Tresnaningsih : Dokter Hewan yang Memilih Jalan Penyuluh
Ubinan mandiri baru saja selesai di Subak Kedangpang. Para petani masih berdiri di pematang, mencermati hasil perhitungan produksi. Di antara mereka, drh. I Gusti Ayu Ngurah Tresnaningsih berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya dari dokter hewan hingga kini mendampingi petani sebagai penyuluh pertanian.
Tresnaningsih :
Dokter Hewan yang Memilih Jalan Penyuluh
Angin siang itu berembus pelan di pematang sawah Subak Kedangpang. Usai menuntaskan ubinan mandiri, drh. I Gusti Ayu Ngurah Tresnaningsih menaruh topinya dan duduk santai di pinggir petakan sawah. Dari obrolan ringan di antara hamparan padi itulah, perjalanan hidupnya terurai dari dokter hewan, aktivis wanita tani, hingga kini menjadi penyuluh pertanian.
Siang kian tegak di atas hamparan sawah Subak Kedangpang saat kegiatan ubinan mandiri mulai rampung. Beberapa petani masih berdiri di pematang, mencermati angka-angka hasil perhitungan produksi yang baru saja dicatat.
Di antara mereka, drh. I Gusti Ayu Ngurah Tresnaningsih tampak santai duduk di tepi pematang sawah. Ia baru saja membantu petani mencatat hasil ubinan.
“Saya sebenarnya tidak menyangka sekarang lebih sering berada di sawah,” ujarnya sambil tersenyum.
Perempuan kelahiran Gerana, Sangeh, Kabupaten Badung itu bercerita pelan tentang perjalanan hidupnya. Tresnaningsih merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Sejak kecil ia sudah akrab dengan kehidupan desa.
Dunia hewan sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.
“Dulu waktu SMP saya sudah ikut membantu orang tua memelihara babi dan sapi. Kadang juga menyabit rumput untuk pakan sapi,” kenangnya.
Ketertarikan itulah yang membawanya menempuh pendidikan kedokteran hewan. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD 2 Sangeh, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Abiansemal dan SMAN 1 Abiansemal.
Kecintaannya pada dunia hewan membawanya menempuh pendidikan di Universitas Udayana pada 1991, dengan memilih Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH). Ia menamatkan pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan pada 1996, lalu resmi menyandang gelar dokter hewan pada Februari 1998.
Selepas menamatkan pendidikan, ia tak menunggu lama untuk terjun ke dunia praktik. Sejak 1998 hingga 2004, Tresnaningsih bekerja di klinik hewan Yayasan Satwa Perkasa (YSP). Namun pengabdiannya tak berhenti di ruang klinik. Di sela-sela kesibukannya, ia juga membuka layanan praktik bagi masyarakat di desa.
“Kalau ada anjing atau kucing sakit, biasanya pemiliknya datang ke rumah. Tapi tak jarang juga saya yang mendatangi mereka ketika ada panggilan,” katanya.
Pengalamannya semakin kaya ketika ia mulai aktif dalam organisasi petani. Pada 2004 hingga 2007, Tresnaningsih bergabung dalam kegiatan wanita tani di KTNA Badung. Sejak saat itu, ia kerap mengikuti berbagai kegiatan Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan tingkat Provinsi Bali.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti Pekan Nasional (PENAS) KTNA di Palembang pada 2007.
“Di sana saya bertemu petani dari seluruh Indonesia. Banyak sekali ilmu yang saya dapat,” ujarnya.
Masih di tahun yang sama, ia diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) dokter hewan. Penugasan pertamanya berada di Kabupaten Karangasem.
Setahun kemudian, pada 2008, ia dipindahkan ke Kabupaten Badung dan bertugas di bidang kesehatan hewan (Keswan). Pengabdian itu dijalaninya cukup lama hingga tahun 2021.
Perubahan besar dalam kariernya datang ketika pemerintah membuka seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tresnaningsih mengikuti seleksi dan dinyatakan lulus sebagai penyuluh pertanian pada 2021.
Kini ia bertugas di BPP Kuta Utara dengan wilayah binaan Desa Kerobokan Kelod.
“Awalnya memang harus banyak belajar. Dari dokter hewan sekarang harus mendampingi petani soal tanaman,” katanya sambil tertawa kecil.
Namun pengalaman masa kecil sebagai anak petani ternyata menjadi modal besar baginya.
“Saya bersyukur dari kecil sudah biasa membantu orang tua di sawah dan memelihara ternak. Jadi tidak terlalu asing dengan dunia petani,” ujarnya.
Kedekatan itu membuatnya mudah diterima petani. Ia sering turun langsung ke lapangan, mulai dari pengamatan tanaman hingga pendampingan kegiatan seperti ubinan mandiri.
Meski kini aktif sebagai penyuluh pertanian, kecintaannya pada dunia kesehatan hewan tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Sepulang kerja atau saat hari libur, Tresnaningsih masih sering membantu masyarakat yang membutuhkan layanan medis untuk hewan peliharaan.
Mulai dari vaksinasi hingga tindakan operasi seperti Ovario Histerektomi (OH) pada anjing dan kucing masih ia lakukan.
“Kalau ada yang membutuhkan bantuan, saya tetap layani,” ujarnya.
Matahari perlahan condong ke barat. Para petani mulai beranjak meninggalkan sawah. Tresnaningsih pun bersiap kembali ke markasnya di BPP Kuta Utara, menutup hari panjang setelah seharian berada di lapangan mendampingi petani.
Dari klinik hewan hingga pematang sawah, perjalanan hidupnya membuktikan satu ha, kecintaan pada dunia pertanian dan hewan ternyata bisa berjalan beriringan. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0