Dari Sawit ke Subak, David Pilih Mengabdi di Bali
Di tengah panen padi Subak Intaran Barat, seorang penyuluh muda ikut jongkok di pematang, menghitung hasil ubinan. Muhammad David Hermawan memilih tak sekadar mengarahkan, tapi turun langsung meninggalkan zona nyaman demi hidup bersama petani.
Dari Sawit ke Subak, David Pilih Mengabdi di Bali
Di tengah hamparan padi Subak Intaran Barat, seorang pria muda tampak sibuk menakar hasil panen dengan metode ubinan. Keringat membasahi wajahnya, namun senyumnya tak luntur. Dialah Muhammad David Hermawan, penyuluh pertanian yang memilih jalan tak biasa, meninggalkan dunia korporasi demi kembali ke sawah.
“Ini bukan sekadar angka, tapi gambaran kerja keras petani,” ujar Muhammad David Hermawan, S.P., sambil mencatat hasil ubinan di petaknya.
Awak media PERHIPTANI mendekat. Di sela kesibukan, David tetap membuka ruang berbagi cerita. Suaranya tenang, tapi penuh keyakinan.
“Dulu saya tidak langsung jadi penyuluh,” katanya, membuka kisah.
Lulusan Agroteknologi Universitas Jember tahun 2016 itu sempat merantau jauh. Tahun 2018, ia bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sumatra. Dua tahun berselang, ia berpindah ke Kalimantan, masih di sektor yang sama.
“Pengalaman di sawit itu keras. Target tinggi, tekanan juga tinggi. Tapi di sana saya banyak belajar manajemen lapangan,” kenangnya.
Namun, arah hidupnya berubah pada 2020. Ia kembali ke Jember dan sempat bekerja di perusahaan rokok ternama. Stabil, mapan, dan menjanjikan. Tapi ada yang terasa kurang.
“Saya merasa jauh dari akar saya di pertanian rakyat. Ada panggilan untuk kembali,” ujarnya singkat.
Keputusan besar diambil. Tahun 2022, David “hijrah” ke Bali. Ia mencoba peruntungan sebagai CPNS di Dinas Pertanian Kota Denpasar. Persaingan tak main-main—hanya lima formasi diperebutkan lebih dari 300 pelamar.
“Saya cuma berpikir, kalau memang jalan, pasti ada jalannya,” katanya sambil tersenyum.
Dan jalan itu terbuka. Ia dinyatakan lulus.
Kini, ia bertugas di BPP Denpasar Selatan. Setiap hari, ia turun langsung ke lapangan, mendampingi petani, dari tanam hingga panen.
“Di sini saya merasa lebih hidup. Saya bisa langsung lihat dampak kerja saya ke petani,” ucapnya.
Di Subak Intaran Barat, David bukan sekadar penyuluh. Ia menjadi bagian dari ritme petani. Ikut mengukur, ikut berdiskusi, bahkan ikut merasakan harap saat panen tiba.
“Penyuluh itu bukan hanya memberi arahan, tapi juga harus hadir dan dipercaya,” tegasnya.
Di tengah tantangan pertanian modern perubahan iklim, biaya produksi, hingga regenerasi petani David memilih berdiri di garis depan.
“Kalau bukan kita yang mendampingi petani, siapa lagi?” pungkasnya.
Langkah Muhammad David Hermawan mungkin tak selalu mudah. Dari sawit Sumatra hingga subak di Denpasar Selatan, ia telah melewati banyak persimpangan. Namun satu hal pasti, tempat harapan tumbuh bersama petani. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0