“Arumba Angkat Pendapatan Petani Berangbang”
Beras merah menjadi harapan baru petani Desa Berangbang, Jembrana. Di tengah lahan terbatas, komoditas ini terbukti mampu meningkatkan pendapatan.
“Arumba Angkat Pendapatan Petani Berangbang”
Dari 14 lahan tersebut, petani mampu menambah penghasilan hingga jutaan rupiah. Inovasi sederhana, dampak nyata.
Di tengah keterbatasan lahan yang selama ini membatasi pendapatan, petani di Desa Berangbang, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, mulai menemukan jalan baru. Bukan dengan memperluas sawah, melainkan mengubah pilihan komoditas beras merah yang terbukti mampu mendongkrak pendapatan.
Produktivitas padi di wilayah ini sebenarnya tergolong baik, berkisar 5–6 ton per hektar. Namun, bagi petani dengan kepemilikan lahan terbatas, hasil tersebut seringkali hanya cukup untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Ruang untuk meningkatkan pendapatan pun menjadi terbatas.
Melihat kondisi itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Berangbang, Ni Komang Desi Arianti, mendorong hadirnya komoditas alternatif yang lebih bernilai ekonomi.
“Petani kita sebenarnya sudah kuat dalam budidaya. Tinggal bagaimana kita mendorong agar hasilnya mendapat tambah nilai,” ujarnya.
Pilihan pun jatuh pada beras merah. Selain memiliki harga jual lebih tinggi, komoditas ini juga dikenal lebih sehat. Yang tak kalah penting, teknik budidayanya tidak jauh berbeda dengan padi biasa, sehingga mudah diterapkan petani.
Langkah awal dilakukan oleh petani Subak Pangkung Jelepung II, I Gusti Kade Wiasa. Dari total lahan 40 are, ia mencoba menanam beras merah di lahan seluas 14 are dengan varietas Inpari Arumba yang berumur genjah, sekitar 113 hari.
Hasilnya cukup menggembirakan. Dari lahan tersebut, produksi mencapai 800 kilogram atau setara 5,71 ton per hektare. Angka ini hampir menyamai produktivitas padi beras putih di lokasi yang sama, yakni 5,79 ton per hektare.
Namun, dampak terbesarnya ada pada peningkatan pendapatan. Dari lahan 14 are, Wiasa mampu menambah penghasilan sekitar Rp2,5 juta.
“Ini bukti bahwa meskipun lahan terbatas, petani tetap dapat meningkatkan pendapatan dengan memilih komoditas yang tepat,” tambah Desi.
Meski demikian, pengembangan beras merah masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan Rice Milling Unit (RMU) yang mampu mengolah beras merah menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, pemasaran masih terbatas di sekitar wilayah Kecamatan Negara.
Desi menilai, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, terutama dalam penguatan pascapanen dan akses pasar.
“Kalau pengolahan dan pemasaran diperkuat, potensi beras merah ini sangat besar. Apalagi sekarang masyarakat mulai sadar akan pentingnya pangan sehat,” jelasnya.
Kabar baiknya, inovasi ini mulai diikuti petani lain. Setahun berjalan, sudah tiga petani yang ikut mencoba menanam beras merah. Dampaknya mulai terasa, baik dari sisi pendapatan maupun meningkatnya permintaan pasar.
Bagi Desi, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil.
“Yang penting petani berani mencoba. Dari situ biasanya perubahan besar bisa tumbuh,” ujarnya.
Apa yang terjadi di Desa Berangbang bukan sekadar perubahan komoditas. Ini adalah bukti bahwa dari lahan sempit pun, harapan besar tetap bisa tumbuh membuka jalan bagi petani menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Koresponden: Widnyana
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
1
Wow
2