Angga, Penggerak LTT di Desa Sidan
Pagi itu, Putu Surya Anggaraditya tak hanya memantau penerapan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela) di Subak Jageperang, Desa Sidan. Penyuluh muda asal Gianyar itu, juga aktif mengawal berbagai program strategis pendukung gerakan Luas Tambah Tanam (LTT) berbasis ramah lingkungan demi memperkuat pertanian berkelanjutan di wilayah binaannya.
Angga, Penggerak LTT di Desa Sidan
GIANYAR – Jejak roda seeder membelah lumpur sawah Subak Jageperang, Desa Sidan, pagi itu. Seorang petani tampak sigap mengoperasikan alat tanam benih langsung (Tabela), sementara disekitarnya seorang pemuda sesekali berhenti, mengamati jarak tanam sambil berdiskusi mengenai teknik budidaya yang lebih efisien.
Pemuda itu adalah Putu Surya Anggaraditya . Bagi petani di Desa Sidan dan Temesi, ia bukan sekadar penyuluh pertanian. Angga sapaan akrabnya telah menjelma menjadi sahabat sekaligus penghubung berbagai inovasi pertanian yang dibutuhkan petani di lapangan.
Tak banyak yang tahu, jalan hidup pria asli Gianyar itu justru bermula dari dunia yang jauh dari aroma lumpur sawah.
Lahir dan besar di Gianyar, Angga merupakan lulusan SMK Negeri Gianyar tahun 2017 jurusan Teknik Komputer. Selepas sekolah, ia sempat menyaksikan kerasnya persaingan dunia kerja dengan bergabung di Rimo Trade Center. Namun, takdir rupanya membawa ke jalan yang berbeda.
Pada tahun 2018, Angga bergabung dengan Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar sebagai staf Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura. Dari kecintaannya terhadap dunia pertanian mulai tumbuh. Berinteraksi dengan petani dan menyaksikan langsung dinamika di lapangan membuatnya yakin bahwa sektor pertanian adalah bidang yang ingin ditekuninya.
Kesadaran bahwa pendampingan petani membutuhkan bekal ilmu yang mampu mendorongnya kembali ke bangku kuliah. Di tengah kesibukannya sebagai staf dinas, ia mengambil Program Studi Agroteknologi Universitas Dwijendra.
Hari-harinya pun terbagi antara ruang kuliah dan hamparan subak. Pagi hingga sore menjalankan tugas kedinasan, malam hari dihabiskan untuk menuntaskan perkuliahan. Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Pada 2023, Angga berhasil meraih gelar Sarjana Pertanian.
Kariernya terus melesat. Pada pertengahan 2025, ia resmi bertransformasi menjadi penyuluh pertanian. Dedikasi dan kompetensinya mengantarkan Angga bergabung dengan Kementerian Pertanian RI pada awal 2026. Ia mendapat amanah bertugas di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Gianyar dengan wilayah binaan Desa Sidan dan Desa Temesi.
Kiprah Angga sebagai penyuluh muda juga mendapat apresiasi dari Koordinator BPP Gianyar, Ni Nyoman Apriani, SP. Menurutnya, Angga merupakan sosok penyuluh muda yang mudah beradaptasi dan memiliki semangat belajar yang tinggi.
"Angga itu anaknya ramah, kalem, rajin, dan disiplin. Sebagai penyuluh muda, dia cepat berbaur dengan petani maupun rekan kerja. Kemauannya untuk belajar juga tinggi, sehingga berbagai tugas dan pendampingan di lapangan dapat dijalankan dengan baik," ungkap Apriani.
Ia menilai kehadiran generasi muda seperti Angga menjadi energi baru bagi penyuluhan pertanian di Gianyar. Dengan karakter yang dimilikinya, Angga diharapkan mampu terus berkembang dan menjadi penggerak pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan petani di lapangan.
Bagi Angga, kembali mengabdi di tanah kelahiran merupakan kebanggaan tersendiri. Baginya, petani adalah garda terdepan ketahanan pangan yang harus terus diperkuat melalui inovasi dan pendampingan yang berkelanjutan.
Komitmen itu diwujudkannya melalui berbagai kegiatan pendampingan. Tak hanya mendorong penerapan teknologi budidaya modern, Angga juga aktif mengawal program strategis yang mendukung gerakan Luas Tambah Tanam (LTT) berbasis ramah lingkungan. Bersama Tim Provinsi, ia turut menggelar bimbingan dan diseminasi sertifikasi organik bagi para pekaseh dan petani di Subak Kwalonan, Desa Sidan.
Sinergi tersebut semakin memperkuat posisi Desa Sidan sebagai salah satu lumbung pangan organik di Gianyar yang siap memasok beras sehat berkualitas premium bagi masyarakat Bali. Menurut Angga, pertanian masa depan tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga harus menjaga keberlanjutan lingkungan dan menghasilkan pangan yang aman bagi masyarakat.
Semangat yang sama terlihat saat dirinya mendampingi petani di Subak Jageperang. Bersama para petani, Angga mendiseminasikan penerapan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela), sebuah inovasi budidaya padi tanpa melalui proses persemaian dan pencabutan bibit seperti cara konvensional.
Di atas lahan sawah yang telah diolah sempurna, para petani mengoperasikan drum seeder untuk menebar benih secara seragam. Bagi Angga, teknologi sederhana tersebut mampu memberikan dampak besar. Selain mempercepat waktu tanam, sistem Tabela juga mampu menghemat biaya tenaga kerja dan mengoptimalkan populasi tanaman.
Oleh karena itu, ia lebih sering memilih berada di tengah petani dibandingkan di belakang meja. Baginya, kehadiran penyuluh pertanian tidak sekedar menjalankan tugas administratif. Penyuluh harus hadir di garis depan, mendengar persoalan politik, sekaligus menghadirkan solusi yang dapat langsung diterapkan.
"Penyuluh itu bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal ketulusan mendampingi petani. Dan itu saya lihat ada pada diri Angga," tambah Apriani. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1