Yudistira: “Dulu Satpam dan Sopir, Kini Penyuluh di Garda Terdepan Petani”
Dari pos jaga dan kursi kemudi, I Dewa Made Yudistira menapaki jalan sunyi hidupnya. Kini, ia berdiri di tengah sawah menjadi penyuluh yang mengawal harapan para petani.
Yudistira:
“Dulu Satpam dan Sopir, Kini Penyuluh di Garda Terdepan Petani”
Siang itu, matahari Sidemen bersinar terik. Usai memberikan bimbingan teknis kepada petani binaannya, I Dewa Made Yudistira duduk bersila di bale subak. Keringatnya belum sepenuhnya kering, namun senyumnya tetap mengembang. Tak banyak yang menyangka, penyuluh pertanian yang kini berseragam ASN itu pernah berdiri lama di pos jaga bukan di tengah sawah memberi arahan.
“Perjalanan saya tidak dimulai dari ruang kantor yang nyaman,” ucapnya pelan.
Ia lahir dari keluarga sederhana. Hidupnya akrab dengan keterbatasan. Tahun 2010, ia bekerja sebagai satpam di Dinas Perkebunan Provinsi Bali. Penghasilan pas-pasan membuatnya harus menerima kenyataan bahwa pendidikan tinggi belum menjadi prioritas.
Di saat teman-teman seangkatannya telah menyelesaikan kuliah dan menggelar toga, ia justru masih berjibaku mencari nafkah. Ada rasa tertinggal. Ada perasaan kecil di hati yang sempat bertanya, “Apakah saya akan selamanya seperti ini?”
Tekanan ekonomi pernah membuatnya nyaris menyerah.
Namun hidup tak berhenti di pos jaga. Ia kemudian menjadi tenaga kontrak sekaligus sopir di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali yang kini bertransformasi menjadi Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali. Selama kurang lebih delapan tahun, ia mengemudikan kendaraan dinas, mengantar peneliti dan pegawai ke berbagai pelosok desa.
“Tugas saya memang sopir. Tapi setiap perjalanan adalah ruang belajar,” kenangnya.
Diam-diam ia menyerap ilmu. Ia mendengar diskusi peneliti, menyaksikan proses pengkajian, melihat langsung petani berjuang mempertahankan hasil panen. Dari kursi kemudi itulah tumbuh tekad suatu hari, ia ingin berdiri di garda depan membantu petani.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum mapan, tahun 2012 ia mengambil keputusan besar. Ia mendaftar kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar.
Saat teman-temannya sudah lama menyandang gelar sarjana, ia baru berani melangkah masuk ruang kuliah. Siang bekerja, malam belajar. Rasa lelah menjadi teman akrab. Namun ia tak lagi peduli pada kata “terlambat”.
“Saya tidak malu terlambat. Saya hanya takut kalau tidak pernah mulai,” ujarnya.
Perjuangan itu berbuah manis. Tahun 2016, ia resmi menyandang gelar sarjana pertanian. Namun ia tak berhenti di sana. Ia terus bekerja, terus belajar, terus mempersiapkan diri.
Hingga akhir 2021, kabar yang ditunggu itu datang. Astungkara, ia dinyatakan lulus CPNS di Kabupaten Karangasem. Dari tenaga kontrak dan sopir, ia kini resmi menjadi ASN.
Penempatan di BPP Kecamatan Sidemen menjadi babak baru pengabdiannya. Dalam dua tahun terakhir, ia aktif mendampingi petani, terlibat dalam program pembangunan pertanian daerah, hingga berpartisipasi dalam ajang Citta Pangripta Prakerti Nadi Kabupaten Karangasem. Ia juga mendapat kesempatan mengikuti Lomba Penyuluh Teladan.
Bagi Yudistira, semua itu bukan sekadar pencapaian pribadi.
“Ini bukti bahwa kerja keras dari bawah tidak pernah sia-sia,” katanya mantap.
Sebagai pria berzodiak Gemini, ia dikenal komunikatif dan mudah beradaptasi. Karakter itu membantunya dekat dengan petani binaannya. Ia tak sekadar memberi penyuluhan, tetapi hadir sebagai sahabat diskusi di tengah sawah.
Siang itu, di bale subak yang sederhana, kisahnya mengalir seperti air irigasi yang tak pernah berhenti mencari jalan. Dari pos jaga hingga menjadi penyuluh, ia membuktikan bahwa mimpi tak mengenal kata terlambat.
Ia mungkin memulai lebih lambat dari yang lain. Namun ia tidak pernah berhenti melangkah. (Debasur)
What's Your Reaction?
Like
9
Dislike
0
Love
3
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0