Penyuluh Kawal Durian Banjar Masuk Klaster HDDAP

Panen durian di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, menunjukkan hasil menggembirakan. Melihat potensi tersebut, penyuluh pertanian mengajak petani memperkuat pemasaran melalui skema klaster HDDAP agar nilai jual semakin optimal.

Apr 12, 2026 - 05:59
Apr 12, 2026 - 06:49
 0  133
Penyuluh Kawal Durian Banjar Masuk Klaster HDDAP

Penyuluh Kawal Durian Banjar Masuk Klaster HDDP

Panen durian di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, menunjukkan hasil menggembirakan. Produksi melimpah dengan ukuran buah yang dominan jumbo, bahkan tembus di atas 7 kilogram per butir, bergelantungan di pohon. Menjadi potensi besar peningkatan pendapatan petani.

Melihat peluang ini, penyuluh pertanian mendorong petani untuk memperkuat sistem pemasaran melalui pendekatan klaster HDDAP agar nilai jual durian semakin optimal. pendekatan klaster melalui program HDDAP sebagai jalan keluar memperbaiki tata niaga dan posisi tawar petani.

Di lapangan, petani masih bergantung pada pengepul yang membeli dengan sistem borongan, baik per buah maupun pajeg per pohon. Praktis, tapi berisiko menekan harga. Durian dengan kualitas unggul kerap disamaratakan dengan buah biasa. Petani pun memilih jalan ama, cepat terjual meski nilai tak maksimal. Kondisi ini menunjukkan persoalan utama bukan pada produksi, melainkan lemahnya akses pasar dan belum terbangunnya sistem pemasaran yang berpihak pada petani.

Penyuluh pertanian melihat kondisi ini sebagai peluang untuk meningkatkan kapasitas petani, khususnya dalam hal penanganan pascapanen dan pemasaran. Melalui pendampingan berkelanjutan, petani didorong mulai menerapkan sortasi dan grading agar durian berkualitas premium memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Selain itu, pendekatan klaster melalui program Horticulture Development of Drayland Areas Project (HDDAP) menjadi strategi penting. Dengan bergabung dalam klaster, petani dapat memperkuat kelembagaan, memperluas akses pasar, serta meningkatkan posisi tawar secara kolektif.

“Dengan sistem klaster, petani tidak lagi berjalan sendiri. Ada penguatan dari hulu hingga hilir, termasuk akses pasar yang lebih luas dan harga yang lebih kompetitif,” ujar Shinta penyuluh setempat.

Langkah ini diharapkan mampu mengubah pola pemasaran dari sekadar menjual cepat menjadi menjual dengan nilai tambah.

Salah satu petani durian mengakui selama ini masih mengandalkan pengepul karena dinilai lebih praktis.

“Kalau dijual sendiri memang bisa lebih mahal, tapi butuh waktu dan tenaga. Selama ini kami pilih yang cepat laku. Ke depan, kalau ada pendampingan dan akses pasar yang lebih jelas, kami siap ikut arahan penyuluh,” ujarnya.

Dengan pendampingan yang tepat, potensi durian Banjar tidak hanya terlihat dari jumlah produksi, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan petani. Melalui sinergi penyuluh dan petani, serta dukungan program HDDAP, durian Banjar diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas dengan nilai jual yang lebih menguntungkan. (JikWid/Shinta)

What's Your Reaction?

Like Like 8
Dislike Dislike 0
Love Love 3
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0