Penyuluh Jadi Mentor, Mahasiswa UGM Belajar Langsung di Kebun Kopi
Kebun kopi di Desa Gobleg tak sekadar menjadi tempat berproduksi, tetapi juga ruang belajar. Di sana, penyuluh pertanian berperan sebagai mentor yang membimbing mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) memahami praktik penyuluhan sekaligus budidaya kopi berkelanjutan bersama petani.
Penyuluh Jadi Mentor, Mahasiswa UGM Belajar Langsung di Kebun Kopi
Buleleng – Penyuluh pertanian kembali menunjukkan perannya sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. Tak hanya mendampingi petani, penyuluh juga menjadi mentor bagi generasi muda. Hal itu terlihat saat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Gobleg bersama tim PPL Kecamatan Banjar membimbing mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang belajar langsung di sentra kopi Desa Gobleg, Rabu (8/7).
Sebanyak 27 mahasiswa KKN-PPM UGM yang terbagi di Desa Gobleg dan Desa Munduk mengikuti pembelajaran lapangan pada klaster agro. Kegiatan dipusatkan di Kelompok Tani Gobleg Bali Coffee sebagai wahana bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika penyuluhan pertanian dan praktik budidaya kopi yang telah diterapkan petani.
PPL Wilayah Binaan Desa Gobleg, Gede Wahyu Dhiyana M., S.P., mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori di ruang kuliah, tetapi juga memahami bagaimana penyuluh membangun komunikasi, mengidentifikasi persoalan petani, hingga menyampaikan inovasi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
"Mahasiswa belajar menjadi penyuluh di lapangan. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga belajar mendengar kebutuhan petani, berdiskusi, dan mencari solusi bersama. Di sinilah peran penyuluh sebagai mentor sekaligus penghubung antara ilmu pengetahuan dan praktik usaha tani," ujarnya.
Rina Catur Widiyaningrum, mahasiswa Teknik Pertanian Biosistem UGM, mengaku pengalaman belajar bersama penyuluh dan petani memberikan pemahaman yang tidak diperoleh di ruang kuliah.
"Belajar bersama penyuluh membuka perspektif kami bahwa menjadi pendamping petani tidak cukup hanya menguasai teknologi. Kami juga harus memahami kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan petani agar inovasi yang dibawa benar-benar bisa diterapkan. Pengalaman ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi kami," kata Erina
Melalui pembimbingan penyuluh, materi yang disampaikan mahasiswa disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan petani sehingga lebih mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan. Pendekatan tersebut juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami tantangan nyata pembangunan pertanian.
Tiga materi utama menjadi fokus penyuluhan. Pertama, penerapan sistem agroforestry sebagai strategi membangun kebun kopi yang produktif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Petani diajak memahami bahwa tanaman penaung tidak hanya berfungsi melindungi tanaman kopi, tetapi juga meningkatkan keseimbangan ekosistem kebun.
Materi kedua membahas pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Penyuluh bersama mahasiswa mengedukasi petani pentingnya pengamatan rutin sehingga gejala awal serangan hama dan penyakit dapat dikenali lebih cepat. Dengan deteksi dini, pengendalian menjadi lebih efektif, efisien, dan mampu menekan potensi kehilangan hasil.
Sementara itu, materi ketiga mengangkat pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik. Limbah yang selama ini kerap dibuang didorong untuk diolah menjadi kompos sehingga mampu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus menekan biaya produksi.
Kolaborasi penyuluh dan mahasiswa UGM ini tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan. Sebagai tindak lanjut, tim akan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya kopi berbasis agroforestry, panduan pemanfaatan limbah kulit kopi, serta pedoman identifikasi dini Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Dokumen tersebut diharapkan menjadi acuan teknis bagi petani dalam mengembangkan usaha tani kopi yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.
Sinergi antara penyuluh, petani, dan perguruan tinggi ini menjadi bukti bahwa pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Penyuluh hadir sebagai mentor yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik di lapangan, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman nyata yang kelak menjadi bekal saat terjun mendampingi masyarakat. Dari kebun kopi Desa Gobleg, lahir pembelajaran yang tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga memperkuat fondasi pertanian berkelanjutan.
Koresponden: Gede Wahyu Dhiyana M. S.P. ( BPP Banjar Kabupaten Buleleng)
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
4
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
1