Alit Samuh: “Tersesat di Jalan yang Benar”

Di tengah pesatnya perkembangan kawasan wisata, Desa Canggu masih menyimpan denyut pertanian yang terus dijaga. Di sanalah Ni Nyoman Alit Purwaningsih menjalankan perannya sebagai penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuta Utara menjembatani perubahan zaman dengan keberlanjutan pertanian.

Mar 25, 2026 - 06:01
 0  37
Alit Samuh: “Tersesat di Jalan yang Benar”

Alit Samuh: “Tersesat di Jalan yang Benar”

Sempat ragu memilih pertanian, Ni Nyoman Alit Purwaningsih, S.P., M.P. justru menemukan makna pengabdian dari usaha kaktus hingga turun langsung mendampingi petani.

Pagi itu suasana Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuta Utara terasa tenang. Di ruang kerja sederhana, Ni Nyoman Alit Purwaningsih menyambut awak media Perhiptani Bali dengan senyum hangat. Sulit menyangka, perjalanan perempuan muda ini menuju dunia pertanian tidak dimulai dari keyakinan, melainkan dari keraguan.

Lahir di Denpasar dari orang tua asal Nusa Penida, Alit Samuh begitu ia kerap disapa, sebenarnya tumbuh di lingkungan yang lekat dengan pertanian. Kedua orang tuanya merupakan lulusan pertanian, bahkan sang ayah pernah mengabdi sebagai aparatur di Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung.

Namun, jalan hidup tak selalu berjalan sesuai rencana.

Usai lulus dari SMA Negeri 3 Denpasar tahun 2011, Alit melanjutkan studi ke Universitas Udayana dengan mengambil jurusan pertanian pilihan yang awalnya bukan prioritas utama.

“Jujur saja, awalnya ini bukan pilihan utama saya. Karena pilihan pertama tidak lolos, akhirnya saya masuk ke pertanian. Di awal kuliah sempat merasa bingung. Saya sempat bertanya-tanya, ini saya di jalur yang benar atau tidak,” kenangnya.

Alih-alih berhenti, ia memilih bertahan. Seiring waktu, keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Dunia pertanian yang semula terasa asing justru membuka banyak hal baru yang menarik untuk dipelajari.

Ia menamatkan pendidikan sarjana pada 2015. Jalan yang semula dipilih dengan ragu itu justru membawanya melangkah lebih jauh. Di Universitas Udayana, ia melanjutkan studi magister di bidang Bioteknologi Pertanian.

Kerja kerasnya berbuah pada Desember 2017, saat ia resmi menyandang gelar Magister Pertanian (M.P.). Namun bagi Alit, capaian itu bukanlah garis akhir. Justru dari titik itulah, ia mulai memahami bahwa ilmu yang dipelajari tak cukup berhenti di ruang kelas.

Perlahan, pengetahuan yang ia bangun diuji di lapangan bertemu langsung dengan petani, membaca persoalan nyata, dan mencari solusi yang bisa diterapkan. Dari sanalah ia menemukan bahwa pertanian bukan sekadar teori, melainkan tentang bagaimana ilmu hadir dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Di fase inilah, sisi lain dirinya mulai tumbuh. Bersama pasangannya yang kini menjadi suami Alit merintis usaha kecil menjual kaktus dan tanaman hias. Usaha sederhana itu tak hanya bertahan, tetapi juga membawanya berbagi pengalaman dalam berbagai forum wirausaha muda.

Tak berhenti di situ, ia juga aktif dalam kegiatan KTNA dan sempat mengikuti Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) di Aceh sebuah pengalaman yang memperluas jejaring sekaligus membuka wawasannya tentang dunia pertanian yang lebih luas.

Selepas menyelesaikan pendidikan, Alit mencoba berbagai peran. Ia pernah menjadi tenaga pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di kawasan Nusa Dua pada 2018 hingga 2022.

Namun, titik balik sesungguhnya terjadi ketika ia terjun langsung ke lapangan.

Tahun 2020, ia bergabung sebagai tenaga kontrak di Dinas Pertanian Kabupaten Badung sebagai POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan). Di sinilah ia mulai berinteraksi langsung dengan petani dan memahami realitas pertanian dari dekat.

“Saya banyak belajar dari petani. Dari situ saya mulai paham bahwa pertanian bukan hanya teori, tapi juga tentang kehidupan,” ujarnya.

Pengalaman itu menjadi fondasi kuat dalam perjalanan kariernya. Pada 2024, Alit resmi diangkat sebagai PPPK dan kini bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Ahli Pertama di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kuta Utara.

Dalam perannya saat ini, ia dipercaya mendampingi petani di wilayah binaan Desa Canggu. Di tengah dinamika kawasan yang berkembang pesat sebagai destinasi pariwisata, Alit tetap berupaya menjaga denyut pertanian agar terus hidup.

Pendampingan yang dilakukannya tidak hanya sebatas teknis budidaya, tetapi juga membangun komunikasi dan kepercayaan dengan petani. Baginya, kehadiran penyuluh bukan sekadar memberi arahan, melainkan menjadi bagian dari solusi di lapangan.

“Setiap wilayah punya tantangan berbeda. Di Canggu, kami juga harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan alih fungsi lahan,” ujarnya.

“Awalnya memang tidak direncanakan. Tapi ternyata di sini saya merasa nyaman,” katanya.

Ia percaya, tidak semua langkah harus diawali dengan kepastian. Kadang, justru dari proses yang tidak terduga, seseorang menemukan tempat terbaik untuk bertumbuh.

“Mungkin benar, kadang kita memang tersesat di jalan yang benar,” tutupnya. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0