Dunia Krisis, Indonesia Dikejar Pembeli Pupuk

Krisis geopolitik di Timur Tengah mengguncang rantai pasok pupuk dunia. Di tengah kelangkaan itu, Indonesia justru diburu banyak negara yang siap membayar mahal demi mengamankan pasokan.

Apr 1, 2026 - 22:03
 0  14
Dunia Krisis, Indonesia Dikejar Pembeli Pupuk

Dunia Krisis, Indonesia Dikejar Pembeli Pupuk

Krisis geopolitik di Timur Tengah justru membawa “durian runtuh” bagi Indonesia. Sejumlah negara kini berburu pupuk dari Tanah Air.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan, lonjakan permintaan itu dipicu terganggunya suplai global, terutama urea.

“Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar,” tegasnya usai membuka Konferensi Pupuk Asia 2026 di Nusa Dua, Rabu.

Setidaknya enam negara sudah mengantre. Di antaranya India, Brasil, Australia, hingga Filipina.

Biang keroknya, konflik di Timur Tengah. Jalur vital Selat Hormuz yang dilalui sekitar 30 persen distribusi pupuk dunia ikut tersendat. Dampaknya langsung terasa di pasar global.

Harga urea melonjak tajam. Berdasarkan data Trading Economics per 1 April 2026 pukul 13.00 WITA, harga menembus USD 690 per ton. Padahal awal tahun masih di kisaran USD 350–380 per ton.

Lonjakan ini membuka peluang besar bagi Indonesia. Sudaryono memastikan, kebutuhan dalam negeri tetap aman.

“Saat krisis, untuk urusan pupuk kita aman. Kebutuhan urea dalam negeri bisa kami penuhi,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia berpeluang tampil sebagai penyeimbang pasokan pupuk dunia.

Saat ini, kapasitas produksi nasional mencapai 14,5–15 juta ton per tahun. Salah satu pemain utamanya adalah PT Pupuk Indonesia.

Direktur Utama Rahmad Pribadi mengungkapkan, pihaknya rutin mengekspor 1,5–2 juta ton pupuk setiap tahun.

Produksi urea sendiri mencapai 9,4 juta ton. Sementara kebutuhan domestik sekitar 7 juta ton. Artinya, masih ada ruang besar untuk ekspor.

Tak hanya urea, perusahaan juga memproduksi pupuk NPK sekitar 4,6 juta ton per tahun serta pupuk lainnya sekitar 0,8 juta ton.

Pasar ekspornya pun luas, mulai dari Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, hingga kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika.

Di tengah krisis global, Indonesia justru tampil sebagai pemain kunci. Saat negara lain kekurangan, Indonesia malah jadi incaran.

Di sela agenda yang padat, Wamentan juga menyempatkan berdialog singkat dengan Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali Dr. drh. I Made Rai Yasa, MP. bersama Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Pengelolaan Penyuluhan Pertanian Provinsi Bali I Ketut Arya Sudiadnyana, S.P., M.Agb. Pertemuan tersebut membahas penguatan peran penyuluhan dan kesiapan sektor pertanian Bali dalam mendukung ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global.(JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0