Usai Taklukkan Anggur, Made Budiasa Sulap 280 Pot Jambu Air Jadi Mesin Cuan
Berawal dari rasa penasaran, Made Budiasa kembali membuktikan bahwa inovasi mampu mengubah halaman kebun menjadi sumber keuntungan. Setelah sukses membudidayakan anggur dalam greenhouse, kini ia berhasil mengembangkan tabulampot jambu air yang lebih cepat berbuah dan bernilai ekonomi tinggi.
Usai Taklukkan Anggur, Made Budiasa Sulap 280 Pot Jambu Air Jadi Mesin Cuan
BULELENG – Tidak semua inovasi lahir dari ruang laboratorium. Sebagian justru muncul dari rasa penasaran yang kemudian diuji langsung di lapangan. Itulah yang dilakukan Made Budiasa, petani asal Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Setelah sukses mengembangkan anggur dalam greenhouse dan buah bekul, kini ia kembali menghadirkan terobosan melalui budidaya jambu air sistem tanaman buah dalam pot (tabulampot) yang terbukti menjanjikan keuntungan.
Memasuki kebunnya, puluhan pot berjejer rapi memenuhi halaman. Dari setiap cabang menggantung buah-buah jambu air berwarna merah mengilap yang tampak ranum. Sulit dipercaya, seluruh tanaman tersebut tumbuh subur hanya di dalam pot, namun mampu berproduksi layaknya tanaman di lahan terbuka.
Bagi Made Budiasa, keberhasilan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru setiap keberhasilan memunculkan tantangan baru untuk mencari metode budidaya yang lebih efektif, lebih praktis, dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Rasa ingin tahu itulah yang mendorongnya bereksperimen dengan tabulampot jambu air. Ia ingin menemukan teknik agar tanaman dapat berbuah lebih cepat, tetap produktif, serta mudah dikelola oleh siapa pun, termasuk masyarakat yang memiliki lahan terbatas.
Eksperimen dilakukan melalui tiga metode penanaman. Sebagian bibit ditanam langsung di tanah, sebagian ditempatkan di dalam pot yang dialasi batako, sedangkan metode ketiga menggunakan pot dengan sekitar sepertiga bagian pot ditanam ke dalam tanah.
Hasilnya di luar dugaan.
Tanaman dengan pot yang sebagian tertanam di dalam tanah mulai berbunga ketika baru berumur sekitar enam bulan. Sebaliknya, tanaman yang ditanam langsung di tanah baru berbunga setelah hampir dua tahun. Sementara tanaman dalam pot yang diletakkan di atas batako memang mampu tumbuh, tetapi membutuhkan perhatian lebih karena mudah layu dan bunga cepat rontok apabila terlambat disiram.
"Dari situ saya menemukan teknik yang paling efektif. Pertumbuhan akar tetap terkendali, tetapi tanaman tetap mendapatkan kelembapan yang cukup sehingga lebih cepat berbunga," jelas Made Budiasa.
Temuan sederhana tersebut kini menjadi andalan usahanya. Sekitar 280 tabulampot jambu air telah memenuhi kebun miliknya dengan berbagai varietas unggulan seperti Citra, Madu Deli, Dalhari, hingga King Ros. Melihat prospek pasar yang terus meningkat, ia bahkan telah menyiapkan penambahan sekitar 100 pot lagi.
Menurutnya, penggunaan pot berdiameter 50 sentimeter menjadi ukuran paling ideal. Pada lahan sekitar 10 are, sedikitnya 60 tabulampot dapat ditata secara optimal tanpa mengganggu ruang tumbuh tanaman.
Usaha yang dirintis dari rasa penasaran itu kini telah menghasilkan nilai ekonomi yang menjanjikan. Buah jambu air dipasarkan dengan harga berkisar Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Tantangan terbesar masih berasal dari serangan lalat buah sehingga pengendalian dilakukan secara rutin agar kualitas buah tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
Namun, bagi Made Budiasa, keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan.
Ia ingin semakin banyak masyarakat, terutama generasi muda, melihat pertanian sebagai profesi yang modern, kreatif, dan menguntungkan.
"Jangan malu bertani, karena bertani itu keren. Jangan biarkan lahan kita terbengkalai dan tidak produktif. Kalau ada yang ingin belajar, saya siap berbagi pengalaman," ujarnya.
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Tim Kerja Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten Buleleng, Made Sumetriani, M.P. Menurutnya, keberhasilan Made Budiasa menunjukkan bahwa kemajuan pertanian lahir dari keberanian mencoba, ketekunan belajar, serta kemauan untuk terus berinovasi.
"Inovasi yang dilakukan Bapak Made Budiasa membuktikan bahwa pertanian memiliki peluang ekonomi yang sangat baik ketika dikelola dengan kreativitas dan kemauan belajar. Pendekatan budidaya yang beliau lakukan layak menjadi inspirasi bagi petani lainnya, khususnya generasi muda. Kami berharap semakin banyak petani berani mengembangkan teknologi dan inovasi di lahannya sehingga pertanian Buleleng semakin maju, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Made Sumetriani.
Keberhasilan Made Budiasa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan lahan luas ataupun investasi besar. Berbekal rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian mencoba, sebuah pot mampu disulap menjadi sumber produksi sekaligus ladang cuan. Dari greenhouse anggur hingga tabulampot jambu air, ia terus menunjukkan bahwa masa depan pertanian berada di tangan mereka yang tidak pernah berhenti berinovasi.
Koresponden: Shinta Istihsan (BPP Kecamatan Banjar)
Editor: JikWid/DND
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0