Kian Kompak, Intaran Adu Gengsi Panen

Panen di Subak Intaran Timur dan Barat kini tak lagi sekadar rutinitas. Petani menjadikannya ajang adu gengsi, sekaligus pembuktian hasil kerja keras di sawah. Petani dengan produktivitas tertinggi akan diganjar penghargaan, bahkan disertai bonus.

Apr 23, 2026 - 03:41
Apr 23, 2026 - 06:13
 0  60
Kian Kompak, Intaran Adu Gengsi Panen

Kian Kompak, Intaran Adu Gengsi Panen

Panen tak lagi menjalankan rutinitas bagi krama Subak Intaran Timur dan Subak Intaran Barat. Di tengah tantangan pertanian yang tak ringan, mulai dari cuaca ekstrem hingga ancaman gagal panen, petani justru mengubah momentum panen menjadi ajang adu prestasi.

Dua subak di wilayah kerja BPP Denpasar Selatan ini kini tampil semakin kompak. Tak hanya dalam pengelolaan lahan, namun juga dalam membangun semangat kompetisi yang sehat antarpetani.

Kekompakan itu tak lahir begitu saja. Peran penyuluh pertanian yang intens mendampingi petani menjadi faktor kunci. Pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh sisi kebersamaan, berhasil memperkuat solidaritas di tingkat subak.

Muhammad David Hermawan, SP, selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah Sanur Kaja, Sanur, dan Sanur Kauh, menjadi motor penggerak dalam kegiatan ubinan sekaligus pendampingan budidaya di lapangan. Peran aktifnya dalam mendampingi petani mulai menunjukkan hasil nyata.

Pada musim panen kali ini, Subak Intaran Timur dan Subak Intaran Barat sepakat menggelar lomba hasil panen. Petani dengan produktivitas tertinggi akan diganjar penghargaan, bahkan disertai bonus bagi peraih juara satu, dua, dan tiga.

Pekaseh Subak Intaran Barat, Wayan Danu, menegaskan bahwa lomba ini bukan sekedar kompetisi, melainkan strategi untuk memacu semangat petani.

“Ini untuk memotivasi petani agar terus meningkatkan hasil. Dengan adanya lomba, petani jadi lebih serius menerapkan anjuran budidaya,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Subak Antaran Barat memiliki 97 petani dengan luas lahan sekitar 80 hektar. Sementara Subak Intaran Timur mempekerjakan 17 petani yang menggarap lahan sekitar 10 hektar.

Meski skalanya berbeda, kedua subak justru saling menguatkan. Lomba panen menjadi ruang belajar bersama petani bertukar pengalaman, membandingkan teknik, hingga mengeluarkan hasil di lapangan.

Pekaseh Subak Intaran Timur, Ketut Subamia, menambahkan bahwa semangat kebersamaan menjadi kunci utama keberhasilan petani saat ini.

“Sekarang petani tidak jalan sendiri-sendiri. Kita saling mendukung, saling belajar,” katanya.

Koordinator BPP Denpasar Selatan, Ni Nyoman Ayu Trisna Kartika, SP. Menilai kekompakan ini merupakan buah dari proses pendampingan yang berkelanjutan.

“Penyuluh hadir bukan sekedar memberikan teknologi, tapi juga menggalang semangat kolektif. Ketika petani kompak, maka mengadopsi inovasi jadi lebih cepat,” jelasnya.

Di tengah dinamika pertanian yang penuh tantangan, kekompakan menjadi modal utama. Subak Antaran Timur dan Barat membuktikan, ketika petani bersatu dan didampingi dengan baik, produktivitas bukan lagi sekedar target melainkan prestasi yang bisa diraih bersama.

Panen pun kini bukan hanya soal hasil, tapi juga soal gengsi dan kebanggaan. (JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0