I Gusti Ayu Putu Mariani: Perjalanan yang Tak Pernah Jauh dari Petani
Dari ruang kelas hingga pematang sawah, I Gusti Ayu Putu Mariani menapaki jalan panjang pengabdian menyatukan data, kebijakan, dan kehangatan pendampingan bagi petani di Gianyar.
I Gusti Ayu Putu Mariani:
Perjalanan yang Tak Pernah Jauh dari Petani
Pagi di ruang kerja Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Bali berjalan seperti biasa tenang, namun tak pernah benar-benar sunyi. Di balik meja kerjanya, I Gusti Ayu Putu Mariani, S.TP. tampak santai, seolah menyatu dengan ritme hari yang bergerak perlahan.
Sesekali ia menatap layar, lalu jemarinya lincah membalas pesan yang datang silih berganti. Di sela itu, senyum tipis tak pernah lepas ringan, tapi hangat.
Dari luar, pekerjaannya mungkin tampak sekadar administratif, rapi, teratur, penuh angka. Namun begitu diajak berbincang, kisahnya mengalir tanpa sekat. Dari masa sebagai mahasiswi di Universitas Udayana, ruang-ruang kelas tempat ia mengajar, hingga jalan berliku di Plaga semuanya seperti satu garis yang saling terhubung.
“Ya, jalannya memang nggak lurus,” katanya santai. “Tapi justru di situ serunya.”
Obrolan pagi itu pun terasa hangat, bukan sekadar tentang pekerjaan, tapi tentang perjalanan panjang yang membawanya tetap setia di dunia pertanian.
Obrolan pagi itu seperti membuka satu per satu lembar perjalanan hidupnya.
Mariani lalu bersandar sejenak, seolah mengingat kembali titik-titik penting yang pernah ia lalui. Ia bercerita, selepas lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana tahun 2003, jalannya tak langsung menuju dunia penyuluhan seperti sekarang.
“Saya sempat kerja di swasta dulu,” ujarnya. “Waktu itu ya, seperti kebanyakan lulusan baru, cari pengalaman dulu.”
Namun rupanya, ada dorongan lain yang terus menguat. Keinginan untuk berbagi ilmu perlahan menariknya mendekat ke dunia pendidikan. Hingga akhirnya, pada 2006, ia mengambil keputusan penting. Mengikuti pendidikan untuk mendapatkan sertifikat guru.
Ia tersenyum mengingat momen itu.
“Kalau mau mengajar kan harus punya ‘SIM’-nya dulu,” katanya, ringan. “Biar resmi, dan memang siap berdiri di depan kelas.”
Ia diterima sebagai CPNS dan ditempatkan di SMK Pertanian Plaga, Badung. Di sinilah cerita pengabdian itu benar-benar diuji, bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang ketahanan, komitmen, dan kesediaan untuk terus melangkah di tengah keterbatasan. Lingkungan baru, tantangan baru, tapi juga menghadirkan kepuasan yang berbeda.
“Ngajar itu capek, tapi menyenangkan. Apalagi kalau lihat anak-anak mulai paham,” tuturnya, sambil tersenyum mengingat masa itu.
Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan sekitar 50 kilometer. Jalanan menanjak, berliku, dan sering berkabut menjadi teman rutinnya.
“Awalnya ya berat,” akunya jujur. “Berangkat pagi sekali, pulang sudah sore. Tapi lama-lama jadi biasa.”
Yang membuatnya bertahan bukan sekadar tanggung jawab, tapi kedekatannya dengan para siswa.
“Banyak dari mereka anak petani. Saya selalu bilang, jangan pernah minder. Bertani itu pekerjaan mulia,” katanya.
Ia tidak hanya mengajar, tapi juga membangun rasa percaya diri. Bahkan setelah tak lagi mengajar di sana, hubungan itu tetap terjaga.
“Kadang mereka masih datang ke rumah. Cuma mau cerita saja,” ujarnya, tersenyum.
Perjalanan kariernya kemudian kembali berbelok. Tahun 2017, ia bergabung dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali meninggalkan dunia pendidikan yang telah lama akrab, menuju ranah yang lebih teknis. Mengurusi pupuk dan sarana produksi pertanian.
“Awalnya memang harus banyak menyesuaikan,” ujarnya. “Karena ini lebih ke sistem, data, dan kebijakan.”
Ketelitiannya terasah di sana. Ia menangani dinamika distribusi pupuk, termasuk sistem e-RDKK yang menjadi dasar pengajuan kebutuhan petani.
“Semua berawal dari data. Kalau datanya tidak tepat, dampaknya ke mana-mana.”
Pengalamannya membuat ia dipercaya memegang sejumlah posisi strategis mulai dari Kepala Seksi Pupuk, Pestisida, dan Alsintan pada akhir 2020, Sub Koordinator di 2022, hingga Ketua Kelompok Kerja (Pokja) pada 2023 dalam jabatan fungsional penyuluh pertanian.
“Biasanya kalau ada persoalan pupuk, teman-teman langsung koordinasi,” ujarnya.
Kini, wilayah kerjanya berada di Gianyar. Ia lebih sering berada di tengah petani, mendampingi, berdiskusi, sekaligus menjembatani berbagai program pemerintah.
“Jadi nyambung semua. Apa yang dulu dikerjakan di belakang meja, sekarang ketemu langsung dengan kondisi di lapangan,” katanya.
Baginya, setiap fase dalam perjalanan karier bukanlah kebetulan. Semua saling terhubung, membentuk cara pandangnya hari ini.
Kini, seiring perubahan kebijakan, status penyuluh pertanian secara nasional berada di bawah koordinasi Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Namun bagi Mariani, perubahan itu bukan sekadar urusan administrasi.
“Justru ini kesempatan untuk berkontribusi lebih luas bagi pertanian,” ungkapnya, mantap.
Sebagai sosok berzodiak Aries, energinya seolah tak pernah benar-benar surut. Dari ruang kerja hingga pematang sawah, ia menjaga ritme pengabdian itu tetap hidup mendampingi petani, berbagi pengetahuan, sekaligus menyalakan harapan.
Obrolan pagi itu pun berakhir tanpa benar-benar terasa selesai. Ada jeda, tapi bukan akhir.
Sebab bagi Mariani, pengabdian bukanlah kisah yang berhenti pada satu titik. Ia terus berjalan, mengikuti musim, menyatu dengan denyut kehidupan petani tempat di mana langkahnya selalu menemukan arah untuk kembali.
Hari ini, tepat di hari ulang tahunnya, doa itu mengalir sederhana. Semoga setiap langkahnya senantiasa dilimpahi kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Dan seperti yang selama ini ia jalani, ia terus menjadi cahaya kecil yang tak pernah padam menerangi jalan petani, sekaligus menghangatkan harapan bagi siapa pun yang percaya bahwa pertanian adalah masa depan. (Jikwid)
What's Your Reaction?
Like
3
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0