Ditipu Bibit Palsu, Dek Mbot Bangkit lewat TSS
GIANYAR – Kegagalan demi kegagalan tak membuat I Kadek Badra Kartika alias Dek Mbot menyerah. Pemuda asal Banjar Apuan, Desa Singapadu, Sukawati, Gianyar, itu justru menjadikan pengalaman tertipu membeli bibit hingga panen yang tidak sesuai harapan sebagai pelajaran berharga. Dari proses panjang tersebut, ia akhirnya menemukan potensi besar budidaya bawang merah dari biji atau True Shallot Seed (TSS), yang kini diyakininya sebagai masa depan pertanian bawang merah.
Ditipu Bibit Palsu, Dek Mbot Bangkit lewat TSS
Saat awak media Perhiptani Bali berkunjung ke lahan dan rumah semai miliknya di Banjar Apuan, sulit membayangkan bahwa petani muda berusia 25 tahun itu sebenarnya bukan berasal dari keluarga petani. Lingkungan tempat ia tumbuh lebih dikenal sebagai kawasan seni dan pariwisata.
Dek Mbot pun bukan lulusan sekolah pertanian. Ia merupakan alumnus SMK jurusan Teknik Mesin di wilayah Blahbatuh, Gianyar, yang lulus pada 2019. Sejak kecil, dunia otomotif dan mesin menjadi kegemarannya.
"Awalnya saya ingin hidup seperti kebanyakan orang, lulus sekolah lalu bekerja. Tapi waktu kelas XI SMK, saya mulai tertarik menjadi pengusaha setelah belajar Produk Kreatif dan Kewirausahaan," ujarnya.
Ketertarikan itu membawanya membuka bengkel panggilan kecil-kecilan sambil mencoba berbagai usaha peternakan, mulai dari lele, bebek, ayam pedaging hingga berjualan daging ayam. Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang mengubah jalan hidupnya.
Saat sang kakak yang bekerja di sektor pariwisata dirumahkan dan mulai bertani, Dek Mbot sebenarnya masih fokus beternak. Hanya saja, rasa iba melihat orang tua dan kakaknya mencangkul lahan secara manual membuat naluri mekaniknya terpanggil.
Ia menyarankan membeli cultivator mini untuk mempermudah pengolahan tanah. Dari mesin itulah ketertarikannya terhadap pertanian tumbuh.
"Saya mulai tertarik menghitung biaya produksi, produktivitas tanaman, sampai harga jual. Ternyata sangat menarik," kenangnya.
Pada 2022, ia memutuskan meninggalkan dunia peternakan dan fokus menekuni pertanian sambil membuka jasa pengolahan lahan menggunakan cultivator.
Awalnya, Dek Mbot menanam cabai dan padi. Namun setelah melalui berbagai perhitungan, ia memutuskan beralih ke bawang merah pada 2024.
Menurutnya, usaha cabai membutuhkan waktu terlalu panjang hingga delapan bulan untuk mengetahui untung dan rugi. Sementara budidaya padi baru memberikan keuntungan yang memadai apabila dikelola dalam skala luas.
"Kalau padi, saya harus punya lahan sendiri minimal dua hektare. Kalau sistem nandu, bisa sampai empat hektare. Itu tidak mungkin bagi saya," katanya.
Bawang merah menjadi pilihan yang paling rasional. Modal dan keuntungan dari satu hektare padi, menurutnya, setara dengan mengelola sekitar 10 are bawang merah yang jauh lebih mudah diperoleh di wilayah Sukawati.
Namun perjalanan itu ternyata tidak semulus yang dibayangkan.
Pertanyaan pertama yang muncul adalah apakah bawang merah dapat tumbuh di Gianyar yang merupakan dataran rendah. Sebab, selama ini masyarakat Bali mengenal Songan, Kintamani, sebagai sentra bawang merah.
Melalui riset mandiri, ia menemukan bahwa bawang merah juga berkembang baik di daerah dataran rendah seperti Nganjuk, Brebes, Probolinggo, hingga Bima.
