya belajar setiap hari," tuturnya.
Tri Hita Karana dalam Tindakan
Menjelang akhir perbincangan, awak media Perhiptani Bali menanyakan prinsip hidup yang selalu dipegangnya selama puluhan tahun berwirausaha dan bertani.
Wardana terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Harta jangan dikejar, tetapi wajib dicari karena kita hidup membutuhkan sandang, pangan, dan papan."
Baginya, kehidupan harus diisi dengan inovasi agar mampu bersaing dan bertahan menghadapi perubahan zaman.
"Apapun yang terjadi, terima dan syukuri. Laksanakan Tri Hita Karana dalam tindakan, bukan sekadar wacana."
Kalimat itu seolah merangkum perjalanan hidupnya. Seorang sarjana teknik yang memilih kembali ke desa, membangun usaha dari nol, mengintegrasikan kopi dan kambing, membina petani, serta membawa nama Bali berprestasi di tingkat nasional.
Dari lereng Sepang, I Wayan Wardana membuktikan bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang dapat melahirkan inovasi, kemandirian, dan kebermanfaatan bagi banyak orang. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0