"Cabai Terpuruk, Penyuluh Bangkitkan Harapan"
BULELENG – Ketika produksi cabainya anjlok akibat serangan tungau, I Dewa Komang Suardika sempat dilanda kekhawatiran. Hasil panen yang sebelumnya mampu mencapai 13–15 kilogram per petik turun menjadi sekitar 9 kilogram. Namun, pendampingan intensif Tim SIGAP BPP Sukasada membuat harapan itu kembali tumbuh. Tanaman yang sempat meranggas kini mulai menghijau dan mengeluarkan bunga baru.
"Cabai Terpuruk, Penyuluh Bangkitkan Harapan"
BULELENG – Pendampingan penyuluh tidak berhenti pada pemberian rekomendasi di atas kertas. Saat tanaman cabai milik petani mengalami serangan hama tungau hingga produksi menurun, Tim SIGAP BPP Sukasada kembali turun langsung ke lapangan untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai harapan.
Kali ini, tim melakukan kunjungan lanjutan ke lahan cabai milik I Dewa Komang Suardika di Lingkungan Sangket Kubu, Kelurahan Sukasada. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan sebelumnya saat tanaman cabai mengalami serangan tungau yang menyebabkan daun muda rontok, pertumbuhan terhambat, dan produktivitas menurun.
Suardika mengaku sempat merasakan dampak cukup berat akibat serangan hama tersebut. Sebelum serangan terjadi, produksi cabainya mampu mencapai 13 hingga 15 kilogram setiap kali panen. Namun, ketika serangan tungau meningkat, hasil panen turun menjadi sekitar 9 kilogram.
Padahal, sebelumnya tanaman cabai tersebut tergolong produktif. Suardika bahkan telah melakukan sekitar 10 kali panen dengan harga jual yang saat itu mencapai Rp60 ribu per kilogram.
"Sebelumnya saya cukup khawatir karena serangan tungau membuat daun cabai gugur seperti terbakar dan pertumbuhannya terganggu. Setelah mendapatkan pendampingan dan mengikuti arahan dari Tim SIGAP BPP Sukasada, kondisi tanaman mulai membaik. Sekarang sudah banyak muncul daun muda dan bunga baru. Saya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan pendampingan yang diberikan," ujarnya.
Pada kunjungan awal, Tim SIGAP BPP Sukasada melakukan identifikasi masalah di lapangan sekaligus memberikan rekomendasi pengendalian yang sesuai dengan tingkat serangan. Pendampingan tersebut dilakukan agar petani dapat segera mengambil langkah pengendalian sebelum kerusakan semakin meluas.
Hasil monitoring terbaru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tanaman yang sebelumnya terdampak serangan tungau kini memasuki fase pemulihan. Daun-daun muda mulai tumbuh sehat, pertumbuhan tanaman lebih normal, dan bunga baru mulai bermunculan pada sejumlah tanaman.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Sukasada, Gede Ardana, SP, mengatakan bahwa pemantauan berkelanjutan menjadi bagian penting dari proses pendampingan petani.
"Kunjungan lanjutan ini dilakukan untuk memastikan rekomendasi yang telah diberikan dapat diterapkan dengan baik oleh petani. Dari hasil pengamatan, tanaman menunjukkan respons yang positif. Ke depan, petani tetap perlu melakukan pemantauan secara berkala dan menerapkan pengendalian secara tepat agar populasi tungau tetap terkendali dan produktivitas tanaman dapat kembali optimal," jelasnya.
Sementara itu, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Sukasada, Ni Putu Eka Handayani, SP, menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian sangat ditentukan oleh ketepatan waktu penanganan dan konsistensi petani dalam menerapkan rekomendasi yang diberikan.
"Berdasarkan hasil monitoring, intensitas serangan tungau sudah jauh berkurang dan tanaman menunjukkan fase pemulihan yang baik. Munculnya daun muda dan bunga merupakan indikator bahwa tanaman mulai kembali normal. Kami mengimbau petani untuk tetap melakukan pengamatan rutin sehingga apabila terdapat gejala serangan kembali dapat segera ditangani sejak dini," katanya.
Pemulihan tanaman cabai di Sangket Kubu menjadi bukti bahwa pendampingan yang konsisten mampu memberikan solusi nyata bagi petani. Saat produksi menurun dan kekhawatiran mulai muncul, kehadiran penyuluh dan POPT tidak hanya membantu menemukan solusi teknis, tetapi juga menjaga optimisme petani untuk terus berproduksi.
Kini, bunga-bunga baru yang bermunculan di lahan cabai Suardika menjadi tanda bahwa harapan itu kembali tumbuh. Jika kondisi tanaman terus membaik, produktivitas yang sempat merosot berpeluang kembali meningkat pada panen-panen berikutnya.
Koresponden: Gede Ardana (BPP Sukasada)
Editor: JikWid/DND
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0