Kadek Ari Dewi Wahyuni: Di Balik Lembutnya, Tekadnya Baja
Di balik kelembutannya, tersimpan tekad baja. Dari gadis desa pemburu beasiswa hingga menjadi penyuluh tangguh, ia menapaki jalan pengabdian dengan anggun, ramah, dan penuh jiwa keibuan.
Kadek Ari Dewi Wahyuni :
Di Balik Lembutnya, Tekadnya Baja
Di sudut Taman Petapan , lokasi kegiatan DPD Perhiptani Kabupaten Klungkung, Jumat pekan lalu, sosok itu tampak tenang menyatu dengan suasana. Jemarinya lincah menari di atas papan ketik, sesekali ia mengulum senyum hangat kepada rekan sejawat yang menyapa. Ada kelembutan yang tak dibuat-buat, menonjolkan alami dari raut wajahnya yang ayu. Aura keibuan begitu terasa teduh, namun berwibawa. Dialah Kadek Ari Dewi Wahyuni, SP , penyuluh pertanian yang kini menapaki jalan pengabdian di Kabupaten Klungkung.
Pada kegiatan berbagi pengetahuan bertajuk “Peran Strategis Penyuluh Pertanian dalam Penguatan Akurasi Data Statistik” , perhatian awak media Perhiptani sempat tertuju pada gesturnya. Anggun dan santun, namun tegas. Pembawaannya hangat, tetapi menyiratkan keteguhan cermin karakter Scorpio yang dikenal penuh determinasi.
Perempuan kelahiran Desa Tedung, Kelurahan Abianbase, Gianyar itu berkisah dengan mata berbinar. Lulus dari SMPN 3 Gianyar, ia bertekad memburu beasiswa ke SMA Bali Mandara. Ada kegelisahan sederhana yang mengiringi langkahnya kala itu, jangan sampai orang tua terbebani biaya pendidikan.
Namun jalan hidup membawa lebih jauh dari sekedar mimpi remaja desa. Ia justru direkrut oleh yayasan Sampoerna Academy dan menempuh pendidikan di SMA Negeri Sumatera Selatan (Sampoerna Academy), Palembang. Sekolah internasional berasrama itu diperuntukkan bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. “Semua ditanggung, dari makan, buku, pakaian, sampai tiket liburan,” kenangnya. Tahun 2015, ia menuntaskan studi dengan disiplin dan kemandirian yang ditempa di tanah rantau.
Perjalanan akademiknya tak sepenuhnya mulus. Ia sempat bercita-cita menembus STAN atau jurusan teknik. Namun takdir berkata lain. Pintu yang terbuka justru Pertanian di Universitas Udayana. Dengan ringan ia mengenang, “Daripada tidak kuliah, gas saja.” Kalimat sederhana yang menyimpan semangat pantang menyerah.
Sembari menempuh pendidikan tinggi, ia bekerja sebagai SPG freelance pada tahun 2016–2019. Dunia kerja membentuknya menjadi pribadi komunikatif dan tangguh. Ia kemudian beralih menjadi staf akuntansi di PT Indah Permai, distributor air mineral ternama, pada 2019–2022. Di sana, ketelitian dan ketegasannya semakin terasah.
Tahun 2019 menjadi penanda penting dalam kehidupan. Di tengah kesibukan bekerja dan menuntut ilmu, ia akhirnya menuntaskan studi di Fakultas Pertanian Universitas Udayana dan berhak menyandang gelar Sarjana Pertanian. Sebuah gelar yang lahir dari perjuangan sunyi tentang tekad, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan mengubah nasib.
Tahun 2022 menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Ia lolos CPNS dan Ditempatkan di Bidang PPSDM Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung. Sejak tahun 2023 hingga 2025, ia dipercaya menjadi PPL di Desa Paksebali dan Desa Sulang. Kini, periode 2025–2026, ia melanjutkan pengabdiannya di Desa Dawan Klod, Dawan Kaler, dan Besan.
Bagi Kadek Ari Dewi Wahyuni, menjadi penyuluh bukan sekedar profesi, melainkan panggilan jiwa. Ia adalah jembatan pengetahuan, sahabat petani, sekaligus penggerak akurasi data dan inovasi di lapangan. Dengan tutur kata yang lembut dan pendekatan persuasif, ia merangkul kelompok petani tanpa menggurui. Baginya, data statistik bukan sekadar angka, melainkan fondasi kebijakan yang menentukan kesejahteraan petani.
“Kalau data kita kuat, kebijakan juga akan tepat,” mantap.
Di balik kelembutannya, tersimpan tekad baja. Dari gadis desa pemburu beasiswa hingga menjadi penyuluh tangguh, ia menapaki jalan pengabdian dengan anggun, ramah, dan penuh jiwa keibuan. Sosok yang membuktikan, penyuluh pertanian hari ini adalah wajah masa depan pertanian itu sendiri. (JikWid/Anom)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0