Made Sarjana: Tak Semua Panen untuk Pasar

Bagi Made Sarjana, panen bukan sekadar soal hasil jual. Petani asal Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini memilih menyimpan sebagian gabahnya demi menjaga ketahanan pangan keluarga.

Feb 24, 2026 - 02:49
Feb 24, 2026 - 02:55
 0  42
Made Sarjana: Tak Semua Panen untuk Pasar

Made Sarjana:

                               Tak Semua Panen untuk Pasar

Langkah Made Sarjana pelan menyusuri galengan sawah di Dusun Gambuh, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Matanya awas memperhatikan pertumbuhan padi yang tampak seragam. Daunnya masih hijau segar belum menguning menandakan usia tanaman kini memasuki sekitar 70 hari setelah tanam.

Di lahan seluas 50 are yang ia garap dengan varietas Ciherang itu, Made Sarjana menanam lebih dari sekadar padi. Ia menanam ketenangan bagi keluarganya. Sebagai Kelian Subak Munduk Kendang, ia juga memimpin subak seluas 12,5 hektare dengan 33 petani aktif yang tetap menjaga tradisi gotong royong dalam mengelola sawah.

Di gubuk kecil pinggir sawah, Made Sarjana bercerita tentang kebiasaan yang kini kembali ia pertahankan. Tidak semua hasil panen dijual. Sebagian gabah dikeringkan, digiling secara bertahap, lalu disimpan menjadi beras untuk kebutuhan makan keluarga sehari-hari.

“Hasil panen sebagian kami simpan. Ini untuk konsumsi sendiri supaya lebih tenang dan tercukupi,” ujarnya.

Bagi Made, keputusan itu bukan tanpa alasan. Dengan menyimpan sebagian hasil panen, kebutuhan pangan keluarga lebih terjamin. Ia tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga beras di pasaran. Beras yang dikonsumsi pun lebih terjaga kualitasnya karena berasal dari sawah sendiri dan diproses secara bertahap sesuai kebutuhan.

Namun, bukan berarti seluruh hasil panen ditahan. Sebagian lainnya tetap dijual dalam bentuk beras untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Hasil penjualan itulah yang digunakan untuk membiayai berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari kebutuhan harian hingga biaya pendidikan.

“Sebagian kita konsumsi untuk ketahanan keluarga, sebagian lagi dijual dalam bentuk beras untuk menopang kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.

Baginya, pola ini menjadi jalan tengah antara menjaga ketersediaan pangan dan tetap memperoleh penghasilan. Sawah bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga benteng ketahanan keluarga.

Musim tanam kali ini pun memberi harapan baik. Tanaman terlihat sehat dengan pertumbuhan yang optimal. Selama masa tanam, padi relatif terhindar dari serangan hama dan penyakit. Made Sarjana mengakui, pendampingan dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) serta petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) sangat membantu petani dalam melakukan pencegahan sejak dini.

“Dengan adanya pendampingan, kami lebih paham cara pencegahan sejak awal, sehingga tanaman bisa tumbuh bagus seperti sekarang,” tambahnya.

Di tengah tantangan pertanian yang kian dinamis, Made Sarjana memilih tetap berpijak pada prinsip keseimbangan: antara pasar dan dapur, antara hasil jual dan simpanan pangan. Dari galengan sawah Munduk Kendang, ia membuktikan bahwa ketahanan keluarga bisa dimulai dari keputusan sederhana tidak menjual seluruh hasil panen.

Koresponden: Dewa Darmayasa

Editor: Widianta

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0