Si Kembar Penjaga Pangan Bali
Tak hanya berbagi tanggal lahir, Luh Komang Ari Lestari dan Luh Ketut Ari Abadi juga berbagi panggilan hidup. Menjadi penyuluh pertanian, keduanya memastikan sawah tetap berdenyut dan petani tak berjalan sendiri.
Si Kembar Penjaga Pangan Bali
Di tengah hamparan sawah Bali yang terus diuji zaman, dua sosok ini berdiri di garis depan. Wajahnya nyaris tak bisa dibedakan. Senyumnya serupa. Cara bicaranya pun hampir sama saat menjelaskan soal musim tanam, dosis pupuk, atau serangan hama. Mereka bukan sekadar saudari kembar. Mereka adalah penjaga pangan.
Luh Komang Ari Lestari, S.P. dan Luh Ketut Ari Abadi, S.P. lahir di Karangasem pada hari, bulan, dan tahun yang sama. Tak hanya berbagi tanggal lahir, keduanya juga bernaung di bawah zodiak Virgo yang dikenal teliti, disiplin, dan perfeksionis dalam bekerja. Karakter itu bukan sekadar simbol astrologi. Dalam keseharian, sifat tersebut menjelma menjadi kebiasaan mengecek ulang data ubinan, memastikan rekomendasi pemupukan tepat dosis, hingga turun langsung ketika tanaman petani terserang hama.
Sejak bangku sekolah dasar hingga kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Udayana, keduanya hampir tak pernah terpisah. Pilihan jurusan yang sama bukan kebetulan. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan sawah dan ladang. Pertanian bagi keduanya bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.
Jejak Sang Sulung
Sebagai kakak, Luh Komang Ari Lestari lebih dahulu menapaki perjalanan karier. Selepas menyelesaikan studi, ia sempat mengabdi sebagai staf pada Program S3 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pengalaman itu membentuk ketelitian administrasi dan kedisiplinan kerjanya.
Tahun 2015 menjadi titik balik ketika ia resmi diangkat sebagai CPNS penyuluh pertanian. Wilayah tugas awalnya meliputi Bugbug dan Pertima termasuk Perasi, Timbrah, dan Asah daerah dengan tantangan pertanian yang beragam. Di lapangan, ia belajar bahwa menjadi penyuluh bukan hanya soal menyampaikan teknologi, tetapi membangun kepercayaan.
Kerja sunyinya membuahkan pengakuan. Pada 2023, Ari Lestari dinobatkan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan tingkat Kabupaten Karangasem. Penghargaan itu menjadi bukti dedikasinya dalam mendampingi kelompok tani, mengawal program tanam, serta memastikan setiap rekomendasi benar-benar dipahami dan diterapkan petani.
Tahun 2026, ia dipercaya menjadi Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Karangasem. Amanah tersebut mempertegas perannya bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga penggerak penyuluhan di wilayahnya.
Langkah Sang Adik
Sementara itu, Luh Ketut Ari Abadi memulai pengabdian dari jalur yang berbeda. Usai meraih gelar sarjana pertanian, ia mengabdi di Dinas Pertanian dan Hortikultura Kabupaten Karangasem pada bidang sarana dan prasarana pertanian. Dari sana, ia memahami betapa pentingnya dukungan infrastruktur bagi produktivitas petani.
Tahun 2006, ia resmi menjadi CPNS. Empat tahun kemudian, pada 2010, ia hijrah ke Dinas Pertanian Kota Denpasar sebagai penyuluh pertanian. Dinamika kota menghadirkan tantangan tersendiri: lahan pertanian yang kian menyempit dan tekanan alih fungsi yang terus meningkat.
Ia pernah bertugas di BPP Denpasar Selatan dan BPP Denpasar Timur sebelum akhirnya dipercaya menjadi Koordinator Penyuluh Pertanian di BPP Denpasar Utara. Lebih dari satu dasawarsa ia memimpin dan mengoordinasikan penyuluh di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, ia aktif mendorong optimalisasi lahan tersisa, memperkuat kelembagaan kelompok tani, serta mengawal penerapan teknologi pertanian agar tetap relevan. Bagi Ari Abadi, selama masih ada petani yang bertahan, penyuluh harus tetap hadir.
Dua Wilayah, Satu Komitmen
Kini, meski bertugas di dua wilayah berbeda Karangasem dan Denpasar keduanya tetap berada pada garis perjuangan yang sama. Sebagai koordinator BPP, mereka bukan hanya mengatur jadwal atau memimpin rapat rutin. Mereka menjadi penggerak, motivator, sekaligus problem solver di tengah kompleksitas pertanian modern.
Perubahan iklim, fluktuasi harga, hingga tantangan regenerasi petani menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi setiap hari. Dengan ketelitian khas Virgo, mereka membaca data seperti membaca musim. Dengan disiplin yang sama, mereka mengawal program seperti menjaga benih agar tumbuh sempurna.
Penghargaan dan jabatan bukanlah tujuan akhir. Bagi keduanya, keberhasilan penyuluhan diukur dari satu hal sederhana, petani merasa didampingi dan sawah tetap produktif.
Mereka mungkin lahir di hari, bulan, dan tahun yang sama. Wajahnya pun nyaris tak terbedakan. Namun yang paling serupa adalah komitmen yang tak pernah goyah.
Si kembar ini bukan sekadar mirip. Mereka adalah dua penjaga yang memastikan pangan Bali tetap berdiri kokoh hari ini dan esok nanti. (JikWid/Suryadi)
What's Your Reaction?
Like
13
Dislike
0
Love
4
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
3