Kompos Plus, Teknologi Rakyat yang Bikin Petani Mandiri
Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia perlahan mulai dikurangi. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tematik Pembuatan Kompos Plus, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar mengajak petani memanfaatkan bahan organik lokal menjadi pupuk berkualitas sebagai langkah nyata mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan, sehat, sekaligus hemat biaya produksi.
Kompos Plus, Teknologi Rakyat yang Bikin Petani Mandiri
GIANYAR – Kompos Plus bukan sekadar pupuk organik. Teknologi sederhana berbasis bahan organik lokal ini kini didorong menjadi solusi nyata bagi petani untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tematik Pembuatan Kompos Plus, Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar mengajak petani memproduksi pupuk organik secara mandiri sebagai bagian dari percepatan penerapan pertanian ramah lingkungan.
Pelatihan yang digelar di Banjar Pagutan Kaja, Subak Penangin, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Jumat (10/7), merupakan inisiatif Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar yang berkolaborasi dengan Katimker Penyuluhan Kabupaten Gianyar serta melibatkan jajaran penyuluh pertanian di seluruh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Kolaborasi tersebut menjadi strategi memperkuat kapasitas petani dalam memanfaatkan sumber daya lokal menjadi pupuk organik berkualitas, sekaligus mempercepat penerapan pertanian ramah lingkungan di tingkat usaha tani.
Kegiatan dihadiri Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar I Wayan Suarta, S.Sn., M.Si., Plt. Kepala Bidang Penyuluhan I Gusti Ayu Dwi Sugitarina Oka, S.TP., M.Agb., Katim Kerja Penyuluhan I Made Geben, SP., jajaran penyuluh pertanian, serta 20 peserta yang terdiri atas pekaseh dan pengurus subak se-Kecamatan Gianyar.
Dalam sambutannya, Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar I Wayan Suarta, S.Sn., M.Si., menegaskan bahwa Kompos Plus merupakan inovasi yang lahir dari potensi lokal dan dapat menjadi solusi bagi petani dalam menghadapi tantangan budidaya yang semakin dinamis.
"Kompos Plus bukan sekadar pupuk. Ini adalah teknologi rakyat yang murah, mudah diterapkan, tetapi mampu memberikan dampak besar bagi keberlanjutan pertanian. Kami ingin petani Gianyar semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pupuk, menekan biaya produksi, sekaligus menjaga kesehatan tanah agar produktivitas lahan tetap terjaga," tegasnya.
Materi pelatihan disampaikan oleh Koordinator BPP Blahbatuh Ni Kadek Sintya Dewi, SP., bersama dan penggiat organik kelompok tani tani petani desa Kedisan Mandiri, I Putu Yoga Wibawa. Keduanya mengupas secara komprehensif proses pembuatan Kompos Plus, mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi campuran, teknik fermentasi, pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL), hingga teknik aplikasi yang tepat untuk meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan efisiensi pemupukan.
Pembelajaran tidak berhenti pada teori. Para peserta juga mengikuti praktik langsung membuat Kompos Plus menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Dalam praktik tersebut, peserta mempelajari formulasi Kompos Plus yang terdiri atas 80 persen kompos matang, 10 persen pupuk kimia sebagai pengaya unsur hara, dan 10 persen larutan fermentor atau aktivator untuk mempercepat proses dekomposisi sekaligus meningkatkan kualitas kompos. Melalui praktik ini, petani tidak hanya memahami teknik pembuatannya, tetapi juga diyakini mampu mereplikasi teknologi tersebut secara mandiri di wilayah masing-masing sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pupuk dari luar.
Setelah praktik pembuatan Kompos Plus, peserta mendapat demonstrasi lapangan yang dipandu Putu Yoga Wibawa. Melalui metode sederhana, petani diajak mengenali kemampuan tanah menyimpan dan menyediakan unsur hara dengan memanfaatkan rangkaian arus listrik dan lampu bohlam sebagai media edukasi. Demonstrasi ini memperlihatkan bahwa kualitas campuran Kompos Plus berpengaruh terhadap daya hantar listrik larutan. Semakin baik komposisi Kompos Plus dan semakin tinggi kandungan unsur hara yang tersedia, nyala lampu akan semakin terang. Cara sederhana tersebut menjadi media pembelajaran yang menarik sehingga petani dapat memahami pentingnya meningkatkan kualitas bahan organik tanah untuk mendukung produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Berbagai pengalaman lapangan, kendala, hingga solusi pengelolaan limbah organik dibahas bersama antara narasumber, penyuluh, dan peserta. Antusiasme pekaseh dan pengurus subak menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa pemanfaatan pupuk organik menjadi salah satu kunci menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Melalui kolaborasi Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar, Katimker Penyuluhan Kabupaten Gianyar, dan para penyuluh pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian, Kompos Plus diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama di tingkat petani. Teknologi rakyat ini tidak hanya mampu menekan biaya usaha tani, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah, memperkuat kemandirian petani, serta mendukung terwujudnya pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Kabupaten Gianyar.
Katim Kerja Penyuluhan Kabupaten Gianyar, I Made Geben, SP., menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada kegiatan di ruang belajar, tetapi harus diwujudkan melalui penerapan nyata di lahan petani.
"Keberhasilan pelatihan ini akan diukur dari penerapannya di lapangan. Penyuluh siap mendampingi petani hingga Kompos Plus benar-benar menjadi kebiasaan baru dalam sistem budidaya di setiap subak. Ketika petani mampu memproduksi pupuk organik sendiri, mereka tidak hanya lebih mandiri, tetapi juga ikut menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pertanian di Gianyar," pungkasnya.
Koresponde: Ni Kadek Sintya Dewi, SP - I Made Ratna Sari
Editor: JikWid
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0