drh. Ni Ketut Subudhiasri: Kecil-Kecil Cabe Rawit, Menggerakkan Subak

Tubuhnya kecil, geraknya lincah, energinya seolah tak pernah habis. Di tengah Bale Subak Penarungan, drh. Ni Ketut Subudhiasri hadir bukan sekadar sebagai penyuluh, tetapi sebagai penggerak membangkitkan semangat petani menghadapi ancaman hama tikus.

Mar 27, 2026 - 06:37
Mar 27, 2026 - 06:40
 0  42
drh. Ni Ketut Subudhiasri: Kecil-Kecil Cabe Rawit, Menggerakkan Subak

drh. Ni Ketut Subudhiasri: Kecil-Kecil Cabe Rawit, Menggerakkan Subak

Dari dokter hewan, Ni Ketut Subudhiasri kini jadi penyuluh enerjik yang cepat menyatu dengan krama Subak Penarungan dalam menghadapi ancaman hama tikus.

Tubuhnya kecil, geraknya lincah. Tawanya ringan, tapi langkahnya pasti. Siang itu di Bale Subak Penarungan, suasana yang semula kaku berubah hangat. Seorang perempuan dengan gestur imut justru menjadi pusat perhatian. Bukan karena penampilannya, melainkan karena energi yang ia bawa ke tengah petani.

Usai sosialisasi pengendalian hama tikus, drh. Ni Ketut Subudhiasri belum beranjak. Ia masih duduk di bale subak, dikelilingi krama subak yang antusias bertanya. Dari persoalan serangan tikus hingga strategi gotong royong, semua dilayani dengan sabar. Sesekali ia menyelipkan candaan, membuat suasana cair.

“Kalau tikus itu tidak dilawan bersama-sama, ya kita pasti kalah,” ujarnya. Kalimat sederhana, tapi mengandung pesan kuat. Kebersamaan adalah kunci.

Perempuan kelahiran Desa Blahkiuh, Kabupaten Badung ini memang baru beberapa waktu bertugas di wilayah binaan Desa Penarungan. Namun, ia tak butuh waktu lama untuk menyatu. Karakternya yang komunikatif membuat jarak antara penyuluh dan petani seolah lenyap.

Subak Penarungan yang kini menjadi wilayah dampingannya memiliki luas sekitar 265 hektare. Subak ini merupakan satu dari tiga subak di Desa Penarungan, selain Subak Guming dan Subak Abian. Total krama subak mencapai 404 orang, dengan 16 pangliman yang bekerja di bawah koordinasi pekaseh.

“Potensinya besar sekali. Tapi memang tantangannya juga besar kalau tidak kompak,” jelasnya.

Baginya, penyuluhan tidak cukup hanya menyampaikan materi teknis. Lebih dari itu, membangun kesadaran kolektif petani jauh lebih penting. Ia lebih memilih berdialog daripada sekadar memberi ceramah.

“Kalau kita mau diterima, kita harus mau mendengar dulu. Petani itu punya pengalaman luar biasa,” tuturnya.

Pendekatan itu rupanya mulai membuahkan hasil. Pekaseh Subak Penarungan, I Made Suka, mengaku kehadiran penyuluh baru ini membawa warna berbeda.

“Beliau ini cepat sekali akrab dengan krama. Cara menyampaikannya ringan, tapi mudah dipahami. Petani jadi tidak sungkan bertanya,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar di subak saat ini adalah serangan hama tikus yang membutuhkan penanganan serempak. Dalam konteks itu, peran penyuluh menjadi sangat penting.

“Kami butuh yang bisa menggerakkan, bukan hanya memberi arahan. Dan itu terlihat pada beliau,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh salah satu petani setempat, Pak Wayan. Ia mengaku lebih semangat mengikuti kegiatan penyuluhan karena pendekatan yang digunakan terasa dekat.

“Kalau dulu kadang kami dengar saja, sekarang lebih banyak diskusi. Jadi kami merasa dilibatkan,” katanya.

Perjalanan hidup Subudhiasri sendiri tidak instan. Lulus SMA pada 1993, ia langsung melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Dunia veteriner menjadi pijakan awalnya.

Tahun 2000, ia membuka praktik dokter hewan. Di saat bersamaan, ia juga merintis usaha kecil berupa petshop. Dunia usaha dan profesi dijalaninya beriringan.

“Waktu itu apa saja dikerjakan. Yang penting tetap bergerak,” kenangnya.

Langkahnya kemudian berlanjut ke dunia pemerintahan. Pada 2008, ia bergabung sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) Medik Veteriner di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan ditempatkan di Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Pengalaman lapangan semakin memperkaya perspektifnya. Pada 2013, ia bertugas di Puskeswan Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Di sana, ia semakin dekat dengan realitas petani dan peternak.

Titik balik terjadi pada 2021. Ia diangkat sebagai PPPK Penyuluh Pertanian di Dinas Pertanian Klungkung dan ditempatkan di BPP Kecamatan Banjarangkan dengan wilayah binaan Desa Bakas.

“Di situ saya benar-benar belajar mendampingi petani secara utuh. Bukan hanya soal teknis, tapi juga memahami kondisi mereka,” ujarnya.

Tahun 2026 menjadi babak baru. Ia dialihkan ke Kementerian Pertanian dan mulai Maret 2026 bertugas di BPP Mengwi wilayah binaan Desa Penarungan, Kabupaten Badung.

Meski terbilang baru, ia langsung dihadapkan pada tantangan nyata. Serangan hama tikus yang mengancam produktivitas lahan. Namun, ia tidak melihatnya sebagai beban.

“Ini justru momentum untuk membangun kebersamaan,” katanya.

Dengan gaya komunikasinya yang cair, ia terus mendorong gerakan pengendalian hama secara serentak. Ia percaya, keberhasilan tidak ditentukan oleh satu orang, melainkan oleh kekompakan seluruh krama subak.

Di balik gesturnya yang imut dan enerjik, tersimpan keteguhan. Ia bukan tipe yang banyak bicara panjang, tetapi lebih memilih bergerak di lapangan.

Sore mulai turun di Penarungan. Satu per satu krama subak meninggalkan bale subak. Namun, Subudhiasri masih bertahan, berbincang dengan beberapa petani yang tersisa.

Energinya seolah belum habis.

Mungkin benar, tubuhnya kecil. Tapi di balik itu, ada semangat besar yang terus bergerak menghidupkan subak, menguatkan petani, dan menjaga harapan tetap tumbuh di tengah sawah. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0