Rapor Merah LTT Denpasar, Gotong Royong Petani Hidupkan Irigasi
DENPASAR – Saat rapor merah Luas Tambah Tanam (LTT) membayangi Kota Denpasar, harapan justru mengalir dari Bendungan Intake Beten Nyuh. Di tengah ancaman alih fungsi lahan dan krisis air irigasi, petani Subak Kerdung turun tangan memperbaiki bendung secara gotong royong demi menjaga sawah tetap produktif dan musim tanam terus berjalan.
Rapor Merah LTT Denpasar, Gotong Royong Petani Hidupkan Irigasi
DENPASAR – Di tengah rapor merah pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) Kota Denpasar, secercah harapan justru lahir dari semangat gotong royong para petani. Saat alih fungsi lahan terus menggerus sawah dan krisis air menghambat musim tanam, petani Subak Kerdung memilih tidak berpangku tangan. Mereka turun langsung memperbaiki Bendungan Intake Beten Nyuh agar air kembali mengalir ke persawahan, membuka peluang percepatan tanam sekaligus mendongkrak capaian LTT.
Rapor merah pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) Kota Denpasar mengemuka dalam rapat rutin yang digelar di Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBPMP) Bali. Kepala BBPMP Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P., mengungkapkan bahwa rendahnya realisasi LTT menjadi perhatian serius karena dipengaruhi berbagai persoalan mendasar, terutama alih fungsi lahan pertanian yang terus berlangsung serta keterbatasan ketersediaan air irigasi.
Menurutnya, alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi tantangan besar bagi upaya mempertahankan produksi pangan di wilayah perkotaan. Fakta di lapangan menunjukkan, hanya sekitar dua bulan setelah panen raya, luas lahan sawah produktif di Kota Denpasar kembali menyusut sekitar 1,18 hektare akibat beralih fungsi menjadi kawasan nonpertanian. Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang bagi peningkatan luas tanam.
Di sisi lain, persoalan irigasi turut memperberat pencapaian target. Kerusakan Bendungan Intake Beten Nyuh menyebabkan debit air yang mengalir ke areal Subak Kerdung menurun drastis. Akibatnya, pengurus subak terpaksa menerapkan sistem pembagian air secara bergiliran sehingga petani tidak dapat melaksanakan tanam padi secara serentak.
Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat para petani. Selama dua hari berturut-turut, termasuk pada Selasa (30/6), sekitar delapan orang petani Subak Kerdung bergotong royong memperbaiki bendung secara swadaya. Mereka mengangkat batu-batu besar, menyusunnya ke dalam bronjong, kemudian mengikat anyaman kawat untuk meninggikan bendung agar elevasi air meningkat dan aliran irigasi kembali lancar menuju areal persawahan.
Aksi heroik tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar menyediakan batu belah, sementara Balai Wilayah Sungai (BWS) memfasilitasi material bronjong. Kolaborasi antara petani, pemerintah daerah, dan instansi teknis ini menjadi bukti bahwa persoalan irigasi dapat diatasi melalui sinergi dan semangat kebersamaan.
Pekaseh Subak Kerdung, I Nyoman Mudarsana, mengatakan perbaikan bendung merupakan kebutuhan yang sangat mendesak karena menyangkut keberlangsungan usaha tani para anggota subak.
"Selama ini debit air yang masuk ke sawah sangat kecil sehingga kami harus menerapkan pembagian air secara bergiliran. Dengan bendung yang diperbaiki, kami berharap aliran air kembali normal sehingga seluruh petani dapat menanam padi secara serentak dan produksi bisa meningkat," ujarnya.
Koordinator BPP Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika, S.P., menilai gotong royong yang dilakukan petani menunjukkan kuatnya modal sosial dalam menjaga keberlanjutan pertanian di tengah semakin kompleksnya tantangan sektor pertanian perkotaan.
"Semangat kebersamaan yang ditunjukkan petani menjadi bukti bahwa pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat tani. Sinergi seperti ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sistem irigasi, mempercepat peningkatan luas tambah tanam, serta mendukung ketahanan pangan di Kota Denpasar," katanya.
Perbaikan Bendungan Intake Beten Nyuh bukan sekadar membangun kembali infrastruktur irigasi. Lebih dari itu, gotong royong tersebut menjadi simbol ketangguhan petani dalam menghadapi tekanan alih fungsi lahan, keterbatasan air, dan berbagai tantangan pembangunan pertanian. Dari bendung sederhana yang mereka bangun bersama, mengalir harapan agar sawah yang masih tersisa tetap produktif, musim tanam dapat berlangsung serentak, dan target Luas Tambah Tanam Kota Denpasar perlahan kembali tercapai. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0