Putu Eka: “Mantan BEM, Penyuluh Bukan yang Paling Pintar”
Di tengah tekanan target tanam dan ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), satu hal sederhana justru menjadi kunci. Penyuluh tidak harus paling pintar, tapi mau belajar bersama petani.
Putu Eka:
“Mantan BEM, Penyuluh Bukan yang Paling Pintar”
Bagi Putu Eka Suwarjana, prinsip itu bukan sekadar kalimat. Ia menjadikannya sebagai cara kerja di lapangan datang bukan untuk menggurui, melainkan untuk mendengar. Dari situlah, ruang dialog terbuka dan kepercayaan mulai tumbuh.
Pendekatan ini menjadi penting, terutama saat petani dihadapkan pada dilema antara mengejar Luas Tambah Tanam (LTT) dan menghadapi risiko serangan hama yang tak menentu. Di titik itulah, peran penyuluh tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan program dengan realitas di lapangan.
Lahir dan besar di Peliatan, Ubud, Gianyar, Eka begitu ia akrab disapa tumbuh sebagai pribadi yang tenang. Ia dikenal gigih, disiplin, dan pekerja keras. Bukan tipe yang banyak bicara, tetapi konsisten dalam tindakan.
Lulusan Teknologi Pertanian Universitas Udayana tahun 2015 ini tidak hanya dibentuk oleh dunia akademik. Saat kuliah, ia aktif sebagai Ketua BEM mahasiswa pengalaman yang menumbuhkan kepekaan sosial dan kemampuan berkomunikasi. Di sisi lain, masa remajanya juga diwarnai dunia seni. Ia piawai menari, sebuah pengalaman yang secara tidak langsung membentuk kehalusan rasa dalam berinteraksi dengan orang lain.
Lulusan Teknologi Pertanian Universitas Udayana tahun 2015 ini memiliki latar belakang yang tidak hanya akademis. Saat kuliah, Pengalamannya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang membentuk kepekaan sosialnya. Di sisi lain, masa remajanya juga diwarnai dunia seni. Ia piawai menari sebuah pengalaman yang secara tidak langsung membentuk kehalusan rasa dalam berinteraksi dengan orang lain.
Selepas kuliah, Eka sempat meniti karier di sektor swasta. Namun, pada 2019, ia memutuskan kembali ke dunia pertanian dengan bergabung sebagai tenaga kontrak di Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, tepatnya di bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH).
Di fase ini, ia mulai memahami bahwa persoalan pertanian tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan. Banyak program yang secara teknis baik, tetapi tidak berjalan maksimal karena pendekatan yang kurang tepat.
“Kadang kita terlalu fokus pada teknologinya, tapi lupa cara menyampaikannya,” katanya.
Tahun 2025 menjadi titik balik penting. Ia resmi menjadi penyuluh pertanian. Setahun kemudian, ia mendapat amanah bertugas di BPP Kecamatan Ubud dengan wilayah binaan Desa Mas dan Desa Petulu.
Di lapangan, tantangan yang ia hadapi nyata. Di satu sisi, pemerintah mendorong percepatan LTT untuk menjaga produksi pangan. Di sisi lain, petani menghadapi ancaman OPT yang kerap muncul di waktu yang tidak terduga. Mulai dari serangan hama hingga penyakit tanaman yang bisa menurunkan produktivitas secara signifikan.
Situasi ini sering memunculkan dilema. Petani menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung menunda tanam. Sementara itu, target tetap harus dicapai.
Di sinilah pendekatan Eka menjadi relevan. Ia tidak memulai dengan instruksi, tetapi dengan percakapan.
“Kalau langsung bicara target, petani bisa merasa ditekan. Tapi kalau kita mulai dari masalah yang mereka hadapi, seperti OPT, mereka lebih mau diskusi,” jelasnya.
Dalam beberapa kesempatan, Eka memilih duduk bersama petani di sawah, membahas kondisi tanaman secara langsung. Ia mengajak petani mengamati gejala serangan OPT, mendiskusikan penyebabnya, lalu bersama-sama mencari solusi. Dari situ, perlahan ia mengaitkan dengan pentingnya pengaturan pola tanam dan percepatan LTT.
Pendekatan ini memang tidak instan. Namun, hasilnya lebih berkelanjutan. Petani tidak merasa digurui, melainkan dilibatkan.
“Kalau petani sudah merasa ikut menentukan, mereka biasanya lebih yakin untuk melaksanakan,” katanya.
Karakter Eka yang humble dan cekatan juga menjadi nilai tambah. Ia tidak ragu turun langsung ke lapangan, bahkan dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Baginya, kehadiran penyuluh di tengah petani jauh lebih penting daripada sekadar laporan administrasi.
Ia juga menyadari bahwa tantangan ke depan tidak akan semakin ringan. Perubahan iklim, dinamika pasar, serta tekanan terhadap produksi pangan akan terus meningkat. Dalam situasi itu, penyuluh dituntut tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pemecah masalah.
“Penyuluh itu bukan yang paling pintar, tapi mau belajar bersama,” ujarnya.
Prinsip untuk tidak merasa paling tahu menjadi landasan dalam menjalankan peran tersebut. Dengan merendah, ia membuka ruang dialog. Dengan mendengar, ia membangun kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah, perubahan mulai tumbuh.
Di tengah upaya mendorong LTT dan menghadapi ancaman OPT, pendekatan seperti ini menjadi semakin penting. Karena pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh seberapa kuat hubungan antara penyuluh dan petani.
Di Ubud, di antara hamparan sawah yang terus berubah, Putu Eka Suwarjana memilih jalan yang mungkin tidak selalu terlihat mencolok. Ia tidak tampil sebagai sosok yang paling vokal. Namun, melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, ia perlahan menembus kebuntuan membangun kepercayaan, menguatkan petani, dan menjaga harapan di sektor pertanian tetap tumbuh. (JikWid/sintya)
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0