Panen ke-11, Tomat Putu Suka Laris Diserbu Pembeli

Panen ke-11 kembali berpihak pada Putu Suka. Dari lahan 35 are di Subak Pegayaman, Desa Temukus, tomat yang dipetik bukan hanya melimpah, tapi juga langsung ludes diborong pembeli. Di tengah harga yang fluktuatif, ketekunan petani dan pendampingan penyuluh menjadi kunci terjaganya produksi dan pasar.

Apr 2, 2026 - 03:33
 0  37
Panen ke-11, Tomat Putu Suka Laris Diserbu Pembeli

Panen ke-11, Tomat Putu Suka Laris Diserbu Pembeli

Di tengah fluktuasi harga dan cuaca yang tak menentu, Putu Suka tetap teguh di lahannya. Petani asal Subak Pegayaman, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng itu kembali memetik hasil kerja kerasnya. Panen tomat ke-11 dari lahan seluas 35 are berjalan lancar, dengan hasil yang tergolong stabil.

Tanaman tomat miliknya tampak tumbuh subur. Buah yang dihasilkan pun berkualitas dan layak jual. Tak heran, setiap masa panen tiba, pembeli sudah lebih dulu datang. Mereka langsung mengambil hasil panen di lahan, tanpa harus menunggu distribusi ke pasar.

“Pembeli sudah percaya. Biasanya langsung datang ke sini,” ujar Putu Suka.

Pola pemasaran seperti ini jelas menguntungkan. Rantai distribusi menjadi lebih pendek, sementara hasil panen bisa cepat terserap pasar. Di tengah kondisi harga yang sering naik turun, kepastian pasar menjadi nilai tambah tersendiri.

Untuk setiap kali petik, produksi tomat berkisar antara 500 hingga 875 kilogram. Dalam satu siklus tanam, panen dilakukan bertahap hingga 10–15 kali. Dengan harga saat ini di kisaran Rp10 ribu per kilogram di tingkat petani, pendapatan sekali petik bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp8,75 juta.

Di balik capaian tersebut, ada peran pendampingan penyuluh pertanian wilayah binaan Desa Temukus, Bajar Shinta Istihsan, S.P. Melalui pendampingan rutin, penyuluh mendorong petani untuk menerapkan teknik budidaya yang lebih baik, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan berimbang, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Pendampingan difokuskan pada peningkatan produktivitas dan kualitas hasil, sekaligus memperkuat akses pasar petani,” ujar Bajar Shinta Istihsan.

Selain itu, penyuluh juga aktif memberikan eduka

si terkait adaptasi terhadap perubahan cuaca yang kerap tidak menentu. Upaya ini dinilai penting agar petani mampu menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan lapangan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Harga tomat yang fluktuatif masih menjadi pekerjaan rumah bagi petani. Pada panen kali ini, harga berada di angka Rp10 ribu per kilogram. Angka tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kondisi pasar.

Selain harga, faktor cuaca juga kerap menjadi kendala. Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman hingga produktivitas.

Namun begitu, Putu Suka tetap optimistis. Baginya, kunci utama ada pada ketekunan dan konsistensi dalam mengelola usaha tani.

Keberhasilan panen hingga ke-11 ini menjadi bukti bahwa hortikultura, khususnya tomat, masih menjanjikan. Dengan pengelolaan yang tepat, pendampingan penyuluh yang berkelanjutan, serta pasar yang terjaga, sektor pertanian tetap memiliki prospek cerah dalam menopang ekonomi masyarakat desa, khususnya di Temukus.

Koresponden: Shinta

Editor: JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0