Jatuh di Denpasar, Terbang ke Australia

Di usia 23 tahun, Gede Nien Ari Cahyadi sudah mencicipi dua ujung cerita, bangkrut dan menembus pasar internasional. Usahanya sempat tumbang di Denpasar. Tapi dari titik itu, ia bangkit membangun kembali Nien Moyang Kopi hingga kini merambah pasar Australia.

Apr 22, 2026 - 00:06
 0  52
Jatuh di Denpasar, Terbang ke Australia

Jatuh di Denpasar, Terbang ke Australia

Usaha sempat bangkrut, kini kopi racikan anak muda Buleleng menembus pasar global sekaligus berbagi ilmu di desa

Di usia 23 tahun, Gede Nien Ari Cahyadi sudah mencicipi dua ujung cerita. Bangkrut dan menembus pasar internasional. Usahanya sempat tumbang di Denpasar. Tapi dari titik itu, ia bangkit membangun kembali Nien Moyang Kopi hingga kini merambah pasar Australia.

Berangkat dari Desa Kayuputih, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Nien menapaki jalan yang tidak biasa. Ia bukan hanya pelaku usaha kopi, tetapi juga supervisor di salah satu kafe di Singaraja, sekaligus dosen di kampus swasta. Rutinitasnya padat, nyaris tanpa jeda. Namun di situlah ia mengasah diri menyatukan teori, pengalaman, dan intuisi bisnis.

Nama “Moyang” yang ia pilih bukan sekadar label. Ada jejak keluarga di sana. Ilmu pengolahan kopi yang ia tekuni hari ini merupakan warisan dari sang kakek. Dari tangan itulah, ia belajar bahwa kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita.

“Dari dulu saya diajarkan, kopi itu bukan sekadar diminum, tapi dirasakan prosesnya,” ujar Nien.

Perjalanan itu tak selalu mulus. Ia pernah membuka kedai kecil di Denpasar. Modal nekat, semangat besar. Namun realita berkata lain usahanya harus tutup. Bangkrut. Titik yang bagi banyak orang menjadi akhir.

Nien memilih jalan berbeda.

Ia mundur, pulang ke Singaraja, melanjutkan kuliah, sekaligus membangun ulang usahanya dari nol. Di fase itulah ia memperdalam banyak hal mulai dari kualitas biji, teknik roasting, hingga strategi pemasaran.

“Gagal itu pasti. Tapi dari situ saya jadi lebih paham harus mulai dari mana lagi,” katanya.

Pelan tapi pasti, usahanya kembali hidup. Kini Nien Moyang Kopi memproduksi robusta Rp140 ribu per kilogram, arabika Rp220 ribu per kilogram, serta varian blend di kisaran Rp180–210 ribu per kilogram. Produksi memang masih terbatas, sekitar 20–25 kilogram per bulan, tetapi pasarnya terus meluas dari Lovina, wilayah Buleleng, hingga Denpasar.

Langkahnya bahkan mulai menembus pasar global. Nien tengah menjalin kerja sama dengan Te Wa untuk pengiriman bubuk kopi ke Australia. Sebuah capaian yang tidak datang instan, melainkan hasil dari proses panjang.

Tak berhenti di situ, ia juga terus berinovasi. Produk arak kopi menjadi gebrakan terbaru, memadukan kearifan lokal dengan sentuhan modern. Dibanderol Rp70 ribu per 250 mililiter, produk ini mulai menarik perhatian pasar.

Namun, bagi Nien, usaha bukan satu-satunya tujuan.

Bersama sang ayah, ia mendirikan Yayasan Taman Bacaan Saraswati di desanya. Di tempat itu, anak-anak kurang mampu belajar secara gratis mulai dari bahasa Bali, bahasa Inggris, hingga pengolahan kopi.

“Kalau kita punya ilmu, ya harus dibagikan. Supaya lebih banyak yang bisa berkembang,” ujarnya.

Dari kegagalan di Denpasar hingga membuka jalan ke pasar internasional, kisah Nien menjadi bukti: jatuh bukanlah akhir. Kadang, itu hanya cara hidup mengajarkan seseorang untuk melangkah lebih jauh dan menyeduh mimpi dengan rasa yang lebih matang. (DND/JikWid)

What's Your Reaction?

Like Like 5
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0