Lahan Bera Disulap Jadi Kebun Jagung, Panen Tembus 16,02 Ton
DENPASAR – Lahan bera tak harus menjadi lahan tidur. Hal itu dibuktikan Krama Subak Intaran Barat, Sanur, yang mengubah satu hektare lahan menganggur menjadi kebun jagung produktif. Berkat dukungan Dinas Pertanian Kota Denpasar, panen perdana jagung varietas Golden Boy mampu mencatat produktivitas hingga 16,02 ton per hektare.
Lahan Bera Disulap Jadi Kebun Jagung, Panen Tembus 16,02 Ton
DENPASAR – Lahan bera yang selama ini dibiarkan menganggur di Subak Intaran Barat, Sanur, kini berubah menjadi hamparan jagung produktif. Berkat inisiatif petani yang didukung penuh Dinas Pertanian Kota Denpasar, lahan seluas satu hektare berhasil menghasilkan jagung varietas Golden Boy dengan produktivitas mencapai 16,02 ton per hektare.
Panen jagung berlangsung pada Kamis (2/7) di wilayah kerja BPP Denpasar Selatan. Gerakan pemanfaatan lahan bera tersebut digagas oleh Krama Subak Intaran Barat sebagai upaya mengoptimalkan lahan tidur agar kembali produktif sekaligus memberikan tambahan pendapatan bagi petani.
Inisiatif itu mendapat respons positif dari Dinas Pertanian Kota Denpasar melalui bantuan sarana produksi berupa benih, pupuk, dan pestisida. Pendampingan budidaya juga dilakukan oleh penyuluh pertanian sejak proses tanam hingga panen.
Kegiatan panen dihadiri Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Denpasar, I G.A.N. Anggreni Suwari, SP., M.Si., beserta jajaran, perwakilan Dinas Pertanian Provinsi Bali, penyuluh BPP Denpasar Selatan, penyuluh BBRMP, serta anggota Subak Intaran Barat.
Anggreni Suwari mengapresiasi semangat petani yang mampu mengubah lahan bera menjadi lahan produktif. Menurutnya, langkah tersebut membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk meningkatkan produksi pangan apabila didukung inovasi, kolaborasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
"Kami sangat mengapresiasi inisiatif Krama Subak Intaran Barat yang memanfaatkan lahan bera menjadi lahan produksi jagung. Ini menunjukkan semangat petani Denpasar untuk terus berproduksi meskipun menghadapi keterbatasan lahan. Dinas Pertanian akan terus hadir mendukung melalui penyediaan benih, pupuk, dan pestisida, serta pendampingan penyuluh agar usaha tani dapat berkembang secara berkelanjutan," ujarnya.
Ia menambahkan, hasil ubinan yang menunjukkan produktivitas mencapai sekitar 16 ton per hektare menjadi bukti bahwa pemanfaatan lahan bera dapat memberikan hasil yang sangat baik apabila dikelola dengan teknologi budidaya yang tepat.
"Kami berharap gerakan seperti ini dapat direplikasi di subak-subak lain di Kota Denpasar. Selain meningkatkan produksi pangan, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lahan pertanian dan memperkuat ketahanan pangan daerah," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Pekaseh Subak Intaran Barat, I Gusi Wayan Danu, mengatakan pemanfaatan lahan bera berawal dari keinginan petani agar tidak ada lahan pertanian yang dibiarkan menganggur.
"Awalnya lahan ini tidak dimanfaatkan. Kami kemudian bersepakat menanam jagung agar lahan tetap produktif dan dapat memberikan nilai ekonomi bagi petani. Syukurlah hasilnya cukup menggembirakan, bahkan produktivitasnya melampaui perkiraan kami," katanya.
Menurut Danu, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pertanian Kota Denpasar yang telah memberikan bantuan benih, pupuk, dan obat-obatan, serta kepada para penyuluh yang terus mendampingi sejak penanaman hingga panen. Kami berharap keberhasilan ini dapat memotivasi petani lainnya untuk memanfaatkan lahan bera sehingga setiap jengkal lahan pertanian tetap menghasilkan," ujarnya.
Dalam kegiatan panen juga dilakukan ubinan pada lahan garapan milik I Gusi Wayan Danu. Jagung varietas Golden Boy ditanam di lahan seluas satu hektare yang terbagi menjadi enam petak, dengan pengambilan sampel pada petak keempat.
Hasil ubinan menunjukkan rata-rata setiap tanaman menghasilkan satu tongkol dengan berat rata-rata 0,388 kilogram dan sekitar 575 biji per tongkol. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, produktivitas diperkirakan mencapai 16,02 ton per hektare. Sementara pada luasan panen 20 are diperoleh produksi sekitar 3,21 ton dengan harga jual jagung sebesar Rp1.000 per kilogram.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa optimalisasi lahan bera mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi petani. Model kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi subak lain dalam mengoptimalkan lahan pertanian yang belum dimanfaatkan. (JikWid)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0