Luh Made Edy Kusumartini: Langkah Energik, Hati Penuh Empati

Di pematang sawah Muncan, langkahnya tak pernah lelah menyemai harapan. Luh Made Edy Kusumartini memilih kembali ke tanah kelahirannya, membawa ilmu, energi, dan empati untuk tumbuh bersama para petani.

Mar 6, 2026 - 04:46
 0  59
Luh Made Edy Kusumartini: Langkah Energik, Hati Penuh Empati

Luh Made Edy Kusumartini:

Langkah Energik, Hati Penuh Empati

Pisces dari Muncan yang Setia Menyemai Harapan di Ladang Selat

Pagi baru saja merekah di Desa Muncan. Embun masih bertahan di ujung daun padi ketika sosok perempuan itu melangkah menyusuri pematang sawah. Dengan topi lapangan dan senyum ramah, ia menyapa satu per satu petani yang mulai bekerja. Dialah Luh Made Edy Kusumartini, S.P., penyuluh pertanian yang tak pernah jauh dari tanah kelahirannya.

Lahir di Muncan, Luh Made Edy tumbuh dalam kehidupan agraris yang sederhana namun penuh makna. Sejak kecil ia akrab dengan sawah, musim tanam, dan cerita tentang harapan di setiap panen.

Di bawah naungan zodiak Pisces, ia dikenal memiliki empati yang kuat dan ketulusan hati. Karakter itu terasa nyata dalam setiap pendekatannya kepada petani.

“Menjadi penyuluh bukan hanya soal menyampaikan program. Kita harus hadir dengan hati,” ujarnya.

Sejak kecil, Luh Made Edy tumbuh di lingkungan agraris. Sawah dan ladang bukan pemandangan asing baginya. Setelah lulus SMA pada tahun 2000, ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Program Studi Agribisnis Universitas Udayana. Di sanalah ia semakin memahami bahwa pertanian bukan sekadar tradisi, tetapi sektor yang harus dikelola dengan ilmu dan strategi.

Lulus pada tahun 2005, jalan pengabdiannya tidak langsung menuju dunia penyuluhan. Ia lebih dulu mengabdikan diri sebagai guru di SMP 1 Selat. Dari ruang kelas, ia belajar arti kesabaran dan komunikasi.

“Dari mengajar saya belajar bahwa setiap orang punya cara memahami yang berbeda. Itu sangat membantu ketika mendampingi petani,” kenangnya.

Perjalanan sebagai penyuluh dimulai pada tahun 2009 ketika ia bergabung sebagai THL-TBPP. Ia mulai turun langsung ke lapangan, berdiskusi dengan kelompok tani, hingga ikut mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani.

Kerja keras dan konsistensinya akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2017 ia resmi diangkat sebagai ASN dan ditempatkan di BPP Selat, dengan wilayah binaan Desa Muncan dan Desa Duda Utara tanah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari kehidupannya.

“Pertanian hari ini harus berpikir maju. Petani harus tahu bagaimana hasilnya punya nilai lebih,” tegasnya.

Pendekatannya energik, geraknya cepat, namun tetap lembut dalam tutur kata. Ia percaya perubahan tidak bisa instan.

“Kalau petani sudah percaya, setengah perjuangan kita selesai.”

Dalam perjalanan tugasnya, Luh Made Edy banyak belajar dari para senior penyuluh. Salah satu sosok yang paling membekas baginya adalah Pak De Surya, yang selama ini menjadi panutan dalam menjalankan tugas penyuluhan.

Namun kini, suasana terasa sedikit berbeda. Sang senior mendapat penugasan baru di tingkat provinsi untuk memperkuat tugas kelembagaan penyuluhan di Bali.

“Sekarang saya agak merasa kesepian setelah Pak De Surya pindah tugas ke provinsi,” ujarnya jujur.

Bagi Luh Made Edy, Pak De Surya bukan sekadar rekan kerja, tetapi mentor yang membentuk cara pandangnya dalam bekerja.

“Beliau panutan saya. Kami selalu diberi kebebasan berekspresi dalam melaksanakan tugas penyuluhan tanpa ada tekanan. Yang penting tugas selesai dan tetap dalam koridor pendampingan serta pembinaan petani,” tuturnya.

Nilai itulah yang kini terus ia pegang. Baginya, penyuluhan bukan sekadar menjalankan program, tetapi membangun kepercayaan dan memberi ruang bagi kreativitas dalam mendampingi petani.

Lebih dari satu dekade mengabdi, Luh Made Edy membuktikan bahwa menjadi penyuluh adalah panggilan jiwa. Di antara hamparan hijau Selat, langkahnya terus berjalan menyemai ilmu, menumbuhkan harapan, dan menjaga agar pertanian desa tetap hidup dari generasi ke generasi.

Langkahnya energik. Hatinya penuh empati. Dan pengabdiannya terus bersemi di tanah Muncan.

Kontributor: DeBasur & Agus Goge

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 10
Dislike Dislike 0
Love Love 4
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0