Sehari Usai Dipaparkan di Penas KTNA, Panen Jatiluwih Naik 0,35 Ton
TABANAN – Bukan sekadar dipamerkan di forum nasional. Inovasi padi hemat air (AWD) hasil kolaborasi PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi langsung menunjukkan bukti di lapangan. Produktivitas padi milik petani di Subak Jatiluwih, Tabanan, naik 0,35 ton per hektare setelah menerapkan teknologi tersebut.
Sehari Usai Dipaparkan di Penas KTNA, Panen Jatiluwih Naik 0,35 Ton
TABANAN – Inovasi budidaya padi hemat air (Alternate Wetting and Drying/AWD) yang dikembangkan PERHIPTANI Bali bersama Yayasan Sashi terus menunjukkan hasil menggembirakan. Sehari setelah keberhasilan program tersebut dipaparkan di ajang Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII, Gorontalo, peningkatan produksi kembali terbukti di tingkat petani.
Buah dari pelatihan budidaya padi hemat air yang digelar PERHIPTANI Bali bersama Yayasan Sashi sekitar empat bulan lalu mulai dipetik petani. Salah satunya dirasakan I Wayan Semarajaya, peserta pelatihan asal Subak Jatiluwih, Tempek (TPK) Besikalung, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pada lahan seluas 50 are yang ditanami varietas Barak Kencana, penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) terbukti mampu meningkatkan produktivitas dibanding musim tanam sebelumnya.
Forum Temu Profesi PERHIPTANI pada Penas KTNA XVII di Gorontalo menjadi panggung bagi Bali untuk berbagi inovasi. Di hadapan Ketua Umum DPP PERHIPTANI Dr. Ir. H. Isran Noor, M.Si., jajaran pengurus pusat, serta peserta Temu Profesi dari seluruh Indonesia, Kelsi Penyuluhan Pertanian Provinsi Bali sekaligus Ketua Harian PERHIPTANI Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., memaparkan sejumlah terobosan yang telah dijalankan di Pulau Dewata. Di antara berbagai inovasi tersebut, keberhasilan budidaya padi hemat air (AWD) hasil kolaborasi PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi di kawasan Subak Catur Angga Batukaru, Tabanan, menjadi salah satu yang paling menarik perhatian peserta.
Bukti keberhasilan tersebut langsung menyusul sehari kemudian. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan dan pengamatan penyuluh pertanian lapangan yang mengawal penerapan teknologi AWD, produksi gabah pada lahan I Wayan Semarajaya mencapai 4.890 kilogram gabah kering panen (GKP). Angka tersebut setara dengan produktivitas 7,824 ton per hektare GKP. Setelah dikurangi luasan pematang, hasil bersih tercatat sebesar 7,66 ton per hektare GKP.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan musim tanam tahun sebelumnya. Sebelum menerapkan sistem AWD, produktivitas lahan yang sama hanya mencapai 7,31 ton per hektare GKP. Dengan demikian, terjadi peningkatan hasil sebesar 0,35 ton per hektare.
Petani Subak Jatiluwih TPK Besikalung, Desa Jatiluwih, I Wayan Semarajaya, mengaku merasakan langsung manfaat penerapan teknologi padi hemat air (AWD) yang selama ini didampingi oleh penyuluh pertanian wilayah binaan setempat, Ni Ketut Yuli Aryani, S.P.. Menurutnya, selain penggunaan air menjadi lebih efisien, hasil panen yang diperoleh juga meningkat dibanding musim tanam sebelumnya.
“Awalnya kami sempat ragu karena sawah tidak digenangi terus-menerus seperti biasanya. Namun setelah didampingi Bu Yuli dan melihat perkembangan tanaman, ternyata hasilnya justru lebih baik. Tahun ini produktivitas meningkat dibanding sebelumnya, sehingga kami semakin yakin dengan teknologi AWD,” ujar Semarajaya.
Kelsi Penyuluhan Provinsi Bali sekaligus Ketua Harian PERHIPTANI Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, mengatakan peningkatan produktivitas tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa teknologi AWD tidak hanya mampu menghemat penggunaan air, tetapi juga meningkatkan hasil panen petani.
“Ini menjadi bukti bahwa inovasi yang kita dorong bersama petani memberikan manfaat nyata. Selain lebih efisien dalam penggunaan air, produktivitas juga meningkat. Hasil di Jatiluwih ini memperkuat keberhasilan yang telah dibangun melalui kolaborasi PERHIPTANI Bali dan Yayasan Sashi di kawasan Subak Catur Angga Batukaru,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran penyuluh pertanian lapangan yang terus mendampingi petani mulai dari tahap budidaya hingga panen. Pendampingan intensif menjadi kunci agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara optimal di tingkat lapangan.
Keberhasilan di Subak Jatiluwih sekaligus menjadi sinyal positif bahwa inovasi padi hemat air berpeluang diperluas ke berbagai sentra produksi padi di Bali. Di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya air, teknologi AWD dinilai menjadi salah satu solusi menuju pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Koresponden: Gus De
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0