“Dewi: Dari Blora Kini Dipanggil ‘Jro Dewi’ di Ubud”
Berawal dari jejak orang tua sebagai inseminator, Dewi menembus seleksi ketat CPNS dan kini mengabdi sebagai penyuluh pertanian di Ubud hingga akrab disapa “Jro Dewi” oleh rekan-rekannya.
Dewi:
Dari Blora Kini Dipanggil 'Jro Dewi' di Ubud
Pagi itu, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ubud terasa hidup. Di antara percakapan ringan para petani dan aktivitas penyuluh yang silih berganti, sosok Dewi Nur Khofifah Bisri, S.Pt. tampak menyatu dalam dinamika tersebut. Senyum hangatnya jembatan menjadi komunikasi, mempererat hubungan antara penyuluh dan petani di wilayah yang dikenal dengan kuatnya tradisi subak.
Perempuan muda asal Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang dikenal sebagai Kota Jati, tak pernah membayangkan perjalanannya akan membawanya hingga ke Bali. Namun, dari sanalah kisah pengabdian itu justru menemukan bentuknya.
“Saya dari kecil memang sudah dekat dengan dunia peternakan. Orang tua saya bekerja di Dinas Peternakan, di bidang kesehatan hewan, sebagai inseminator,” ujar Dewi saat ditemui awak media Perhiptani.
Dari kecintaannya itulah, Dewi mulai mengenal dan mencintai dunia peternakan. Ia sering menyaksikan bagaimana peran inseminator membantu peternak meningkatkan produktivitas ternak, sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan mereka.
“Saya lihat sendiri bagaimana peternak sangat terbantu. Dari situ muncul keinginan untuk bisa bermanfaat seperti itu,” tambahnya.
Tekad tersebut mengantarkannya menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2018, mengambil jurusan Ilmu dan Industri Peternakan. Ia menyelesaikan studinya pada awal tahun 2023 dengan harapan besar dapat langsung terjun di bidang yang ia tekuni.
Namun kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dewi sempat menghadapi tantangan dalam memasuki dunia kerja yang linier dengan latar belakang pendidikannya.
“Tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai, apalagi di bidang peternakan. Saya sempat bekerja di bidang marketing,” ungkapnya.
Ia kemudian bergabung dengan platform pendidikan Ruangguru. Meski memberi pengalaman baru, Dewi merasa panggilan hatinya tetap berada di dunia peternakan.
“Rasanya belum menemukan tujuan. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali, ikut bimbingan teknis inseminasi buatan,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi titik balik penting. Pada tahun 2024, Dewi mencoba mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pemerintah Kabupaten Gianyar untuk formasi Penyuluh Pertanian.
“Pesertanya sekitar 270 orang, formasinya hanya 5. Saya hanya ingin mencoba dan memberikan yang terbaik,” kenangnya.
Kerja kerasnya pun membuahkan hasil. Ia berhasil lolos sebagai salah satu dari lima peserta terpilih.
Sejak pertengahan tahun 2025, Dewi resmi bertugas di BPP Ubud. Awalnya membina wilayah Desa Sayan, Kedewatan, dan Ubud, kini ia dipercaya mendampingi 20 subak di kawasan tersebut.
Dalam penjelasannya, Dewi merasakan kehangatan yang khas dari masyarakat Bali.
“Petani di sini sangat ramah, terbuka, dan menjunjung kebersamaan. Itu membuat saya cepat beradaptasi,” tuturnya.
Ia menilai, pendekatan sosial menjadi kunci utama dalam keberhasilan penyuluhan.
“Sebagai penyuluh, kami tidak hanya menyampaikan teknologi, tapi juga membangun kepercayaan,” imbuhnya.
Sementara itu, Koordinator BPP Ubud, I Made Suadi, SP , menilai Dewi sebagai sosok penyuluh muda yang memiliki potensi besar.
“Dewi cepat beradaptasi, komunikatif, dan punya kemauan belajar yang tinggi. Ini penting, apalagi di wilayah seperti Ubud yang memiliki kekuatan sosial budaya yang khas,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran penyuluh muda seperti Dewi menjadi energi baru dalam memperkuat sistem penyuluhan pertanian di lapangan.
“Kami optimistis, dengan pelatihan yang tepat, Dewi bisa menjadi motor penggerak di wilayah binaannya,” tambahnya.
Di tengah keseriusan menjalankan tugas, suasana di BPP Ubud tetap hangat dan penuh keakraban. Rekan-rekan penyuluh sering melontarkan candaan yang membuat suasana semakin cair.
“Kalau sudah lama di sini, siap-siap saja jadi bagian keluarga Puri Ubud,” ujar salah satu rekannya berseloroh.
Candaan itu dilanjutkan dengan tawa ringan.
“Ini bukan penyuluh biasa, ini sudah calon … nanti panggilannya 'Jro Dewi',” timpal yang lain.
Bagi Dewi, sapaan itu bukan sekedar gurauan, melainkan tanda bahwa dirinya telah diterima sebagai bagian dari lingkungan tempat ia mengabdi.
Dari Blora hingga Ubud, perjalanan Dewi menjadi bukti bahwa ketekunan dan keberanian mengambil jalan berbeda dapat mengantarkan seseorang pada tujuan yang bermakna. Kini, di tengah subak yang lestari, ia melangkah mantap mengabdi, belajar, dan tumbuh bersama petani. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
8
Dislike
0
Love
3
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0