Penyuluh Kawal PKK, Pekarangan Jadi Benteng Inflasi

Sekilas namanya terdengar seperti istilah Jepang. Matanabe dan Matanabung. Di balik nama unik itu, penyuluh pertanian bersama ibu-ibu PKK sedang menggerakkan perubahan dari pekarangan rumah, menjadikannya sumber pangan keluarga sekaligus garda terdepan pengendalian inflasi.

May 23, 2026 - 05:59
 0  23
Penyuluh Kawal PKK, Pekarangan Jadi Benteng Inflasi

Penyuluh Kawal PKK, Pekarangan Jadi Benteng Inflasi

Sekilas namanya terdengar seperti bahasa Jepang. Matanabe dan Matanabung. Namun dua istilah tersebut ternyata merupakan inovasi Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus pengendalian inflasi daerah.

Matanabe merupakan singkatan dari Masyarakat Tanam Cabai, sedangkan Matanabung adalah Masyarakat Tanam Bunga. Program ini mengajak masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan rumah, kebun maupun lahan kosong produktif untuk ditanami komoditas yang selama ini kerap mengalami fluktuasi harga, khususnya cabai dan bunga gumitir.

Langkah tersebut dinilai strategis mengingat kedua komoditas sering mengalami lonjakan harga menjelang hari raya keagamaan. Melalui gerakan menanam sendiri, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga secara mandiri, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pasar serta membantu menekan pengeluaran keluarga.

Sebelum program berjalan dan pendistribusian bibit dilaksanakan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung terlebih dahulu menggelar rapat koordinasi di Kecamatan Mengwi. Program tersebut menyasar dua lokasi yakni PKK Banjar Dauh Peken Desa Penarungan dan PKK Desa Mengwi.

Sebanyak 700 polibag tanaman cabai dan 300 polibag tanaman bunga gumitir dibagikan kepada anggota PKK Banjar Dauh Peken Desa Penarungan dan PKK Desa Mengwi. Bibit yang disalurkan rata-rata telah berumur sekitar 1,5 bulan sehingga diperkirakan dapat dipanen menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan pada pertengahan hingga akhir Juni 2026.

Namun di balik pendistribusian bibit tersebut, terdapat peran penting penyuluh pertanian yang menjadi motor penggerak sekaligus pengawal pelaksanaan program di lapangan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Mengwi, drh. Ni Ketut Subudhiasri yang membina wilayah Desa Penarungan dan I Kadek Adi Mahendra, S.P. yang membina wilayah Desa Mengwi, aktif melakukan pendampingan sejak tahap sosialisasi hingga budidaya tanaman.

Peran penyuluh tidak sebatas mendistribusikan bantuan bibit, tetapi memastikan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK, memahami teknik budidaya yang baik mulai dari cara penanaman, pemeliharaan, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.

drh. Ni Ketut Subudhiasri, mengatakan keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan, melainkan bagaimana masyarakat mampu mengelolanya secara berkelanjutan.

"Kami tidak hanya menyerahkan bibit kepada masyarakat. Penyuluh bertugas mengawal prosesnya mulai dari penanaman hingga perawatan sehingga tanaman dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga," ujarnya.

Senada dengan itu, I Kadek Adi Mahendra, S.P. menambahkan keterlibatan ibu-ibu PKK menjadi kekuatan utama dalam menghidupkan pekarangan produktif di tingkat rumah tangga.

"Ibu-ibu PKK memiliki peran strategis dalam menggerakkan pemanfaatan pekarangan rumah. Melalui pendampingan rutin, kami berharap gerakan menanam ini tidak berhenti pada program semata, tetapi dapat menjadi budaya di masyarakat," katanya.

Ketua PKK Banjar Dauh Peken Desa Penarungan, Ni Kadek Pantiniasih, mengaku menyambut baik pelaksanaan program tersebut karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Program ini sangat baik karena tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan yang selama ini belum tergarap maksimal. Kami berharap gerakan ini bisa terus berlanjut," ungkapnya.

Hal serupa disampaikan Ketua PKK Desa Mengwi, Sunanti. Menurutnya, gerakan menanam cabai dan bunga dapat membantu meningkatkan kemandirian keluarga.

"Ketika masyarakat menanam sendiri kebutuhan cabai maupun bunga untuk keperluan upacara, pengeluaran rumah tangga tentu dapat ditekan. Selain itu lingkungan juga menjadi lebih hijau dan produktif," katanya.

Kolaborasi antara penyuluh pertanian dan ibu-ibu PKK melalui Program Matanabe dan Matanabung menjadi bukti bahwa gerakan sederhana dari pekarangan rumah mampu memberikan dampak besar. Bukan hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga ikut menjaga stabilitas harga dan membangun budaya pertanian dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

Koresponden: drh. Ni Ketut Subudhiasri BPP Mengwi

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 3
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0