Tak Mau Ketinggalan, Banjar Tancap Gas Klaster Hortikultura

Kecamatan Banjar mulai tancap gas mengembangkan hortikultura berbasis klaster. Melalui program HCDP, petani didorong masuk dalam sistem terintegrasi guna meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi hasil pertanian.

Apr 5, 2026 - 00:29
 0  174
Tak Mau Ketinggalan, Banjar Tancap Gas Klaster Hortikultura

Tak Mau Ketinggalan, Banjar Tancap Gas Klaster Hortikultura

Kecamatan Banjar mulai tancap gas. Pengembangan hortikultura tak lagi dibiarkan berjalan sporadis. Kini, petani didorong masuk dalam sistem klaster terintegrasi melalui program Horticulture Cluster Development Plant (HCDP).

Langkah awal ditandai dengan koordinasi antara Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng bersama BPP Kecamatan Banjar. Program ini menjadi strategi baru untuk mengubah pola bertani dari sekadar produksi menjadi sistem usaha yang terencana dan berorientasi pasar.

“Kita tidak ingin petani bekerja sendiri-sendiri lagi. Melalui klaster, semua akan terhubung dari produksi, sarana, sampai pemasaran,” tegas drh. Agus Nuna Indrayana perwakilan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng.

Dengan luas wilayah 17.260 hektare dan mencakup 17 desa, Banjar dinilai punya peluang besar menjadi sentra hortikultura baru. Tiga kelompok tani KTT Gopala Nandini, Gapoktan Sari Nadi, dan Subak Abian Merta Sari menjadi titik awal pengembangan.

Pada tahap awal, tiga kelompok tani dipilih sebagai titik masuk, yakni KTT Gopala Nandini, Gapoktan Sari Nadi, dan Subak Abian Merta Sari. Di sinilah proses awal dimulai dari identifikasi potensi, pemetaan kebutuhan sarana prasarana, hingga penyelarasan komoditas unggulan yang akan dikembangkan.

“Potensi ada, tapi selama ini belum terkelola dalam satu sistem. Ini yang kita benahi,” ujar Wayan Suwastawa Giri, SP., Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Banjar.

Bagi petani, langkah ini menjadi angin segar. Selama ini, tantangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga pemasaran dan kesinambungan usaha. Dengan sistem klaster, rantai usaha diharapkan lebih tertata, dari budidaya hingga akses pasar.

“Ke depan, petani tidak hanya menanam, tetapi juga memahami perencanaan usaha tani secara utuh. Ini yang sedang kita bangun,” imbuhnya.

Koordinasi ini sekaligus menjadi fondasi penyusunan dokumen perencanaan HCDP yang akan menjadi acuan pelaksanaan program di lapangan. Pemerintah berharap, melalui pendekatan ini, petani bisa lebih terorganisir dan mampu meningkatkan daya saing.

Tahapan berikutnya, kegiatan serupa akan diperluas ke kelompok tani lain yang telah mengajukan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL). Targetnya jelas, seluruh potensi hortikultura di Banjar dapat terpetakan dan dikembangkan dalam satu sistem klaster yang terintegrasi.

Jika berjalan sesuai rencana, Banjar bukan hanya menjadi sentra produksi, tetapi juga contoh bagaimana pertanian modern berbasis kawasan bisa tumbuh dari desa.

Koresponden: Shinta

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 5
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0