Tantangan berikutnya adalah mencari bibit. Karena belum memiliki jaringan, ia nekat membeli 30 kilogram bawang merah di Pasar Galiran, Klungkung, dengan harga Rp 33 ribu per kilogram.
"Uang saya waktu itu hampir habis. Tinggal tersisa Rp 1.000 untuk bayar parkir," ujarnya sambil tertawa.
Meski demikian, ia tidak langsung percaya kepada pedagang. Tiga siung bawang terlebih dahulu ditanam sebagai uji coba. Hasilnya, tidak satu pun bertunas hingga 14 hari kemudian.
Benar saja, ia tertipu. Bibit yang dibeli ternyata belum melewati masa dormansi dan belum siap tanam.
Nasib buruk belum berhenti. Selama masa penyimpanan, sebanyak 20 kilogram dari total 30 kilogram bawang yang dibelinya membusuk dan kopong. Hanya 10 kilogram yang akhirnya dapat digunakan.
Di tengah kebuntuan itu, Dek Mbot menemukan benih bawang merah dari biji atau True Shallot Seed (TSS). Ia membeli satu kemasan seberat 50 gram seharga Rp 190 ribu.
Sayangnya, percobaan pertama juga berakhir dengan kegagalan. Karena minim pengalaman, ia menyemai benih langsung di tanah dan hanya menanam satu bibit per titik dengan jarak tanam seperti bawang umbi.
Saat panen, hasil dari TSS jauh tertinggal dibandingkan bibit umbi. Kekecewaan beruntun itu membuatnya sempat berhenti menanam bawang merah.
Namun, pertengahan 2024 menjadi titik balik.
Dengan modal Rp 1,5 juta, ia membeli 50 kilogram bibit bawang merah asal Nganjuk dari seorang teman yang dikenalnya melalui media sosial. Pada saat yang sama, ia kembali mencoba TSS dengan teknik yang telah diperbaiki.
Benih disemai menggunakan tray dan ditanam dua hingga empat bibit per lubang. Percobaan dilakukan pada musim kemarau, saat kondisi cuaca sangat mendukung.
Hasilnya di luar dugaan. Baik bawang dari umbi maupun TSS mampu menghasilkan produktivitas sekitar 12 ton per hektare.
Meski demikian, masing-masing memiliki karakter berbeda. Umbi menghasilkan jumlah bawang lebih banyak per rumpun, sedangkan TSS menghasilkan ukuran bawang yang lebih besar.
Saat harga bibit umbi masih murah, Dek Mbot sempat kembali memilih bibit umbi. Namun ketika harga bibit melonjak hingga Rp 50 ribu-Rp 60 ribu per kilogram dan memasuki musim hujan, masalah baru muncul.
Produksi dari bibit umbi tidak maksimal dan ukuran bawang cenderung kecil sehingga sulit bersaing di pasar.
Sebaliknya, bawang merah asal TSS justru mampu mempertahankan ukuran umbi yang besar meskipun ditanam pada musim hujan.
"Dari situ saya semakin yakin bahwa bawang merah dari biji adalah masa depan. Selain ukuran umbinya bagus, biaya benih juga jauh lebih hemat," jelasnya.
Kini, Dek Mbot telah membangun rumah semai sederhana untuk mendukung penyemaian TSS secara mandiri. Dari lahan yang dikelolanya sekitar satu hektare, sebagian besar mulai diarahkan menggunakan teknologi benih botani tersebut.
Ia bahkan memiliki cita-cita yang lebih besar, yakni mampu memproduksi benih botani bawang merah sendiri.
"Kalau bibit umbi, hasil panen satu are paling hanya cukup untuk menanam 10 are berikutnya. Tapi kalau dari biji, hasil satu are bisa mencukupi kebutuhan benih sampai satu hektare. Saya yakin ini masa depan petani bawang merah," tegasnya. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0