Hasil 6,5 Ton/Ha, Losses Jadi Sorotan

Varietas padi Inpari 32 masih bertahan di sawah petani Subak Kana, Desa Pejeng, Tampaksiring, dengan hasil ubinan mencapai sekitar 6,5 ton gabah kering panen per hektare.

Mar 14, 2026 - 06:09
 0  41
Hasil 6,5 Ton/Ha, Losses Jadi Sorotan

Hasil 6,5 Ton/Ha, Losses Jadi Sorotan

Meski banyak varietas padi baru bermunculan, Inpari 2 ternyata masih menjadi pilihan petani di Subak Kana, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring. Varietas ini dianggap cukup stabil dan sudah teruji di lahan sawah setempat.

Hal itu terlihat dalam kegiatan ubinan yang dilakukan pada Jumat (13/3) di lahan milik petani I Wayan Kana seluas 24 are. Dari hasil pengukuran tersebut diperoleh produktivitas sekitar 6,5 ton per hektare atau setara 65 kuintal gabah kering panen (GKP).

Namun hasil tersebut dinilai belum sepenuhnya menggembirakan. Di lapangan masih ditemukan beberapa kendala yang memengaruhi produksi, mulai dari serangan hama dan penyakit tanaman hingga potensi kehilangan hasil pada tahap pasca panen.

Kegiatan ubinan tersebut dipimpin langsung oleh Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Tampaksiring, I Nengah Surata Adnyana, S.P., bersama jajaran penyuluh pertanian setempat. Turut hadir pula penyuluh dari tingkat provinsi yang membina wilayah Kabupaten Gianyar.

Menurut Surata, selain untuk mengetahui produktivitas tanaman, kegiatan ubinan juga menjadi momentum evaluasi terhadap berbagai faktor yang memengaruhi hasil produksi di tingkat petani.

“Sering kali perhatian kita hanya tertuju pada budidaya di lahan. Padahal kehilangan hasil setelah panen juga cukup besar jika tidak ditangani dengan baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, potensi kehilangan hasil (losses) dapat terjadi pada beberapa tahapan, mulai dari proses pemanenan, pengumpulan, perontokan, pengeringan hingga penggilingan. Titik kritis kehilangan hasil biasanya terjadi saat pemotongan, pengumpulan dan perontokan.

“Jika tahapan ini tidak dilakukan dengan baik, potensi kehilangan hasil bisa cukup tinggi,” jelasnya.

Karena itu, ke depan penyuluh pertanian lapangan (PPL) akan terus mengawal proses pasca panen agar berjalan lebih baik sehingga potensi kehilangan hasil dapat ditekan.

Sementara itu, I Gusti Ayu Putu Mariani, S.TP. sebagai penyuluh pertanian wilayah binaan Kabupaten Gianyar menambahkan bahwa kualitas dan kuantitas gabah sangat dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan tanaman sejak awal.

Menurutnya, pengamatan terhadap hama dan penyakit tanaman harus dilakukan sedini mungkin, baik pada fase vegetatif maupun generatif.

“Pengendalian sebaiknya dilakukan dengan mengedepankan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) serta melibatkan pengamat hama penyakit di wilayah,” ujarnya.

Selain itu, petani juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap perubahan iklim yang semakin tidak menentu, karena kondisi tersebut dapat memicu perkembangan organisme pengganggu tanaman.

Sementara itu, I Wayan Kana, pemilik lahan yang menjadi lokasi ubinan, mengaku masih memilih menanam varietas Inpari 32 karena sudah cukup dikenal dan relatif cocok dengan kondisi lahan di wilayah tersebut.

“Varietas ini sudah sering kami tanam. Pertumbuhannya cukup bagus dan hasilnya juga lumayan stabil,” ujarnya.

Dengan pengelolaan budidaya dan pasca panen yang lebih baik, diharapkan produktivitas padi di Subak Kana dapat terus meningkat sekaligus meminimalkan kehilangan hasil di tingkat petani.

Koresponden : Surata DPD Perhiptani Gianyar

Editor : JikWid

What's Your Reaction?

Like Like 4
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0