Jejak Penyuluh di Balik Panen Padi Mansur

GIANYAR – Padi lokal Mansur kembali mengharumkan pertanian Bali. Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, turun langsung memanen padi bersama petani di Subak Timbul, Tegallalang. Kesuksesan kerja sama Waseda University, Dwijendra University, dan JICA itu ternyata berawal dari data lapangan yang disiapkan para penyuluh pertanian setempat.

Jun 13, 2026 - 00:27
 0  1
Jejak Penyuluh di Balik Panen Padi Mansur

Jejak Penyuluh di Balik Panen Padi Mansur

GIANYAR – Padi lokal Mansur kembali menunjukkan pesonanya. Konsul Jenderal Jepang di Denpasar, Miyakawa Katsutoshi, ikut turun ke sawah dalam panen bersama di kawasan Subak Timbul, Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Kamis (11/6/2026).

Panen bersama tersebut merupakan bagian dari proyek kerja sama internasional antara Waseda University dan Dwijendra University yang mendapat dukungan Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui program The Project for Increasing Income through Building Participatory Food Value Chain in Indonesia. Program ini bertujuan memperkuat rantai nilai pangan secara partisipatif untuk meningkatkan pendapatan petani, khususnya melalui pengembangan padi dan beras lokal.

Selain Konjen Jepang, kegiatan itu juga dihadiri perwakilan JICA Indonesia, tim Waseda University, pimpinan Dwijendra University, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Gianyar, Tim Komunikasi Gubernur Bali sekaligus Pokja Penanganan Kerusakan Ekosistem, serta jajaran penyuluh pertanian.

Tak hanya meninjau lahan, Miyakawa Katsutoshi bersama rombongan ikut memanen padi, melakukan perontokan, hingga menyaksikan proses penanganan pascapanen. Kehadiran para pihak tersebut menjadi bukti bahwa varietas lokal Bali masih memiliki daya tarik dan nilai ekonomi yang menjanjikan.

Salah satu varietas yang menjadi fokus pengembangan adalah Padi Mansur. Varietas lokal yang telah lama dikenal masyarakat Bali itu masih terus dibudidayakan petani Subak Timbul melalui sistem subak, di tengah masifnya pengembangan varietas padi modern.

Pekaseh Subak Timbul, I Ketut Supatya, mengatakan program yang dijalankan Waseda University dan Dwijendra University dengan dukungan JICA telah memberikan manfaat nyata bagi petani. Selain memperkuat nilai tambah beras lokal, program tersebut juga mendorong pelestarian sistem subak sebagai warisan budaya Bali.

Di balik keberhasilan proyek tersebut, terdapat peran penting para penyuluh pertanian di wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Tegallalang. Bahkan, jauh sebelum kegiatan dilaksanakan, jajaran penyuluh telah melakukan pendataan dan menyiapkan basis data lapangan yang menjadi acuan bagi tim Waseda University, Dwijendra University, dan JICA dalam menentukan lokasi serta petani sasaran.

Koordinator Wilayah BPP Tegallalang, I Wayan Endra Jaya, SP, menjelaskan bahwa menjelang panen bersama, tim penyuluh juga melakukan ubinan pada lahan milik petani I Ketut Suwi Arjaya seluas 0,10 hektare.

"Hasil ubinan mencapai 5,30 kilogram dengan produktivitas setara 8,48 ton per hektare," ujarnya.

Lahan tersebut merupakan wilayah binaan penyuluh pertanian Gusti Bagus Edi Dwiantara, S.Tr.Pt. Capaian produktivitas tersebut menunjukkan bahwa Padi Mansur masih memiliki potensi hasil yang tinggi dan layak terus dikembangkan sebagai varietas unggulan lokal Bali.

Keberhasilan kolaborasi Jepang-Bali ini pun tidak hanya ditopang oleh dukungan akademisi dan lembaga internasional, tetapi juga oleh kerja senyap para penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak pendampingan petani di lapangan. Dari penyusunan basis data, pendampingan budidaya, hingga pengukuran hasil panen, para penyuluh memastikan setiap tahapan proyek berjalan sesuai harapan.

Panen bersama yang dihadiri Konjen Jepang tersebut menjadi bukti bahwa sinergi antara petani, penyuluh, perguruan tinggi, dan lembaga internasional mampu membawa varietas lokal Bali menembus perhatian dunia. Di tengah gempuran varietas modern, Padi Mansur justru membuktikan bahwa kekuatan pertanian Bali bertumpu pada perpaduan kearifan lokal, inovasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Pewarta: Hendra

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0