PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi Cetak Sejarah, Pekaseh Catur Angga Batukaru Berbadan Hukum

Tak sia-sia kerja keras DPW PERHIPTANI Bali bersama Yayasan Sashi. Berawal dari pelatihan padi hemat air, kini 20 pekaseh di kawasan warisan dunia Catur Angga Batukaru, Penebel, Tabanan, berhasil menyatukan langkah dengan membentuk Kelompok Kerja Pekaseh berbadan hukum untuk menjaga kelestarian subak dan memperkuat kesejahteraan petani.

Jun 16, 2026 - 13:36
 0  21
PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi Cetak Sejarah, Pekaseh Catur Angga Batukaru Berbadan Hukum

PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi Cetak Sejarah, Pekaseh Catur Angga Batukaru Berbadan Hukum

TABANAN – Kerja panjang yang dirintis DPW PERHIPTANI Bali bersama Yayasan Sashi akhirnya berbuah manis. Upaya memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan budidaya padi hemat air kini berkembang menjadi gerakan yang lebih besar. Sebanyak 20 pekaseh dari kawasan Subak Catur Angga Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, sepakat mengorganisir diri dengan membentuk Pengurus Kelompok Kerja Pekaseh Kawasan Catur Angga Batukaru berbadan hukum perkumpulan untuk periode 1 Juli 2026–30 Juni 2031.

Pembentukan kepengurusan tersebut ditetapkan pada Sabtu (13/6) di Kantor BPP Penebel, Tabanan. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kelembagaan subak di kawasan warisan budaya dunia yang selama ini dikenal sebagai benteng pertanian berbasis kearifan lokal di Bali.

Ketua DPW PERHIPTANI Bali, Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., mengatakan lahirnya kelompok kerja tersebut merupakan hasil dari proses panjang pendampingan dan kolaborasi antara PERHIPTANI Bali dengan Yayasan Sashi.

“Berawal dari pelatihan budidaya padi hemat air yang diikuti petani di kawasan Catur Angga Batukaru, kini para pekaseh mampu mengorganisir diri dan menyusun AD/ART organisasi. Ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas petani tidak hanya menghasilkan inovasi budidaya, tetapi juga melahirkan kelembagaan yang kuat,” ujarnya.

Menurut Alit Artha Wiguna, sebelumnya PERHIPTANI Bali bersama Yayasan Sashi memperkenalkan teknologi pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD) kepada petani di kawasan tersebut. Sistem ini memungkinkan penggunaan air menjadi lebih efisien tanpa mengurangi produktivitas tanaman padi.

Seiring berjalannya waktu, para pekaseh dari 20 subak di kawasan Catur Angga Batukaru semakin intens berdiskusi dan menyadari pentingnya memiliki wadah bersama untuk menjaga keberlanjutan subak sekaligus memperkuat posisi petani di tengah berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga tekanan alih fungsi lahan.

Melalui musyawarah yang berlangsung di BPP Penebel, para pekaseh membahas dan menyepakati anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi serta menetapkan kepengurusan periode 2026–2031.

Jabatan ketua dipercayakan kepada I Wayan Mustra, Pekaseh Subak Jatiluwih. Posisi wakil ketua diemban I Nengah Sutamaya dari Subak Rejasa, sekretaris dijabat I Made Buana dari Subak Pesagi, sedangkan bendahara dipercayakan kepada I Ketut Tambun dari Subak Tengkudak. Kepengurusan tersebut diperkuat oleh 20 orang anggota yang merupakan pekaseh dari seluruh Subak Catur Angga Batukaru.

Adapun tim pengarah terdiri atas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Koordinator Penyuluh BPP Penebel, I Ketut Suastika, Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., I Wayan Sukayadnya, serta A.A.A. Raka Mirah. Sementara Yayasan Sashi berperan sebagai pendamping organisasi.

Kelompok kerja ini mengusung visi “Terwujudnya kelestarian subak berlandaskan Tri Hita Karana untuk kesejahteraan petani.”

Untuk mewujudkan visi tersebut, organisasi menetapkan sejumlah misi, antara lain meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian subak sebagai warisan budaya dan penjaga keseimbangan lingkungan, mendorong pertanian berkelanjutan, memperkuat promosi pariwisata berbasis subak, serta meningkatkan kemampuan petani dalam menguasai teknologi pertanian.

Ketua terpilih, I Wayan Mustra, menegaskan bahwa keberadaan kelompok kerja ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan antarpekaseh di kawasan Catur Angga Batukaru.

“Subak bukan hanya sistem irigasi, tetapi warisan budaya yang harus dijaga bersama. Dengan wadah ini, kami ingin memperkuat sinergi antarsubak, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memastikan nilai-nilai Tri Hita Karana tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” katanya.

Lahirnya Kelompok Kerja Pekaseh Kawasan Catur Angga Batukaru menjadi bukti bahwa kolaborasi antara penyuluh pertanian, petani, dan lembaga pendamping mampu melahirkan kelembagaan yang kuat. Dari inovasi hemat air di sawah, tumbuh semangat bersama menjaga warisan dunia dan masa depan pertanian Bali. (JikWid/Cikk)

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0