Shinta Istihsan: Menyulam Harapan Petani Lewat Inovasi dan Pengabdian

Di balik keberhasilan pembangunan pertanian, ada sosok penyuluh yang setia mendampingi petani dari musim tanam hingga panen. Salah satunya adalah Shinta Istihsan, penyuluh pertanian di Kabupaten Buleleng yang terus menghadirkan inovasi, menguatkan kelembagaan petani, dan membuktikan bahwa pengabdian adalah kunci menuju pertanian yang maju dan berkelanjutan.

Jul 19, 2026 - 04:27
Jul 19, 2026 - 04:34
 0  35
Shinta Istihsan: Menyulam Harapan Petani Lewat Inovasi dan Pengabdian

Shinta Istihsan:

Menyulam Harapan Petani Lewat Inovasi dan Pengabdian

Apa yang membuat Ibu bertahan menjadi penyuluh pertanian selama belasan tahun?” tanya awak media PERHIPTANI Bali.

Shinta Istihsan tersenyum sejenak sebelum menjawab.

" Karena kebahagiaan saya yang sederhana. Melihat petani bisa menerapkan teknologi, panennya meningkat, biaya produksinya turun, dan mereka semakin mandiri. Itu sudah menjadi penghargaan terbesar bagi saya," tuturnya.

Jawaban itu menggambarkan sosok perempuan kelahiran Singaraja, 1976, yang lebih dari 16 tahun mengabdikan dirinya mendampingi petani di Kabupaten Buleleng. Baginya, penyuluh pertanian bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian untuk menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Perjalanan Shinta menuju dunia penyuluhan tidak berlangsung secara instan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Singaraja, ia melanjutkan studi di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, dan lulus pada tahun 2000.

Sempat berkarier di dunia swasta pada CV Martana Garment and Manufacture di Denpasar, panggilan hati akhirnya membawa kembali ke dunia pertanian. Tahun 2009 menjadi titik balik kehidupannya ketika diterima sebagai Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TB PP) Kementerian Pertanian RI Angkatan III.

Sejak saat itu, kehidupannya lebih banyak dihabiskan di sawah, ladang, dan pertemuan kelompok tani daripada di balik meja kerja.

Selama 15 tahun bertugas di BPP Kecamatan Buleleng (2009–2024), Shinta aktif mendampingi petani dalam peningkatan produksi, penguatan kelembagaan petani, hingga penerapan berbagai inovasi teknologi pertanian.

Tahun 2021 menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya ketika resmi diangkat sebagai PPPK Ahli Pertama Penyuluh Pertanian. Pengabdian panjangnya kemudian berlanjut di BPP Kecamatan Banjar sejak tahun 2025. Kini ia mendampingi petani di Desa Banjar dan Desa Temukus.

"Setiap wilayah memiliki karakter petani yang berbeda. Itu yang membuat pekerjaan ini selalu menarik. Penyuluh harus terus belajar agar solusi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan petani," ujarnya.

Di Kecamatan Banjar, Shinta dikenal aktif memperkenalkan berbagai inovasi pertanian ramah lingkungan. Salah satu yang paling banyak diterapkan petani adalah Jadam Sulfur, teknologi berbahan alami yang mampu membantu pengendalian organisme pengganggu tanaman sekaligus menekan biaya produksi.

Tidak berhenti di sana, ia juga mendampingi pemanfaatan Irigasi Perpompaan (IRPOM), mendorong penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati, memperkuat pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta meningkatkan kapasitas kelompok tani melalui sekolah lapang, diseminasi teknologi, dan berbagai pelatihan.

Baginya, keberhasilan penyuluh bukan diukur dari seberapa banyak teknologi yang diperkenalkan, tetapi seberapa jauh teknologi itu benar-benar diterapkan dan memberi manfaat bagi petani.

"Kalau petani sudah mampu mengambil keputusan sendiri, mampu memecahkan masalah usahataninya, dan tidak selalu bergantung kepada penyuluh, berarti tugas kami berhasil," katanya.

Dedikasi tersebut mengantarkan Shinta meraih berbagai penghargaan, di antaranya Juara I Penyuluh THL-TB PP Berprestasi Kabupaten Buleleng Tahun 2012, Juara II Tingkat Provinsi Bali Tahun 2013, kembali menjadi Juara I Kabupaten Buleleng Tahun 2017, hingga masuk lima besar Penyuluh Pertanian Berprestasi Provinsi Bali Tahun 2025.

Namun, baginya penghargaan hanyalah bonus dari sebuah proses panjang.

"Prestasi yang sesungguhnya adalah ketika petani semakin percaya diri mengembangkan usahanya dan kesejahteraannya meningkat," ucapnya.

Di balik kesibukannya sebagai penyuluh, Shinta juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, sebagai bentuk pengabdian di luar tugas kedinasan.

Menjelang akhir perbincangan, awak media PERHIPTANI Bali kembali bertanya, pengalaman apa yang paling berkesan selama menjadi penyuluh?

Shinta mengaku, salah satu fase yang paling membentuk dirinya adalah ketika bergabung bersama keluarga besar BPP Kecamatan Banjar.

“Saya bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di bawah kepemimpinan Koordinator BPP Kecamatan Banjar, Bapak Wayan Suwastawa Giri. Beliau mengajarkan saya tentang disiplin, manajemen kerja, membangun kerja sama tim, serta bagaimana menjadi penyuluh yang profesional dan selalu fokus pada pelayanan kepada petani,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap Arah, motivasi, dan kepercayaan yang diberikan menjadi bekal berharga untuk terus meningkatkan kompetensi dan memberikan pendampingan terbaik bagi petani.

“Terima kasih kepada keluarga besar BPP Kecamatan Banjar dan Bapak Wayan Suwastawa Giri atas ilmu, pengalaman, kepercayaan, dan inspirasi yang telah diberikan. Semoga semua kebaikan ini menjadi amal yang terus mengalir dan menjadi penyemangat bagi saya untuk terus berkarya mengabdi bagi kemajuan pertanian Indonesia,” tutupnya.

Bagi Shinta Istihsan, menjadi penyuluh pertanian bukan sekedar mendampingi petani menanam dan memanen. Lebih dari itu, penyuluh adalah jembatan antara inovasi dan kehidupan petani. Selama masih ada petani yang membutuhkan pendampingan, semangat pengabdiannya akan terus tumbuh—mengawal lahirnya pertanian yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan menuju ketahanan pangan Indonesia. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 2
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 1