Hari Ketiga, Petani Batukaru Langsung Turun ke Sawah
Masuk hari ketiga, pelatihan padi hemat air di Batukaru tak lagi di kelas. Petani langsung digembleng di sawah menerapkan AWD—metode yang diklaim bisa menghemat air hingga 30 persen dengan hasil tetap terjaga.
Hari Ketiga, Petani Batukaru Langsung Turun ke Sawah
Memasuki hari ketiga, pelatihan budidaya padi hemat air hasil kolaborasi Perhiptani Bali dan Yayasan Sashi mulai masuk tahap praktik. Sebanyak 20 petani peserta di Subak Catur Angga Batukaru langsung turun ke sawah usai mendapat pembekalan di ruang kelas BPP Penebel.
Praktik lapangan dipusatkan di Subak Sangketan, Penebel. Materi yang diterapkan meliputi teknik tanam dan penerapan sistem pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD).
Meski mayoritas peserta berusia lanjut, semangat belajar tetap tinggi. Mereka tampak antusias mengikuti setiap arahan penyuluh di lapangan.
Kegiatan praktik dipimpin Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Penebel, I Made Adhi Putra Suastika, SP., bersama jajaran penyuluh setempat. Turut hadir Kapoksi Bali yang juga Ketua Harian Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb., Katimker Tabanan, penyuluh BBRMP Bali, serta pendamping dari Yayasan Sashi.
Dalam diskusi lapangan, petani aktif mengajukan pertanyaan. Mulai dari waktu pengaturan air dalam sistem AWD kapan lahan digenangi dan dikeringkan hingga jarak tanam ideal, termasuk perbandingan sistem jajar legowo dan tegel.
Pekaseh Subak Sangketan, I Made Mustika, mengaku metode ini menjadi pengalaman baru bagi petani.
“Selama ini sawah selalu digenangi. Sekarang kami belajar mengatur air lebih terukur. Kalau air bisa dihemat dan hasil tidak turun, petani pasti mau mencoba,” ujarnya.
Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Penebel, I Made Adhi Putra Suastika, menambahkan, pendampingan akan terus dilakukan agar petani tidak keliru dalam penerapan.
“Kunci AWD ada di pengaturan air. Ada fase basah dan kering yang harus tepat. Di situ penyuluh memastikan petani tidak salah langkah,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Harian Perhiptani Bali, I Ketut Arya Sudiadnyana, menyebut penerapan AWD tidak hanya berdampak pada efisiensi air, tetapi juga berpotensi meningkatkan produktivitas.
“Dari beberapa hasil pendampingan, penggunaan air bisa lebih hemat hingga sekitar 20–30 persen, dengan produktivitas tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat. Di sisi lain, emisi gas metana juga dapat ditekan,” jelasnya.
Pelatihan ini tidak hanya menekankan teori, tetapi juga memastikan petani mampu menerapkan langsung di lahan, sehingga teknologi yang diperkenalkan benar-benar bisa diadopsi secara luas. (JikWid/Ratna/Basur)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0