Nyoman Suparta, Merawat Warisan Andungan dengan Sentuhan Inovasi

Modernisasi pertanian tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Bagi I Nyoman Suparta, Pangliman Subak Padanggalak, Desa Kesiman Kertalangu, justru warisan leluhur menjadi fondasi lahirnya inovasi. Melalui penerapan andungan, petak penyaring air khas Subak, yang dipadukan dengan budidaya ramah lingkungan, ia membuktikan bahwa kearifan lokal tetap relevan menjawab tantangan pertanian masa kini.

Jul 18, 2026 - 05:07
 0  19
Nyoman Suparta, Merawat Warisan Andungan dengan Sentuhan Inovasi

Nyoman Suparta, Merawat Warisan Andungan dengan Sentuhan Inovasi

DENPASAR – Kamis pagi (16/7), suasana di kediaman I Nyoman Suparta di Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, tampak lebih hidup dari biasanya. Saat awak media PERHIPTANI menyambanginya, sejumlah petani tengah mengikuti Sekolah Lapang (SL) Agroekosistem yang diselenggarakan Komunitas Pasar Rakyat Bali. Diskusi berlangsung akrab. Para peserta menyimak materi dari penggiat pertanian organik asal Tabanan, Wayan Putra, sembari bertukar pengalaman mengenai penerapan pertanian ramah lingkungan.

Pemandangan tersebut mencerminkan keseharian Suparta. Di balik perannya sebagai Pangliman Subak Padanggalak, ia dikenal sebagai sosok yang haus akan pengetahuan. Bagi Suparta, sawah bukan hanya tempat menghasilkan pangan, tetapi juga ruang belajar yang terus berkembang mengikuti ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman para petani.

Pria yang akrab disapa Pak Balok itu mengelola lahan sawah seluas sekitar 26 are. Di lingkungan Subak, ia dipercaya sebagai Pangliman, yakni wakil ketua dalam organisasi petani tradisional Bali. Amanah tersebut dijalaninya dengan penuh tanggung jawab, sekaligus menjadi penggerak bagi petani untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Perjalanan hidup Suparta terbilang tidak biasa. Sejak bangku sekolah dasar hingga lulus dari SMK Negeri 1 Denpasar jurusan otomotif, ia tidak pernah membayangkan akan menekuni dunia pertanian. Selepas sekolah, ia justru bekerja sebagai sopir di sektor pariwisata. Namun kecintaan terhadap sawah warisan keluarga akhirnya membawanya kembali ke dunia pertanian hingga dipercaya memimpin masyarakat Subak.

Sejak Desember 2025, Suparta rutin mengikuti Sekolah Lapang Agroekosistem sebagai sarana meningkatkan pengetahuan tentang budidaya padi ramah lingkungan. Baginya, kemajuan pertanian hanya dapat dicapai jika petani memiliki kemauan untuk terus belajar dan terbuka terhadap perubahan.

Karena itu, ia kerap berdiskusi dengan penyuluh pertanian, narasumber sekolah lapang, maupun sesama petani untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di lapangan.

"Kalau petani berhenti belajar, kita akan tertinggal. Setiap pertemuan selalu ada ilmu baru yang bisa langsung diterapkan di sawah," ujar Suparta.

Semangat belajar tersebut diwujudkan melalui penerapan berbagai inovasi budidaya. Dalam mengelola tanaman padi, ia mengombinasikan penggunaan kompos plus dengan pemupukan secara berimbang, yakni sekitar 15 kilogram urea, 5 kilogram belerang, 1 kilogram garam, 0,5 kilogram kapur, serta bahan pendukung lainnya. Selain itu, ia memanfaatkan POC sebanyak satu liter yang dicampur molase untuk setiap tangki semprot sebagai bagian dari pemeliharaan tanaman. Untuk varietas, Suparta memilih Sertani 01 yang dinilai adaptif dan berpotensi menghasilkan produktivitas yang baik.

Namun inovasi yang paling menarik justru lahir dari warisan leluhur Subak. Suparta tetap mempertahankan andungan, yaitu petak penyaring air yang dibuat di bagian hulu sawah sebelum air irigasi masuk ke petakan padi. Pada andungan tersebut, ia menanam eceng gondok sebagai penyaring biologis alami (fitoremediasi). Akar eceng gondok yang lebat mampu menahan lumpur, menyerap sisa pupuk, dan mengurangi berbagai zat yang terbawa aliran air. Dengan cara sederhana itu, air yang mengalir ke areal persawahan menjadi lebih jernih sehingga kualitas lingkungan dan kesuburan tanah tetap terjaga.

Bagi Suparta, teknologi modern dan kearifan lokal bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan.

"Warisan leluhur seperti andungan masih sangat relevan. Kalau dipadukan dengan inovasi budidaya yang tepat, hasilnya akan lebih baik sekaligus menjaga kelestarian lingkungan," katanya.

Penyuluh Pertanian Wilayah Binaan, drh. Putu Gede Eka Dharmana, S.KH., menilai Suparta merupakan sosok petani yang memiliki semangat belajar tinggi dan terbuka terhadap berbagai inovasi.

"Pak Nyoman Suparta adalah petani yang inovatif. Beliau tidak hanya menerima teknologi baru, tetapi juga berani menerapkannya di lahan sendiri. Beliau aktif berdiskusi ketika menghadapi persoalan di lapangan sehingga inovasi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kondisi usahataninya. Sosok seperti beliau sangat dibutuhkan untuk mempercepat adopsi inovasi pertanian sekaligus menjadi inspirasi bagi petani lainnya," ujar Eka Dharmana.

Menurutnya, keberhasilan Suparta memadukan teknologi budidaya modern dengan kearifan lokal Subak menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak harus menghilangkan identitas budaya Bali. Sebaliknya, tradisi justru dapat menjadi fondasi lahirnya inovasi yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Di tengah tekanan alih fungsi lahan dan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk bertani, Suparta membuktikan bahwa pertanian tetap memiliki masa depan. Berbekal semangat belajar, keberanian berinovasi, dan komitmen menjaga warisan leluhur melalui andungan, ia terus menginspirasi petani lain agar Subak tetap lestari sekaligus mampu menjawab tantangan pertanian modern. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0