Agus Ardika, S.P.: “Dua Telepon, Agus Tetap Gas”
Teleponnya berdering hampir bersamaan. Satu kabar tentang tikus yang mengganas di sawah. Satu lagi soal workshop carbon credit. Agus Ardika tak memilih. Ia bergerak untuk keduanya.
Agus Ardika, S.P.:
“Dua Telepon, Agus Tetap Gas”
Di bawah terik matahari sawah Selemadeg Timur, sosoknya mudah dikenali. Tegap, percaya diri, dan tutur katanya mantap. Agus Ardika, S.P., Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selemadeg Timur, Tabanan, bukan tipe penyuluh yang hanya fasih di atas kertas. Ia terbiasa hadir di pematang, bukan sekadar di ruang rapat.
Siang itu, teleponnya berdering bertubi-tubi.
Laporan pertama datang dari petani. Subak Aseman III dan Subak Gebang Gading Bawah diserang tikus. Padi yang mulai berisi terancam rusak. Agus baru saja menuntaskan koordinasi dengan pekaseh. Informasinya tak ringan tikus kian mengganas, serangan mulai meluas. Jika tak cepat dikendalikan, kerugian bisa berlipat hanya dalam hitungan malam.
Belum selesai satu urusan, panggilan lain menyusul. Sekretaris Kapoksi Bali, Ratna Dewi, mengabarkan rencana kunjungan Ketua Tim Kerja Pengelolaan Kerja Sama Penyelenggaraan Penyuluhan BPPSDMP, Aldilani, S.Si., M.P., bersama rombongan. Agendanya penjajakan Workshop Carbon Credit Methodology for Biochar di Desa Gadungan.
“Pusing juga,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Ia tak sekadar bergurau. Di satu sisi, serangan hama tak bisa ditunda. Di sisi lain, peluang inovasi berbasis carbon credit adalah pintu masa depan pertanian. Dua persoalan berbeda, dua skala tantangan berbeda namun sama-sama mendesak.
Dan bagi Agus, keduanya harus dijalankan.
Lahir dan besar di Banjar Mekarsari Carik Kauh, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Agus ditempa oleh dinamika desa sejak kecil. Ia merupakan lulusan Fakultas Pertanian Jurusan Tanah Universitas Udayana tahun 1999. Baginya, tanah adalah fondasi. “Kalau tanahnya sehat, tanaman ikut kuat,” prinsip yang hingga kini ia pegang.
Namun jalan hidupnya tak langsung mulus menjadi aparatur sipil negara. Sebelum resmi menyandang status PNS pada 2011, ia merasakan jatuh bangun sebagai pelaku usaha kecil beternak indukan babi dan berjualan. Ia paham betul bagaimana menghitung biaya pakan, menghadapi fluktuasi harga, hingga menekan risiko rugi. Pengalaman itu membentuk mentalnya: pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga keberlanjutan ekonomi keluarga.
Saat diangkat menjadi penyuluh pertanian pada 2011, Desa Tangguntiti menjadi penempatan pertamanya. Ia kemudian bertugas di Desa Tegalmengkeb, dan hingga kini turut membina Desa Beraban. Tiga desa menjadi wilayah binaannya—tiga karakter petani, tiga dinamika persoalan, dan tak jarang, tiga tantangan datang bersamaan.
Sebagai Koordinator BPP Selemadeg Timur, Agus dikenal karismatik. Zodiak Leo yang ia sandang seolah tercermin dalam gaya kepemimpinannya: percaya diri, tegas, dan sigap mengambil keputusan. Namun di balik itu, ia tetap membumi. Ia lebih senang duduk lesehan di balai subak, berdiskusi langsung dengan petani, ketimbang memberi arahan dari balik meja.
Bagi Agus, penyuluh adalah jembatan antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Dari persoalan klasik seperti serangan tikus, hingga isu global seperti biochar dan carbon credit, semua harus diterjemahkan agar dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh petani.
“Petani harus untung, bukan hanya panen,” tegasnya.
Di tengah tantangan regenerasi petani dan alih fungsi lahan, Agus memilih tetap optimistis. Ia percaya, selama penyuluh hadir dan mau menyatu dengan petani, sektor pertanian akan tetap berdiri kokoh.
Dari kandang babi kecil yang pernah ia kelola, hingga kini memimpin koordinasi penyuluhan di Selemadeg Timur, perjalanan Agus Ardika adalah kisah tentang konsistensi. Tentang bagaimana dua telepon bisa datang bersamaan dan ia tetap memilih tancap gas.(Ratna/JikWid/Suryadi)
What's Your Reaction?
Like
5
Dislike
0
Love
2
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0