“Laksmi, Sang Penakluk Jarak Demi Hidupnya Pertanian Lahan Kering”
Setiap pagi, perempuan itu menaklukkan jarak, panas, dan waktu. Dari Buleleng ke Kubu, Laksmi melaju membawa semangat penyuluh sejati menghidupkan pertanian di tanah kering, di mana harapan sering diuji oleh alam.
“Laksmi, Sang Penakluk Jarak Demi Hidupnya Pertanian Lahan Kering”
Pagi belum sepenuhnya merekah ketika Putu Laksmi Pramita, SP, lulusan Universitas Brawijaya Malang, memulai perjalanan panjang. Dari Buleleng, ia melaju menembus kabut dan jalan berliku sejauh hampir 70 kilometer menuju Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem.
Di wilayah lahan kering yang kerap dilanda kemarau panjang itulah Laksmi mengabdikan diri sebagai penyuluh pertanian. Perjalanan hidupnya sejak kecil akrab dengan berpindah daerah, dipadukan dengan bekal akademik dari dunia kampus, membentuknya menjadi sosok penyuluh yang adaptif dan tangguh menghadapi berbagai tantangan lapangan.
Setiap langkahnya adalah bentuk cinta pada tanah dan petani yang digarapnya. Tak ada alasan untuk mundur, meski panas menyengat dan jarak membentang jauh. Bagi Laksmi, menjadi penyuluh berarti hadir di tengah petani bukan hanya memberi arahan, tapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa lahan kering pun bisa menumbuhkan harapan.
Dedikasi seorang penyuluh memang tidak hanya diukur dari kemampuan teknis atau segudang pelatihan. Lebih dari itu, ada ketulusan, komitmen, dan cinta yang menyala-nyala di tanah dan petani yang digandengnya. Nilai-nilai itu hidup dalam sosok Laksmi perempuan asal Kintamani yang kini menjadi motor penggerak pertanian di wilayah paling tandus di ujung timur Pulau Dewata.
Menembus Keterbatasan
Sejak kecil, Laksmi terbiasa berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah di Dinas Perkebunan. Hidup di berbagai daerah membuatnya cepat beradaptasi dan memahami karakter masyarakat pedesaan. Setelah lulus dari Universitas Brawijaya Malang tahun 2009, ia berjuang meniti karier hingga akhirnya lulus CPNS pada 2022 dan ditempatkan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kubu.
Kini, setiap pagi ia melintasi perbukitan dan jalan berbatu demi tiba di ladang-ladang petani Desa Tianyar dan Tianyar Barat. Dua desa itu menjadi ruang pengabdiannya wilayah yang sering diuji kekeringan, namun tetap menyimpan potensi besar untuk ditumbuhkan.
Menyuluh dengan Hati
Di bawah terik matahari Karangasem, Laksmi tak hanya memberi arahan teknis budidaya. Ia juga membina kelembagaan tani, mendorong perempuan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), hingga membantu menghubungkan kebutuhan petani dengan program pemerintah.
Ia membina 19 Subak Abian, 121 kelompok tani, dan 6 KWT yang semuanya telah terdaftar resmi di SIMLUHTAN.
“Penyuluh bukan cuma datang membawa data dan program. Kadang, yang petani butuh hanyalah teman bicara yang mau mendengar keluh kesah mereka,” Laksmi, saat ditemui di tengah ladang jagung Tianyar Barat.
“Petani di sini luar biasa tangguh. Kalau saya menyerah pada jarak, berarti saya tak pantas disebut penyuluh,” ucapnya sambil tersenyum, matanya menatap hamparan kebun jagung yang mulai hijau.
Tahun 2025 menjadi titik istimewa bagi perjalanan kariernya. Laksmi dinobatkan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan Kabupaten Karangasem dan meraih penghargaan Citta Pangripta Prakerthi Nugraha berkat inovasinya. Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Air untuk Peningkatan Produksi Jagung di Lahan Kering. Gagasan yang lahir dari kerja nyata di lapangan, bukan sekadar konsep di atas kertas dan teori.
Bagi Laksmi, penyuluhan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa. Ia percaya, perubahan di sektor pertanian lahir dari sentuhan hati dan ketekunan mendampingi petani. Di antara kerasnya medan, panasnya lahan, dan panjangnya perjalanan, semangatnya tetap menyala membangun pertanian tangguh yang tak lekang oleh musim.
Suara Hati Penyuluh
Bagi Laksmi, setiap langkah di jalan berdebu menuju Tianyar bukan sekadar rutinitas kerja. Di balik helm dan jaket lapangan, tersimpan ketulusan seorang perempuan yang percaya bahwa pertanian bukan hanya urusan hasil panen, tapi juga tentang kehidupan dan harapan.
“Penyuluh itu harus hadir, meskipun hujan, panas, atau jarak jauh. Kadang petani cuma butuh teman bicara, bukan hanya teori,” tutur Laksmi lirih, menatap jauh ke arah hamparan lahan kering yang mulai menghijau.
Ia mengaku, tak mudah menjaga semangat di tengah berbagai keterbatasan. Namun, setiap kali melihat senyum petani saat panen berhasil, semua lelah seakan sirna. “Itu kebahagiaan paling sederhana tapi paling bermakna,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kini, di balik penghargaan dan prestasi yang diraihnya, Laksmi tetap menapaki hari dengan langkah yang sama menelusuri jalan panjang menuju ladang, menebar semangat dan ilmu, serta menanam optimisme di hati para petani.
Baginya, tugas penyuluh tak pernah selesai. Karena selama masih ada tanah yang perlu digarap dan petani yang membutuhkan pendampingan, di sanalah penyuluh sejati harus tetap berdiri. (jikwid)
What's Your Reaction?
Like
12
Dislike
0
Love
4
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
2