PPL Kawal Hilirisasi, KWT Kuncup Mekar Tancap Gas Go Digital

Produk olahan singkong, talas hingga kacang tanah tak lagi cukup hanya enak dan berkualitas. Tanpa branding dan pemasaran digital, produk lokal akan sulit bersaing di tengah gempuran pasar modern. Tantangan itulah yang dijawab Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Sukasada bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dengan mengawal Kelompok Wanita Tani (KWT) Kuncup Mekar memasuki era bisnis digital.

Jul 10, 2026 - 06:12
 0  12
PPL Kawal Hilirisasi, KWT Kuncup Mekar Tancap Gas Go Digital

PPL Kawal Hilirisasi, KWT Kuncup Mekar Tancap Gas Go Digital

Produk olahan singkong, talas hingga kacang tanah tak lagi cukup hanya enak dan berkualitas. Tanpa branding dan pemasaran digital, produk lokal akan sulit bersaing di tengah gempuran pasar modern. Tantangan itulah yang dijawab Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sukasada bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dengan mengawal Kelompok Wanita Tani (KWT) Kuncup Mekar memasuki era bisnis digital.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang berlangsung di Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Kamis (9/7), penyuluh tidak hanya mendampingi petani meningkatkan produksi. Mereka juga mendorong kelompok wanita tani menguasai hilirisasi, membangun merek, memperbaiki kemasan, hingga memanfaatkan media digital agar produk memiliki nilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

Kegiatan dihadiri Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Buleleng Made Sumetriani, M.P., Koordinator BPP Sukasada, PPL wilayah binaan, Tim Kreatif BPP Sukasada, dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi serta Fakultas Kedokteran Undiksha, serta anggota KWT Kuncup Mekar.

Selama ini KWT Kuncup Mekar telah memproduksi beragam olahan pangan lokal berbahan singkong, talas, dan kacang tanah. Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa hilirisasi mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian. Namun tanpa strategi pemasaran yang tepat, potensi tersebut sulit berkembang secara optimal.

Melihat kondisi itu, Ni Made Anintia Trisna Sari, S.Pd., M.P., membekali anggota kelompok dengan strategi branding, fotografi produk, penyusunan katalog digital, hingga optimalisasi media sosial sebagai etalase usaha.

"Produk yang bagus harus diimbangi dengan pemasaran yang baik. Melalui katalog digital dan media sosial, produk KWT memiliki peluang menjangkau konsumen yang jauh lebih luas. Kami ingin usaha mereka tampil lebih profesional dan memiliki identitas yang kuat," jelasnya.

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Buleleng, Made Sumetriani, M.P., menegaskan bahwa transformasi pertanian tidak berhenti di sawah. Penyuluh kini dituntut hadir hingga produk berada di tangan konsumen.

"Peran PPL sudah berubah. Kami tidak hanya mendampingi petani saat budidaya, tetapi juga mengawal hilirisasi, pengolahan, hingga pemasaran. Ketika petani mampu menjual produk bernilai tambah, kesejahteraan mereka ikut meningkat. Kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kekuatan untuk menghadirkan inovasi yang benar-benar dibutuhkan kelompok tani," tegasnya.

Menurutnya, penyuluh merupakan jembatan yang menghubungkan inovasi, teknologi, dan kebutuhan petani sehingga proses transformasi pertanian berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

Ketua KWT Kuncup Mekar, Ni Wayan Sukarni, mengaku pelatihan tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan kelompok yang selama ini masih kesulitan memperluas pemasaran.

"Kami sudah mampu membuat berbagai produk olahan pangan lokal, tetapi masih terbatas dalam promosi. Sekarang kami belajar membangun merek, membuat katalog, dan memasarkan produk melalui media sosial. Kami semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha," ujarnya.

Tak hanya membahas penguatan usaha, kegiatan juga menghadirkan edukasi kesehatan reproduksi perempuan oleh Luh Yenny Armayanti, S.ST., M.Biomed., dari Fakultas Kedokteran Undiksha. Peserta memperoleh pemahaman mengenai deteksi dini kanker serviks melalui metode Reproductive Organ Self-Examination (ROSE), termasuk pentingnya pemeriksaan IVA Test dan Pap Smear.

Diskusi berlangsung hidup. Peserta aktif bertanya mengenai strategi memperluas pasar, teknik promosi digital, hingga menjaga kesehatan sebagai modal utama dalam menjalankan usaha.

Kolaborasi PPL BPP Sukasada dan Undiksha menjadi bukti bahwa transformasi pertanian modern tidak hanya diukur dari meningkatnya produksi, tetapi juga dari kemampuan petani dan kelompok wanita tani mengolah hasil, membangun merek, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memenangkan pasar. Di tangan penyuluh, hilirisasi pangan lokal kini bergerak lebih cepat menuju pertanian yang modern, mandiri, dan berdaya saing. (NDN/JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 2
Dislike Dislike 0
Love Love 4
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0