Melawan Usia dan Cuaca, Pekak Ketut Jaga Denyut Pangan Bali
GIANYAR – Di tengah derasnya arus modernisasi dan menyusutnya lahan pertanian di Bali, Ketut Sagir tetap teguh berdiri di sawahnya. Pada usia 75 tahun, petani asal Banjar Telabah, Desa Sukawati, ini menjadi saksi hidup perjalanan Bali dari era pembangunan pariwisata hingga tantangan pertanian masa kini.
Melawan Usia dan Cuaca, Pekak Ketut Jaga Denyut Pangan Bali
Di bawah langit cerah Banjar Telabah, Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar, sosok Ketut Sagir tampak berdiri tegak di antara hamparan tanaman yang ia rawat dengan penuh ketekunan. Topi caping yang menaungi wajahnya tak mampu menyembunyikan guratan usia yang merekam panjangnya perjalanan hidup. Di usia 75 tahun, ia masih setia mengolah lahan garapan seluas 15 are, menjaga denyut kehidupan pertanian yang semakin terdesak oleh perkembangan zaman.
Tak banyak yang mengetahui bahwa sebelum menjadi petani sepenuhnya, Pekak Ketut pernah menjadi bagian dari salah satu proyek bersejarah di Bali. Pada pertengahan 1960-an, ketika pembangunan Hotel Bali Beach di Sanur digagas sebagai simbol modernisasi pariwisata Pulau Dewata, ia turut bekerja sebagai pembantu tukang atau kenek bangunan.
“Dulu setelah lulus sekolah dasar, apa saja dikerjakan untuk mencari nafkah. Saya sempat menjadi kenek di proyek Hotel Bali Beach,” kenangnya.
Saat itu, pekerjaan berat seperti memikul semen, mengangkut batu, hingga bekerja seharian di bawah terik matahari menjadi rutinitasnya. Upah yang diterima memang tidak besar, namun pengalaman tersebut membentuk karakter pekerja keras yang terus melekat hingga sekarang.
Setelah proyek hotel yang menjadi kebanggaan Bali itu rampung, Pekak Ketut memilih kembali ke kampung halamannya di Sukawati. Ia menekuni profesi sebagai petani penggarap, pekerjaan yang menurutnya memberikan kepastian hidup sekaligus kedekatan dengan tanah kelahiran.
Perjalanan sebagai petani pun tidak selalu mudah. Namun dibandingkan kondisi saat ini, Pekak Ketut menilai bertani pada masa lalu jauh lebih ringan.
“Dulu uang seribu rupiah nilainya besar. Hama juga tidak sebanyak sekarang,” ujarnya sambil tersenyum.
Di lahan garapannya, Pekak Ketut menerapkan pola tanam yang disesuaikan dengan musim. Saat musim rendengan, ia menanam padi varietas Inpari 32. Setelah panen padi, lahan dimanfaatkan kembali melalui sistem tumpang sari dengan menanam cabai dan tembakau sebagai sumber pendapatan tambahan.
Namun musim tanam tahun ini menghadirkan tantangan baru. Keterbatasan alat dan mesin pertanian di tingkat subak membuat proses pengolahan lahan terhambat. Hingga kini, lahannya belum dapat dibajak karena harus menunggu giliran penggunaan traktor.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena bibit cabai yang sudah disiapkan terus bertambah umur di persemaian. Semakin lama bibit tertunda ditanam, semakin besar risiko penurunan produktivitas saat memasuki masa panen.
“Bibitnya sudah siap tanam, tetapi lahan belum bisa diolah karena masih menunggu traktor. Kalau terlalu tua, hasilnya pasti berkurang,” katanya.
Pengalaman pahit musim lalu semakin menambah kehati-hatian. Saat itu, tanaman tembakau yang ia budidayakan memberikan hasil cukup baik. Dari 16 bungkul tembakau kering dengan total sekitar 40 kilogram, ia memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta.
Sebaliknya, tanaman cabai mengalami gagal panen akibat curah hujan tinggi yang memicu pembusukan tanaman. Cuaca ekstrem membuat seluruh upaya yang telah dilakukan berakhir tanpa hasil.
Meski demikian, berbagai kendala tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Dengan kaus lengan panjang dan peralatan sederhana yang selalu menemani aktivitas di sawah, Pekak Ketut terus berusaha menyiapkan lahannya agar dapat segera ditanami kembali.
Baginya, bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas hidup yang harus dipertahankan. Karena itu, ia menyimpan harapan besar kepada generasi muda Bali agar tidak meninggalkan sektor pertanian.
Menurutnya, profesi petani sering dipandang sebelah mata, padahal memiliki peran sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan. Ia mengingatkan bahwa sawah dan lahan pertanian merupakan warisan yang harus dijaga bersama.
“Anak-anak muda jangan gengsi turun ke sawah. Menjadi petani itu mandiri. Kalau semua ingin bekerja di gedung atau hotel, siapa yang akan menanam padi dan cabai untuk kita makan? Rawat tanah Bali ini, karena tanah inilah yang menghidupi kita sejak dulu,” pesannya.
Perjalanan hidup Pekak Ketut Sagir menjadi gambaran tentang keteguhan seorang petani Bali. Dari seorang kenek bangunan yang ikut membangun ikon pariwisata Pulau Dewata hingga menjadi penjaga subak di usia senja, ia membuktikan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditopang oleh gedung-gedung megah, tetapi juga oleh tangan-tangan petani yang terus menjaga keberlangsungan pangan.
Di tengah ancaman alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan berkurangnya minat generasi muda terhadap pertanian, sosok Pekak Ketut menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan sesungguhnya lahir dari mereka yang tetap setia merawat tanah. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0