Perwakilan 10 Subak Curhat ke BRMP Bali

Perjuangan petani Denpasar Selatan tidak hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga mempertahankan lahan pertanian dari ancaman alih fungsi. Aspirasi itu mengemuka dalam audiensi perwakilan 10 subak dengan BRMP Bali.

Jun 17, 2026 - 05:45
 0  32
Perwakilan 10 Subak Curhat ke BRMP Bali

Perwakilan 10 Subak Curhat ke BRMP Bali

DENPASAR – Penyuluh pertanian kini tak cukup hanya menjadi penyampai informasi. Mereka dituntut bergerak cepat menjadi pembongkar kebuntuan alias problem solver atas berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan.

Arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., pekan lalu langsung ditindaklanjuti Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika S.P. Tanpa menunggu lama, Trisna bergerak cepat memfasilitasi aspirasi petani dengan menggelar audiensi bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali guna mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan.

Langkah tersebut diambil untuk menindaklanjuti aspirasi para petani yang tergabung dalam Paguyuban Pekaseh Denpasar Selatan. Di wilayah Denpasar Selatan sendiri terdapat 10 subak. Dalam audiensi tersebut hadir perwakilan dari seluruh subak, di antaranya Pekaseh Subak Sidakarya, Pekaseh Subak Kerdung, Pekaseh Subak Kepaon, dan Pekaseh Subak Renon.

Mayoritas petani mengeluhkan minimnya sarana pascapanen yang berdampak pada fluktuasi harga sekaligus kualitas hasil pertanian. Menyikapi aspirasi tersebut, Trisna mengajak para petani untuk beraudiensi dengan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali guna memetakan solusi dan teknologi yang tepat bagi pengembangan pertanian di kawasan perkotaan.

Ketua Paguyuban Pekaseh Denpasar Selatan sekaligus Pekaseh Subak Renon, Made Pagiartha, mengungkapkan salah satu kebutuhan mendesak yang harus direalisasikan adalah pembangunan unit penggilingan padi mandiri di Denpasar Selatan.

Menurutnya, keberadaan penggilingan padi sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen petani.

"Petani ingin ada value added dari hasil panennya. Kalau gabah bisa diolah sendiri menjadi beras sebelum dipasarkan, kesejahteraan petani otomatis akan meningkat," tegasnya.

Pertemuan strategis tersebut dihadiri Kepala BRMP Bali Dr. drh. I Made Rai Yasa M.P, Ketua Kelembagaan Penyuluhan Provinsi Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana S.P. M.Agb., penanggung jawab wilayah binaan Kota Denpasar, serta jajaran penyuluh pertanian setempat.

Selain persoalan sarana pascapanen, ancaman alih fungsi lahan juga menjadi perhatian serius para pekaseh. Pekaseh Subak Kerdung, I Nyoman Mudarsana, mengaku baru bisa menikmati hasil panen setelah dua musim tanam sebelumnya mengalami gagal panen akibat saluran irigasi yang jebol.

"Setelah dua kali musim tanam tidak menghasilkan karena saluran irigasi jebol, baru kali ini kami bisa merasakan panen. Namun di sisi lain, ancaman alih fungsi lahan semakin nyata. Beberapa minggu lalu, sawah yang berada di sebelah rumah saya sudah mulai dibulldozer untuk beralih fungsi," ungkap Mudarsana.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan pertanian di wilayah perkotaan.

Merespons berbagai aspirasi tersebut, Kepala BRMP Bali I Made Rai Yasa menyatakan siap menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan teknis dan edukasi secara berkala. Upaya itu dilakukan agar produktivitas pertanian di Denpasar Selatan tetap terjaga di tengah derasnya tekanan alih fungsi lahan.

Terkait usulan bantuan alat penggilingan padi, Rai Yasa menyarankan agar kelompok tani maupun subak segera menyusun proposal resmi kepada Kementerian Pertanian sesuai mekanisme yang berlaku.

Namun, ia mengingatkan agar sebelum proposal diajukan, terlebih dahulu dilakukan kajian yang matang terhadap potensi yang dimiliki.

"Ini penting agar bantuan tidak muspro (sia-sia). Harus ada hitung-hitungan potensinya terlebih dahulu. Jadi, ketika bantuan sarana dan prasarana dari pusat disetujui, pemanfaatannya bisa efektif, tepat sasaran, dan benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi petani di Denpasar Selatan," tandas Rai Yasa.

Senada dengan itu, Ketua Kelembagaan Penyuluhan Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana mengungkapkan bahwa produktivitas padi di Kota Denpasar selama ini justru tercatat sebagai yang tertinggi di Bali karena didukung tingkat kesuburan lahan yang baik.

Namun, dengan luasan lahan pertanian yang relatif terbatas, petani dituntut lebih kreatif dan inovatif.

"Petani harus mampu melihat peluang. Mulai dari mengembangkan varietas padi premium bernilai ekonomi tinggi, agrowisata perkotaan, hingga budidaya komoditas hortikultura yang sesuai kebutuhan pasar saat ini. Kuncinya kreativitas, pemanfaatan teknologi, dan kejelian membaca peluang pasar untuk meningkatkan pendapatan," ujarnya.

Koresponden: Ristiani

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 2
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0